Home Breaking News Lagi! Ditemukan Semacam Pondasi Kuno di Bantarangin Jetis Blora

Lagi! Ditemukan Semacam Pondasi Kuno di Bantarangin Jetis Blora

4173
0
SHARE
Masyarakat bersama Tim Jelajah Blora menunjukkan temuan struktur batubata di situs Bantarangin, Jetis, Blora (Eko Arifianto/ sekatcos)

Blora, sekat.co – Setelah melaporkan penemuan situs kepada Kepala Balai Arkeologi di Kotagede, Yogyakarta, supaya segera ditindaklanjuti agar bisa memberikan petunjuk lebih banyak lagi bagi masyarakat luas mengenai sejarah dan peradaban yang ada di Bantarangin, Desa Jetis, Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora, pada siang hari tadi, Jum’at, Pahing, 21 Juli 2017, masyarakat bersama Tim Jelajah Blora melakukan pembersihan semak belukar di atas lokasi situs tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemetaan dan penelitian lebih lanjut.

Dalam proses pembersihan lokasi situs, tak disangka, ternyata sekitar 15 meter arah Selatan dari kotak galian pertama, ditemukan pula fragmen keramik dan gerabah serta struktur batuan batubata merah di kedalaman 20 cm. Batu bata tersebut tersambung antara satu dengan yang lainnya hingga menjadi ukuran 30×60 cm. Bila dilihat sekilas seperti umpak sebuah bangunan. Namun apa nama struktur bangunan dan sebagai apa fungsinya belum ada yang tahu pasti. Hal yang sama juga dikatakan para keturunan pemilik lahan.

Mamah Ida (54), seorang warga Jetis. (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Kok aneh ya. Padahal seingat saya, tidak ada rumah atau bangunan di atas lokasi ini. Dulu tempat ini bersih, tidak ada semak belukar seperti ini. Pernah juga sekitar tahun 1970-an ditanami ketela rambat oleh Mbah Dasiyo almarhum. Dulu waktu kecil, saya juga sering main di sini. Sewaktu bapak nyalon lurah, kalau pas ada tamu, diberikan minuman yang diambilkan dari air sumur itu. Sesudah jadi lurah, tidak tahu kenapa, secara misterius sumurnya menutup dengan sendirinya,” tutur Mamah Ida (54), seorang warga Jetis.

Tak heran bila masyarakat merasa ada banyak keanehan. Salah satunya, kenapa sewaktu lahannya digarap dan ditanami ketela rambat sekian lama, tidak pernah ada berita penemuan situsnya. Anehnya pula, meskipun belum pernah melihat langsung situsnya, masyarakat yang tinggal di daerah tersebut sudah cukup lekat ingatannya terkait dengan cerita yang berkembang dari orang-orang tua walau hanya sebatas cerita lesan dan dongeng saja.

Sudirman (61), seorang tokoh masyarakat desa Jetis. (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Cerita tentang Mbah Kyai Bantarangin ini ada hubungannya dengan Mbah Mas dan petilasan di kantor pajak yang terletak di sebelah Utara Kantor Kelurahan Jetis. Sebelah utaranya situs Bantarangin tersebut adalah Kali Maling. Jaman dahulu, menurut cerita, sewaktu ada maling atau pencuri yang masuk sungai tersebut menjadi tidak terlacak keberadaannya dan tidak tertangkap. Ketika hal tersebut terjadi, akhirnya masyarakat umum menamakannya Kali Maling. Kalau penamaan Kali Dam sendiri itu belum lama. Penamaan itu sewaktu jaman Belanda, karena di dekat kali tersebut dibangun dam. Menurut cerita yang berkembang, jaman dulu juga ada gedokan jaran (kandang kuda-Red) juga. Memang, dari jaman dulu hingga sekarang, daerah yang dinamakan kompleks Bantarangin itu termasuk daerah angker,” terang Sudirman (61), seorang tokoh masyarakat desa Jetis.

Di samping cerita mitosnya, karena mempunyai aura mistik yang cukup kuat, tahun 1969 hingga 1970-an situs ini juga sering dikunjungi orang untuk mencari keberuntungan. Bahkan menurut cerita ada juga yang tembus nomer togel pasangannya.

Daya energi alam lainnya menurut masyarakat, terbukti selama ini tidak pernah ada berita tentang bencana yang menimpa genting dan rumah-rumah warga Jetis akibat terjangan angin.

Tokoh-tokoh masyarakat di dekat situs Bantarangin tersebut kadangkala juga ditemui sosok ‘Kyai Bantarangin’. Penampakannya bersorban putih, berjenggot, dan biasanya menempatkan telapak tangan menghadap ke depan dan bercahaya. (Eko Arifianto/ TN)