Home Breaking News Diduga Akibat Penambangan, Tanah Amblas di Gulingan Blora

Diduga Akibat Penambangan, Tanah Amblas di Gulingan Blora

1238
0
SHARE
Subakir (61), seorang warga desa menunjukkan rumahnya yang rusak akibat amblasnya tanah di Gulingan Blora (Eko Arifianto/ sekat.co)

Blora, sekat.co – Bila kebanyakan orang saling bersukaria di hari lebaran, namun tidak bagi sebagian warga di Dukuh Gulingan Desa Tempurejo, Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora. Hal itu disebabkan tempat tinggal yang mereka huni rusak akibat tanah longsor hingga mengakibatkan harus dibongkar dan dipindahkan untuk meminimalisir korban jiwa.

Menurut warga, bencana tanah longsor ini terjadi pertengahan bulan Mei sebelum puasa.

“Semenjak sekitar 40 tahun saya tinggal di sini, ya, ini baru pertama kalinya, mas. Sepanjang kurang lebih 200 meter dari belokan aliran sungai di sana, terhitung ada 11 rumah rusak hingga penghuni berserta perabotan rumahnya harus dievakuasi. Dengan kejadian itu, bila dihitung, kerugian saya secara materiil mencapai Rp. 25 juta,” kata Subakir (61), salah satu warga yang rumahnya juga ikut rusak akibat bencana tersebut.

Fenomena tanah amblas ini terjadi setelah kejadian ambrolnya jembatan Ngadipurwo pada November 2016 silam yang sempat membuat akses jalan utama menuju tempat wisata Waduk Tempuran menjadi terputus.

“Kejadiannya sekitar pukul 00.30 WIB dini hari, mas. Saya mendengar ada suara bergemeretak keras dari bawah sana. Masyarakat yang masih terjaga saat itu spontan terhenyak kaget dan bertanya-tanya. Tak disangka, ternyata bagian bawah pohon Trembesi yang besar itu patah karena tergerus aliran air dan lumpur. Karena tidak ada akar dan batang penahan laju tanah, akhirnya tanah menjadi longsor dan amblas,” terang seorang warga desa yang malam itu turut menyaksikan awal dari amblasnya tanah di daerah aliran anak sungai Lusi tersebut.

Terlihat di pagi harinya tanah amblas cukup dalam. Hal itu membuat atap dan genting-genting rumah yang semula sejajar menjadi anjlok hingga rata dengan tanah. Diperkirakan amblasnya tanah mencapai 2,5-3 meter.

“Memang diduga semenjak ada penambangan dan pabrik semen itu, mas, banyak bencana yang terjadi. Hal ini juga sama yang dikatakan bapak-bapak yang dari Bandung bagian penanggulangan bencana sewaktu melakukan survey ke sini. Ya, seperti kemarin saja sewaktu terjadi banjir. Airnya sampai berwarna putih keruh. Ketinggian airnya hingga mencapai pohon pisang itu,” papar Subakir sambil menunjuk pohon pisang di mana ketinggian banjir di desanya terjadi.

Untuk mempermudah akses transportasi di Dukuh Gulingan, warga dan perangkat desa bersama-sama melakukan pengurukan tanah yang amblas dan menanggulnya sementara dengan bambu yang ditata secara bergotong-royong. Begitu juga beberapa rumah sudah dipindahkan di tanah bengkok dekat perempatan jalan desa.

Ya, pak, untuk saat ini dari pemerintah terkait PU sudah meninjau di lokasi. Hal ini akan segera teratasi,” tandas Kepala Desa Tempurejo Muhammad Zaenudin kepada wartawan sekatcos ketika kami tanyakan bagaimana perkembangan terakhirnya. (Eko Arifianto/ Ari Prayudhanto/ TN)