Home Breaking News Potret Gelap Pemkab. Blora di Hadapan Tukang Reparasi Lampu

Potret Gelap Pemkab. Blora di Hadapan Tukang Reparasi Lampu

2952
0
SHARE

Blora, sekat.co – Semburat mentari pagi menyapa salah satu sudut pasar Pon yang berada di Jl. Taman Makam Pahlawan, Karangjati Kec. Blora Kota, Kab. Blora. Banyak berlalu-lalang aktifitas masyarakat mulai dari menjajakan segala macam jenis peralatan pertanian hingga jual beli hewan ternak berbaur berkumpul jadi satu.

Begitupula dengan Ahmad Adirin (30) warga Ds. Pelem Jepon RT. 01 RW. 07 Kec. Jepon, Kab. Blora. Sembari sesekali mengusap peluh keringatnya Ahmad Adirin mulai melakukan aktifitas pagi itu dengan memperbaiki lampu-lampu yang sudah mulai menumpuk di hadapannya.

Berbekal ketrampilan dan kemampuan yang dimiliki Adirin sapaan akrabnya, bisa mereparasi ulang lampu bekas rumah tangga yang sudah mati/rusak menjadi nyala dan normal seperti sediakala.

“Beginilah cara saya mengais rezeki, dengan menjual jasa reparasi lampu seperti inilah saya berjuang menghidupi istri dan ke dua anak saya mas. Satu lampu biasanya Rp.2.000,- ongkos jasanya,” kata Adirin membuka percakapan ketika dijumpai Ari Prayudhanto dari sekat.co pada Rabu (03/05/17) lalu.

Anak ke-5 dari 6 bersaudara pasangan Almarhum Suwardi dan Almarhumah Suriyatun ini memang sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil, bukan tanpa sebab Adirin sudah menjadi anak yatim ketika menginjak usia 8th. Dan mau tidak mau sang Ibu harus membesarkan ke-6 anaknya seorang diri.

“Almarhum Ibu memang keras cara mendidik anak-anaknya, nek ‘ora obah yo ora mamah’ (kalau tidak gerak ya tidak makan), makanya kakak dan adik saya sudah terbiasa hidup susah dan apa adanya sedari kecil,” tutur Adirin.

Sering pindah dari trotoar satu ke trotoar yang lain, mulai dari pasar hewan Wage Bojonegoro, hingga terakhir di pasar Pon Blora Adirin mencoba peruntungannya. Hingga akhirnya pada bulan November 2015 ketika Adirin mengetahui informasi dari beberapa teman yang mengatakan bahwa akan dibangunnya 43 Kios Pasar Blok S di Seso Jepon Blora oleh Pemerintah Daerah Kab. Blora.

Berbekal informasi tersebut Adirin mulai mencari informasi lanjutan mengenai persyaratan pendaftaran agar bisa berjualan di pasar Blok S. Setelah dirasa persyaratannya mencukupi Adirin mulai mendaftarkan namanya di Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah UMKM Kab. Blora.

“Waktu itu syaratnya sudah saya serahkan dan daftarkan, mulai dari melampirkan KTP dan KK sudah saya penuhi ke pihak Dinas,” kata Adirin.

Berjuta harapan dan impian pun terbentang luas di hadapan Adirin beserta istri, berbagai upaya dia tempuh guna mengisi salah satu Kios di Blok S yang hendak disewanya nanti. Pernak-pernik mulai dari etalase hingga sparepart telah dia persiapkan, harapannya begitu Kios Blok S diresmikan oleh Bupati Blora H. Djoko Nugroho kelak, Adirin juga sudah mempersiapkan semuanya.

“Keinginan saya waktu itu sederhana, ingin mengembangkan usaha saja. Karena kalau di pasar Pon kan pasarannya 5 hari sekali, nah, kalau di ruko kan berbeda, setiap hari kita bisa buka dan melayani siapa saja,” terangnya.

Alih-alih pengen memiliki tempat usaha yang sedikit layak pupus sudah, ketika Adirin tidak mendapatkan selebaran undangan pengundian kunci Ruko yang dibagikan oleh pihak Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM.

“Saya mencoba menanyakan kepada pihak Dinas, akan tetapi dengan mudahnya pihak Dinas memberikan pernyataan bahwa nama saya tidak terdaftar dan saya diabaikan begitu saja,” sesal Adirin.

Kekecewaan itu semakin memuncak manakala Ahmad Adirin berkali-kali mencoba meminta keadilan dari pihak Dinas. Mulai dari sikap acuh tak acuh, hingga para pegawai pihak Dinas melempar tanggung jawab dari satu pegawai ke pegawai yang lain nya.

“Setiap kali saya datang ke Kantor Dinas, saya malah seperti dijadikan bahan permainan bola pingpong, dan tidak jelas arahnya harus kepada siapa saya mengklarifikasi kejadian seperti ini,” katanya.

Harapan itu semakin sirna ketika ada salah satu oknum Bidang Pasar dari Dinas Perdagagan, Koprasi dan UMKM yang dengan mudahnya mengatakan data An. Ahmad Adirin ternyata tidak ada.

“Lha selama ini data saya kemana? Jelas-jelas saya pendaftar awal, apakah karena saya orang miskin, atau saya memang tidak boleh berjualan di situ, atau karena memang saya hanya penjual jasa rosokan lampu, beribu-ribu pertanyaan itu selalu terpendam di benak saya,” ungkapnya.

Apalagi ketika saya berusaha menghadap Kadinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM Ir. Maskur, jawaban yang saya terima dari pihak Dinas selalu mengatakan Kadinas tidak pernah ada di tempat dengan beribu-ribu alasan yang saya dapatkan.

Adirin juga mengatakan, sebagai bagian masyarakat di Kab. Blora, saya sudah mencoba dengan cara yang prosedural menurut aturan Pemerintah Kabupaten dalam hal pendaftaran untuk Kios Blok S, tapi ternyata yang saya dapatkan hanya kekecewaan.

“Kekecewaan itu semakin memuncak ketika saya harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa yang menyewa sebagian Kios di Blok S ternyata para kolega pejabat serta PNS di lingkungan Pemkab. Blora,” pungkasnya. (Bersambung) (Ari Prayudhanto/TN)