Home Breaking News Seram! Ternyata Banyak Kisah Mistis di Bantarangin Jetis Blora

Seram! Ternyata Banyak Kisah Mistis di Bantarangin Jetis Blora

3358
0
SHARE
Mbah Moeslimin (74), seorang saksi sejarah situs Bantarangin, Jetis, Blora (Eko Arifianto/ sekatcos)

 

Blora, sekat.co – Perkembangan penelusuran terkait penemuan situs yang diduga Kerajaan Bantarangin semakin menarik. Bertambah banyak saja orang yang mengungkapkan cerita dan kisah misterinya terkait dengan situs Bantarangin di Desa Jetis, Kabupaten Blora, setelah selama ini hanya menjadi kisah dongengan saja. Kebanyakan kisah-kisah yang diungkapkan adalah kisah-kisah mistis yang berhubungan dengan pengalaman pribadi dan apa yang dialaminya di daerah tersebut.

“Sumur tersebut sejak saya kecil sudah ada. Bahkan sewaktu jaman ibu saya. Sumur lama. Dibuat dari susunan batubata-batubata kuno. Dalamnya sekitar 5-6 meteran. Tidak dipelur (disemen-Red). Yang kelihatan sangar dan keramat itu daerah sini. Sewaktu saya kecil dulu sering bermain di situ, jadi saya ingat. Sebelah barat sumur tersebut, dekat dengan pohon kelapa, bambu dan kolangkaling, ada sebuah makam. Nisannya terbuat dari kayu. Kelihatan sekali kalau usianya sudah sangat lama. Kalau dari sumur kuno berjarak sekitar dua meteran. Di sebelah timur sumur, agak ke selatan, ada sebuah pondasi. Entah itu pondasi bangunan apa, saya tidak tahu. Di atasnya terdapat banyak pasir kali (sungai-Red). Dulu banyak tanaman alang-alang dan juga kebun nanas. Biasanya anak-anak kecil dulu memakainya buat joretan atau delikan. Pohon bambunya dulu lebat. Kebanyakan di sebelah selatan sungai. Jenisnya bambu ori. Kalau sumur kuno itu, tinggi bibir sumurnya sekitar 1,5 meter. Diameternya cukup lebar. Ambruknya bibir sumur tersebut kemungkinan besar karena susunan batubatanya terdesak oleh akar-akar pohon kelapa yang banyak tumbuh di situ. Itu terjadi sekitar tahun 1960-1970-an. Menurut perasaan saya, bangunan rumah semacam padepokan tersebut dulu menghadap ke Utara, menghadap jalan Maluku sekarang. Posisi sumur ada di depan,” kata Mbah Moeslimin (74), seorang saksi sejarah yang kami temui di rumahnya di Desa Tambaksari, Blora, kemarin malam, Minggu, 23 Juli 2017.

Memang ketika wartawan sekat.co mencoba menelusurinya, menemukan pula tatanan batubata seperti sebentuk pondasi kuno sebuah jembatan yang menghubungkan jalan dari seberang sungai sebelah Utara dan Selatan. Ukuran dan motif batubatanya mirip dengan batubata yang dibuat sumur dan pondasi bangunan di dalam situs Bantarangin.

Kajim (40) sedang memperbandingkan batubata pondasi kuno dan sekarang (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Ini bukti dari jembatan kuno yang dulu pernah ada. Lebarnya sekitar 3,5 meter. Mungkin jembatan ini yang dulu menghubungkannya. Lihat, batubata-batubatanya sangat berbeda dengan batubata-batabata yang saat ini ada,” terang Kajim (40), seorang warga yang sekarang menempati rumah di seberang sungai sebelah utara situs Bantarangin tersebut, sembari menunjukkan bekas-bekas pondasi dari batubata-batubata kunonya dan memperbandingkan batubata bekas pondasi kuno tersebut dengan batubata yang ada umumnya sekarang.

Terkait dengan nama Mbah Rajid, itu merupakan suatu sebutan. Dulu katanya didatangkan lewat Jailangkung, lewat mediuminasi. Orang yang biasanya mendatangkan mahluk astral tersebut adalah Pak Sudir, Jetis.

“Kelihatannya sosok Mbah Rajid itu adalah sosok yang berwibawa. Biasanya sebelum dia masuk ke dalam tubuh mediator, meja harus dalam kondisi rapi, orang-orang harus tertib, sopan, dan tidak boleh menyombongkan diri. Biasanya dia menjawab bila ditanya. Kalau tidak ditanya ya tidak berkata atau bercerita. Saya waktu itu juga turut menyaksikan. Setelah energi gaib itu masuk, Pak Sudir suaranya menjadi mangleh (berubah-Red). Kapur atau ballpoinnya bergerak sendiri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan,” terang Mbah Moes sembari memperagakan bagaimana cara Jailangkung menuliskannya.

Demikianlah, namun ada juga orang yang mengalami kejadian-kejadian hingga membuat badan panas-dingin. Bantarangin yang sangat kental dengan suasana mistisnya semakin banyak dipergunjingkan oleh masyarakat Blora.

“Pernah badan saya panas sewaktu habis dari situ. Ceritanya kami melakukan ritual bakar sate jeroan jagal. Ya, intinya kami minta nomer togel di dekat sumur itu. Itu sekitar tahun 2000-an. Bersamaan dengan itu, angin mendadak berputar kencang di sekitaran wilayah tersebut. Sewaktu kami memasukkan kertas ke dalam sumur tidak ada penampakan angkanya. Nomor tidak keluar dan badan saya keesokan harinya menjadi demam,” tutur Nanuk (31) seorang anak laki-laki Mbah Moes.

Lain cerita mistis yang dialami Nanuk, lain pula cerita yang dialami Honi (42) yang kerap dipanggil dengan nama sapaan Mbing, seorang bapak dua anak yang tinggal di sebelah selatan situs tersebut.

Honi Mbing 42), sedang menceritakan kisah mistisnya (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Saya bersama kawan-kawan ke sana. Bakar dupa, diberi tiga angka selama tiga kali. Malam hari pukul 24.00 WIB malam saya pulang, kemudian tidur. Dalam tidur, saya didatangi oleh seseorang bersorban dan berjenggot putih. Mungkin dialah yang bernama Mbah Rajid. Saya lihat dia datang sambil bawa sapu lidi. Kelihatannya sangat geram. Sambil mengacungkan tanggan dengan nada marah dia membentak: “Kowe ojo marahi kancanem golek-golek nomer kowe! Cah bayi golek nomer marahi elek ae! Sesuk ojo baleni eneh kowe! (Kamu jangan memberi contoh teman-temanmu cari nomor!  Anak bayi cari nomor bikin contoh yang tidak baik kamu! Besok jangan diulangi lagi!)” Saya ketakutan, ingin bangun dan teriak, namun tak juga bisa tersadar. Hingga akhirnya saya dibangunkan oleh kakek. Saya terbangun. Keringat dingin mengucur. Langsung saya membaca ayat-ayat Al-Quran yang saya hapal. Setelah keadaan sudah agak surut, saya coba merebahkan badan dan melanjutkan tidur lagi. Tak disangka! Orang tersebut datang lagi. Dengan jelas dia berkata: “Eling-eling! (Ingat-ingat!),” begitu pesannya. Ya, paska kami meminta nomor dari situ, teman-teman sayapun juga ikut mengalami kejadian yang aneh-aneh. Mereka didatangi oleh seseorang. Katanya orangnya besar sekali, hingga mereka semua kapok datang ke situ lagi,” kata Honi Mbing menuturkan kejadian yang alami.

Sewaktu pihak redaksi sekat.co menanyakan apakah nomor togel yang diberikan keluar, ternyata angka yang diberikan memang keluar, namun di keesokan harinya. Malahan selama tiga hari berturut-turut. Namun seperti dihipnotis, ada energi yang membuat mereka semua menjadi lupa.

Papan nama Jl. Maluku di perempatan Nyah Atak, Blora (Eko Arifianto/ sekatcos)

Menurut keterangan warga, Bantarangin itu wilayah di sepanjang jalan Maluku. Jadi mulai perempatan bangjo Nyah Atak ke barat hingga sampai di pertigaan jurusan Plotot, Tambahrejo. Wilayahnya sebelah utara dan selatannya jalan, termasuk SD N Jetis 1 Blora. Menurut warga yang tinggal di dekat situs tersebut, orang yang menanam pohon panggang di dekat sumur itu almarhum Mbah Lono, setelah itu dia pindah ke Kalimantan dan meninggal di sana. Tak sedikit pula cerita orang yang menemukan barang semacam pusaka dari wilayah Bantarangin tersebut. (Eko Arifianto/ TN)