Home Sejarah Dibalik Cerita Penamaan BLORA, Antara Sejarah, Fakta dan Mitos

Dibalik Cerita Penamaan BLORA, Antara Sejarah, Fakta dan Mitos

741
0
SHARE

Blora, sekat.co – Menurut cerita rakyat yang berkembang, Blora berasal dari kata “beloran” yang artinya tempat yang berlumpur. Secara etimologi ada yang mengatakan bahwa Blora berasal dari kata “wai” dan “lorah”. “Wai” berarti air dan “lorah” berarti jurang atau tanah rendah. Wailorah berarti tanah rendah berair atau tanah berlumpur. Namun berdasar pada kajian teks sejarah, hasil penelitian kami menyebutkan hipotesa bahwa Blora berasal dari kata: “Balo” dan “Rah”.

Insert : Suasana dekorasi jalan untuk Blora, dibuat pada kesempatan penerimaan Pemerintah Ratu Wilhelmina, 1898. Sumber: Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda.

Dalam bahasa Sansekerta “balo” berarti mentah, belum matang, dan “rah” berarti darah. Balorah mempunyai arti darah yang masih segar. Keyakinan ini berawal dari cerita berlabuhnya kapal Ajisaka di pantai utara—yang merupakan muara sebuah sungai di pulau Jawa— yang waktu itu masih bernama Nusa Kendeng. Dengan candra sangkala: nir-abu-tanpa-jaler, maka secara metaforis kejadian ini merujuk tahun 0001 Masehi. Dalam penelusurannya di pegunungan Kendeng ini ia menemukan tanaman Jawawut, dan untuk mengabadikannya lalu Ajisaka mengubah nama pulau dari Nusa Kendeng menjadi Nusa Jawa.

Hal yang menjadi temuan penting lainnya adalah ketika dalam perjalanannya ia menemukan dua sosok raksasa yang tewas tergeletak di tanah dengan bersimbah darah. Di tangan satu raksasa yang telah mati tersebut terdapat selembar inskripsi berbentuk huruf Jawa Purwa, sedang pada tangan raksasa lainnya menggenggam inskripsi dengan huruf berkarakter Siam atau Jawa Pegon. Ajisaka lalu menyatukan abjad-abjad tersebut hingga genap menjadi 20 aksara Jawa: Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma, Ga, Ba, Tha, Nga. Dari penggabungan inskripsi-inskripsi dua kebudayaan inilah sebutan Jawa Dwipa mulai muncul.

Insert : Peta Jawa Dwipa dari buku sejarah Kawitane Jawa Lan Wong Kanung.

Di dataran terbuka yang dimungkinkan dekat dengan sumber mata air, Ajisaka bersama rombongannya lalu membuat pemukiman hingga menjadi sebuah desa. Untuk mengenang dan menghormati kematian dua raksasa itu ia lalu memberi nama desa tersebut dengan nama BALORAH, hingga seiring perkembangan jaman sekarang disebut dengan BLORA. (Eko Arifianto/TN)