Home Breaking News Mengenal Sosok Pramoedya Ananta Toer

Mengenal Sosok Pramoedya Ananta Toer

417
0
SHARE
Insert : Pramoedya Ananta Toer

Blora, sekat.co – Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, merupakan anak tertua dari M. Toer Kepala Kekolah Institut Boedi Oetomo (sekarang letaknya di SMPN 5 Blora) ini semasa hidupnya banyak melahirkan karya brilian. Mulai dari tulisan berbentuk artikel, puisi, cerpen maupun novel, hingga melambungkan namanya sekelas dengan para sastrawan dunia seperti Gunter Grass (Jerman), Albert Camus, Jean-Paul Sartre (Prancis), Multatuli (Belanda), John Steinbeck (Amerika), Rabindranath Tagore (India), Gao Xinjian (Cina), Gabriel Garcia Marquez (Kolombia) maupun Jose Saramago (Portugis).

Sosok yang diidentikkan sebagai tokoh demokrat sejati dan pejuang penegakan hak asasi manusia ini pada tahun 2002 pernah dinobatkan sebagai “Pahlawan Asia” oleh Majalah Time Singapore. Memang beliau semasa hidupnya sangat produktif dalam menulis. Berbagai penghargaan pernah diberikan padanya, beberapa di antaranya adalah dari UNESCO, The Wertheim Foundation (Belanda), Ramon Magsaysay Award Foundation (Filipina), University of Michigan (AS), University of California (AS), Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique Francaise (Prancis), Fukuoka Cultural Grand Prize (Jepang) dan merupakan satu-satunya wakil dari Indonesia yang beberapa kali menjadi Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Seperti tulisannya, perjalanan hidupnya pun penuh liku dan kelokan terjal. Sebagian dari naskah-naskahnya banyak yang hilang di tangan penerbit, dirampas oleh Belanda, dibakar oleh Angkatan Darat dan dilarang oleh Jaksa Agung sewaktu pemerintahan Orde Baru. Bahkan, hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara dalam perjuangannya untuk kemanusiaan. Ia pernah ditahan dari penjara ke penjara –3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde lama, dan 14 tahun di Orde baru, diasingkan ke Pulau Buru, Magelang dan Semarang hingga pada tahun 1979 dinyatakan bebas tanpa proses pengadilan dan dinyatakan tidak bersalah.

Saat ini, tidak semua orang tahu, bahwa sosok kelahiran kota yang dikelilingi bukit kapur, jati dan minyak bumi ini sudah sangat mendunia. Buku-buku hasil karyanya sampai saat ini sudah diterjemahkan dalam 42 bahasa; bahkan di Malaysia, Jepang dan Belanda menjadi bacaan wajib bagi siswa sekolah.

Sosok penulis, sastrawan serta budayawan itu tutup usia pada tanggal 30 April 2006. 11 tahun sudah berlalu engkau meninggalkan dunia fana ini. Semoga karya-karyamu, cita-citamu serta semangatmu akan tetap selalu menggelora di dalam semua jiwa penerus bangsa ini. (Eko Arifianto/TN)