Home Daerah Omah Candu di Lasem Dikenal Sebagai Tempat Peredaran Narkoba Skala Besar

Omah Candu di Lasem Dikenal Sebagai Tempat Peredaran Narkoba Skala Besar

421
0
SHARE

SEKAT.CO, Rembang – Bangunan bersejarah yang masih melekat kental di wilayah timur Rembang (Lasem) yakni sebuah rumah yang dijuluki lawang ombo atau omah candu di Desa Dasun, Kecamatan Lasem.

Pasalnya rumah yang menurut sumber informasi atau kabar milik dari kakak beradik Tong Kay dan Tong Day yang didirikan sekitar tahun 1700an tersebut sering dijadikan gudang candu (obat terlarang) oleh keduanya di zaman belanda.

Salah satu tokoh Lasem Gandor Sugiharto Santoso menceritakan, rumah lawang ombo itu dahulunya milik warga cina yang menetap di Lasem yang bernama Tong Kay dan Tong Day.

“Mereka berdua itu setiap hari mendatangkan candu dari cina yang nantinya disimpan di rumah tersebut,” kata Gandor.

Diketahui, untuk memasok barang haram dari cina tersebut, saudara kandung kakak beradik itu memasukan barang tersebut menggunakan perahu kecil melalui sungai bagan yang tembus di bawah rumah itu.

“Mereka memasok barang haram itu ya dari kapal, langsung diangkut dengan perahu. Nah perahu itu nantinya akan ikut jalur sungai bagan. Namun jalur itu juga bisa mengarah ke terowongan yang nantinya bisa sampai di bawah rumah itu. Oleh sebab itu, di salah satu kamar rumah itu ada sebuah lubang,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, lubang itu ternyata tidak sumur. Akan tetapi lubang yang dibuat untuk menyelundupkan barang candu itu untuk dibawa ke dalam rumah. Pada zaman itu, Sungai Babagan merupakan jalur utama perdagangan dari lepas pantai Rembang. Sehingga dimanfaatkan semacam itu.

Dengan modus semacam itu, barang haram yang didatangkan dari cina tersebut langsung dipasarkan ke wilayah Pati, Kudus, Rembang, dan Cirebon.

“Barang tersebut dipasarkan ke berbagai wilayah. Baik itu Kudus, Rembang, Pati Cirebon dan lainnya,” ucapnya.

Sementara itu saat disinggung mengenai misi penjualan candu atau barang haram tersebut ke berbagai wilayah, dirinya mengutarakan bahwa saudara kandung kakak beradik yang bernama Tong Kay dan Tong Day tersebut dimanfaatkan oleh para penjajah.

“Menurut saya, mereka itu dimanfaatkan oleh penjajah yakni Belanda. Sebab penjajah atau belanda itu takut sama pribumi dan warga cina bersatu. Oleh sebab itu, mereka disuruh menjual candu ke berbagai wilayah. Sebab candu bila dikonsumsi sampai teler oleh warga cina atau pribumi, maka akan mudah di jajah oleh penjajah,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk penjualan barang haram itu sebenarnya pada zaman belanda memang sangat sulit sekali. Bahkan bila ketahuan Belanda akan bisa ditangkap.”Namun mengapa penjualan itu kok bisa aman aman saja. Mungkin saja mereka dimanfaatkan oleh orang belanda. Yakni saling diadu domba antara pribumi dengan warga cina yang sudah hidup rukun di Lasem ini dan sekitarnya,” pungkasnya. (E9).