Home Breaking News Geger! Diduga Situs Kerajaan Bantarangin Ditemukan di Jetis Blora

Geger! Diduga Situs Kerajaan Bantarangin Ditemukan di Jetis Blora

10931
0
SHARE
Honi menunjukkan lokasi penemuan situs Bantarangin di Jetis Blora. (Eko Arifianto/ sekatcos)

Blora, sekat.co – Kalau dulu orang tua kita pernah mendongengkan tentang Kerajaan Bantarangin, hari ini Kamis Legi, 20 Juli 2017, Blora dibuat geger dengan adanya dugaan temuan situs kuno tersebut. Hal ini disebabkan karena selain kisah tersebut selama ini dipandang hanya sebuah kisah fiktif atau rekaan belaka, lokasi penemuan situs ini terletak di tengah kota dan di wilayah pemukiman padat penduduk.

Memang tak banyak orang tahu tentang keberadaan situs tersebut. Selain di buku-buku dan sejarah tertulis hampir tidak pernah tercatat, lokasi tersebut kini sudah ditutupi oleh semak belukar dari berbagai jenis pepohonan. Sehingga persiapan perlengkapan dan alat untuk survey lapangan termasuk antisipasi terhadap gigitan ribuan nyamuk liar sangatlah penting.

Lorong 3 RT.06 RW. 01 Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora Kota. (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Lokasi penemuan situs ini terletak di lahan (Alm) Soeprapto, seorang mantan lurah Jetis. Letaknya di Jl. Nusantara Lorong 3 RT.06 RW. 01 Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora Kota,” kata Harul Honi Prasetyawan (42), salah seorang anaknya.

Untuk tahap pertama ekskavasi siang tadi, masyarakat yang dibantu oleh Tim Jelajah Blora membuat satu kotak galian berukuran 2×1,5m dengan kedalaman penggalian 10-25 cm. Penggalian dilakukan dengan hati-hati dan penuh kesabaran.

“Menurut Mbah saya yang bernama Yoto, dulu di sini ada seorang yang punya ilmu tinggi bernama Mbah Rajid. Terkait kisah tokoh bernama Mbah Rajid ini ada hubungannya dengan Mbah Mas yang makamnya terletak di belakang Kantor Kelurahan Jetis dan Mbah Singa Lodra yang makamnya terletak di sebelah utara Jembatan Gabus, Mlangsen, Blora,” tutur Honi sembari membersihkan struktur batubata dari tanah liat yang menempel dengan kuas.

Lokasi penggalian tahap pertama ini difokuskan di bawah pohon Panggang dan Beringin (Ficus benjamina), sebelah selatan Kali Dam yang mengalir dari arah dari Timur ke Barat menuju Sungai Lusi. Menurut cerita tutur turun temurun, jaman dahulu Mbah Rajid mengambil air di sumur ini.

Ketika dikonfirmasi, temuan ini langsung mendapat respon positif dari pihak dinas terkait.

“Kami dari dinas sangat berapresiasi terhadap temuan situs ini. Temuan ini penting untuk menambah koleksi khazanah sejarah di Blora. Rencana dalam waktu dekat kami akan survey lokasi bersama Bidang Budaya dari dinas kami,” kata Drs. Kunto Aji, Kepala Dinporabudpar (Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata) Kabupaten Blora.

Menurut penuturan masyarakat Jetis, wilayah yang berada di jalan Nusantara, jalan Sumbawa, jalan Halmahera hingga jalan Maluku adalah lokasi yang dikenal dengan orang dahulu dengan nama Bantarangin.

Peta Satelit letak lokasi Bantarangin Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah

Bahkan kalau orang dulu itu bertanya: “Rumahnya mana?” “Jetis.” Itu kadangkala jarang orang yang tahu. Namun bila menyebut Bantarangin, biasanya orang dahulu akan langsung tahu bahwa tempatnya di daerah sini. “Jadi dahulu nama “Bantarangin” itu lebih dikenal daripada nama “Jetis” itu sendiri,” jelas seorang warga yang ikut menyaksikan penemuan situs di siang itu.

Di siang itu, bukti-bukti temuannya antara lain berupa struktur bangunan yang terdiri dari batu bata merah dengan goresan jari tangan di salah satu sisinya. Menurut strukturnya memang mirip dengan bentuk sebuah sumur yang sangat besar. Bahan perekat antar batubata-batubata itu terbuat dari adonan pasir kali. Strukturnya terlihat cukup jelas. Namun, karena mungkin sudah ratusan tahun terbengkalai, maka akar-akar pohon banyak yang masuk dan menelusup di antara tatanan batubata-batubata hingga akhirnya mempengaruhi posisi strukturnya. Selain bangunan yang seperti sumur dari batubata, ditemukan pula fragmen gerabah bermotif.

Proses Ekskavasi Situs Bantarangin oleh masyarakat beserta Tim Jelajah Blora (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Perlu dikumpulkan bukti-bukti terkait dengan temuan itu, baru bisa dianalisis terkait dengan sejarahnya,” kata Martin Moentadhim Sri Marthawienata, seorang sejarawan sekaligus penulis yang dulu bekerja di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA.

Bisa jadi, bila temuan-temuan itu terbukti, bisa dinyatakan bahwa cerita tentang Kerajaan Bantarangin yang rajanya bernama Prabu Kelana Sewandana itu tidak hanya sebuah mitos dan kisah fiktif dalam lakon kesenian ketoprak atau kesenian reog dan barongan hasil karangan para pujangga Jawa kuno saja. Untuk itu, untuk menguak sejarah yang terpendam ini, kerjasama antara masyarakat, kelompok pelestari sejarah dan pemerintah sangat diperlukan. (Eko Arifianto/ TN)