Home Hukum & Kriminal Modus Penipuan Calo CPNS di Blora Kembali Terungkap

Modus Penipuan Calo CPNS di Blora Kembali Terungkap

887
0
SHARE

Blora, sekat.co – Kasus penipuan berkedok dapat meloloskan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) kembali terjadi. Kejadian kali ini menimpa Sudarjo (57) warga Dk. Tanduran RT.02/ RW.02 Ds. Kemantren, Kec. Kedungtuban, Kab. Blora. Dengan harapan dan iming-iming nantinya kedua anaknya dapat menjadi seorang PNS yang ditempatkan di Kab. Kudus dan Kab. Pati, Sudarjo rela merogoh koceknya dalam-dalam hingga tembus Rp.80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah).

Kapolsek Kedungtuban, AKP Sugiarto membenarkan adanya modus penipuan yang berkedok penerimaan CPNS yang terjadi di wilayah sektor Polsek Kedungtuban tersebut. Kejadian tersebut diduga dilakukan pada bulan Mei tahun 2013 lalu.

“Korban Sudarjo mengaku tergiur dengan janji dari tersangka, yang bisa meloloskan kedua anaknya menjadi CPNS,” kata AKP Sugiarto kepada sekat.co pada (18/05).

Adalah Slamet Yudiarto (38) warga Dk. Ningalan, RT.01/RW.07, Ds. Kedungtuban, Kec. Kedungtuban, Kab. Blora, yang mengaku sanggup membantu meloloskan kedua anaknya Sudarjo ketika hendak melakukan tes CPNS agar bisa menjadi PNS pada tahun 2013 lalu.

AKP Sugiarto menambahkan, menurut pengakuan tersangka Slamet, dia mampu menjadikan anak Sudarjo untuk bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena mempunyai channel orang di Jakarta.

“Dengan modus seperti itulah tersangka mampu memperdayai Sudarjo hingga mengalami kerugian mencapai Rp.80.000.000,-,” katanya.

Sugiarto menyatakan, tersangka Slamet berhasil diringkus oleh petugas Reskrim Polsek Kedungtuban pada (17/05) kemarin. Dari penangkapan tersebut petugas juga berhasil mengamankan barang bukti berupa 70 lembar kwitansi yang dimiliki oleh korban Sudarjo, sedangkan untuk nominal uangnya sendiri menurut pengakuan tersangka sudah habis guna kebutuhan sehari-hari.

Insert : Pemeriksaan terhadap tersangka Slamet.

“Jadi tersangka memang meminta uang kepada korban sedikit demi sedikit, tidak langsung nominal Rp.80.000.000,- akan tetapi secara bertahap. Ketika tersangka meminta uang, oleh korban selalu disertai bukti kwitansi, dan hal tersebut berlangsung dari tahun 2013 hingga 2017,” ungkapnya.

Berbagai macam alasan digunakan oleh tersangka Slamet agar mampu memperdayai korban Sudarji, mulai dari meminta uang untuk pembelian cinderamata yang akan diberikan channelnya yang ada di Jakarta, untuk keperluan transportasi hingga beralasan meminta uang untuk menghadap Bupati Kudus, semua itu dilakukan oleh tersangka agar korbannya percaya dan yakin kepada tersangka.

Berdasarkan kejadian tersebut AKP Sugiarto turut menghimbau kepada seluruh masyarakat jangan mudah lagi untuk percaya ataupun tergiur dengan modus penipuan seperti ini (berkedok penerimaan CPNS.red), karena memang hal-hal semacam itu bisa dipastikan menuju ke arah penipuan.

“Untuk tersangka Slamet bisa dijerat dengan Pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman 6 (enam) tahun penjara,” pungkasnya.(Ari Prayudhanto/TN)