Home Breaking News Eksotisme Tebing Kalinanas Japah Blora

Eksotisme Tebing Kalinanas Japah Blora

734
0
SHARE
Dali Ayu Sekar, seorang peserta Jelajah Blora (Eko Arifianto/ sekat.co)

Blora, sekat.co – Bila Grand Canyon adalah sebuah ngarai tebing terjal yang diukir oleh Sungai Colorado, Amerika Serikat. maka Indonesia punya yang namanya Kedung Manganan. Kedung Manganan adalah sungai berdinding alam yang dipahat selama jutaan tahun oleh aliran air Kali Nanas, yang terletak di Kecamatan Japah, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Buat para traveller yang ingin mengunjungi bisa mencoba melalui rute Alun-Alun Kab. Blora. Dari Alun-Alun Blora ke Desa Kalinanas memakan jarak tempuh sekitar 27 km menuju ke arah barat. Anda bisa menggunakan sepeda motor maupun mobil. Bila sudah sampai di Pasar Ngawen ambil ke kanan, ke arah Japah. Sesudah Pasar Japah ambil ke arah kanan menuju Desa Kalinanas. Dari lokasi parkir kita bisa menuju lokasi tersebut dengan berjalan kaki.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar, sesuai dengan penamaan tempatnya yaitu Kalinanas, konon di sepanjang tepian sungai banyak sekali pohon nanas yang tumbuh secara liar, namun pada penjelajahan kali ini tim Jejak Nusantara tidak menemukannya.

Jembatan merah peninggalan zaman Belanda

Selain eksotisme dinding Kalinanas, pengunjung juga disuguhi sensasi keindahan jembatan kuno peninggalan kolonial Belanda. Jembatan ini oleh masyarakat sekitar diberi nama Jembatan Merah, dikarenakan pada waktu masa penjajahan kolonial Belanda jembatan tersebut bercat warna merah.

Jembatan yang diperkirakan berumur 1 abad lebih tersebut, dulunya dibuat oleh Belanda yang difungsikan sebagai jalan lori untuk transportasi pengangkutan kayu dari hutan melewati ketinggian jurang dan tebing terjal.

Dari atas jembatan ini mata kita disuguhi panorama ngarai terjal, menyerupai tebing, yang dibelah oleh Sungai Nanas / Kali Nanas yang berkelok-kelok bagaikan maha karya ukiran raksasa pada suatu wilayah berbatu lempung dan padas.

Meski mata kita dimanjakan oleh exotisme keindahan alam di lokasi tersebut, hendaknya para traveller tidak melupakan unsur kehati-hatian. Mengingat usia jembatan yang sudah tua serta dinding Kedung dari batuan lempung yang terkadang masih rapuh.

Terlepas dari itu semua, tak dapat dipungkiri akan maha karya yang begitu luar biasa dari Rabb pencipta alam semesta ini, sudah sepatutnya kita sebagai manusia untuk selalu bersyukur dengan berupaya menjaga keindahan serta melestarikannya. (Eko Arifianto/TN)