Home Breaking News Mbah Suwono: Setelah Tiga Tahun Berjuang Mencari Keadilan

Mbah Suwono: Setelah Tiga Tahun Berjuang Mencari Keadilan

712
0
SHARE
Mbah Suwono (72) menuturkan tentang hilangnya tanah garapannya (Eko Arifianto/ sekatcos)

Blora, sekat.co – Badannya kurus kering. Jalannya sudah agak terbungkuk. Kantung matanya yang cekung ditambah tulang pipi yang menonjol menampakkan kondisi yang cukup berat dialami. Tapi langkahnya yang panjang menyiratkan semangatnya yang masih menyala dalam keburaman sistem yang ada. Sambil membawa tas punggung yang cukup berat, ia berjalan tak mengindahkan terik matahari yang menyengat.

Hingga hari ini, terhitung tanggal 23 November 2013 hingga 25 Juli 2017, sudah tiga tahun lebih seorang kakek yang mestinya di hari tuanya menimang cucu dan menikmati masa-masa tuanya, itu masih berjalan mencari kejelasan status tanahnya yang diduga dirampas oleh pihak Perhutani KPH Randublatung, Blora, Jawa Tengah.

Dalam ceritanya, Mbah Suwono (72) menuturkan tentang hilangnya tanah garapannya. Padahal tanah tersebut menurutnya sudah digarap puluhan tahun dan membayar pajak. Perampasan tanahnya katanya diduga dilakukan oleh petugas Perhutani KRPH Bogorejo Asper Tanggel KPH Randublatung, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora bersama Kadus dan Ketua RT.006/RW.004 Dukuh Jambeyan. Menurut keterangan yang diberikan, tanah tersebut adalah warisan dari nenek moyang dan orangtuanya yang bernama almarhum Surohardjo Samidjan yang sudah menjadi hak atas namanya.

Dulu pernah Mbah Suwono mengirimkan surat ke Bupati Blora dengan tembusan Camat Randublatung, Kepala Desa Tanggel, Kapolres Blora, Kapolsek Randublatung, Danramil Randublatung, DPRD Blora, dan Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) yang diantarnya sendiri ke Jakarta. Dari kronologis yang dibuat, inti dari surat tersebut adalah memohon agar para penegak hukum segera menyelesaikan permasalahan yang ada. Sebagai warga negara, ia menuntut agar dilakukan pengembalian hak atas tanah garapan kepada para petani seperti sediakala.

Dari sekitar lebih kurang lima hektar luasan lahan yang diduga diserobot Perhutani ada 12 orang pemilik lahan, di antaranya adalah Radi, Dami, Kohar, Wadi, Winarto, Jarum, Warni, Joko, Mitro, Broto, Lasinah dan Mbah Suwono sendiri. Pal-pal untuk tanda batas pun sudah tidak pada tempat asalnya. Dari lokasi awal di perbatasan dipindah masuk dan ditanam di tanah pemajakan lahan garapan warga sejauh kurang lebih 50 meter.

Menurut ceritanya, paska dia mempertanyakan tentang pematokan tersebut, rumah yang ditinggali bersama istrinya pada malam hari diteror orang tak dikenal dengan lemparan batu-batu di genting atap rumahnya. Ini menyebabkan Mbah Suwono dan istrinya shock dan tertekan. Untuk menyelamatkan diri, dia bersama istrinya lalu mengungsi ke rumah tetangganya, dan keesokan harinya berjalan ke daerah Doplang, kemudian pindah lagi ke daerah Cepu. Oleh sebab kejadian itu, istrinya trauma dan jatuh sakit hingga kini. Bahkan semenjak ia melaporkan kejadian ini, warga yang menggarap sawahnya juga ikut diintimidasi, sekarang dia mengalami stroke.

“Seperti itulah ceritanya. Sewaktu saya mengungsi itu, rumah saya roboh. Saya lalu mengadukannya ke pemerintah. Namun hingga saat ini Pemerintah Blora juga tidak pernah ada yang survey ke lapangan. Termasuk janji yang diberikan oleh Dinas Sosial Kabupaten Blora untuk membangunkan rumah. Tidak ada tindak lanjut. Terus terang saja, Pak, permintaan saya bukan uang, bukan harta benda. Namun cintailah, kasihilah, sayangilah masyarakat Kabupaten Blora. Jangan sampai seperti saya ini yang diabaikan,” kata Mbah Suwono dengan mata yang berkaca-kaca sambil menyebut nama kepala daerah yang sekarang ini menjabat seakan mengabarkan tentang penderitaan yang dialaminya.

Bukan tanpa resiko ketika ia menyuarakan dan menuntut hak-haknya. Intimidasi dan terorpun pernah dirasakannya.

“Setidaknya ada lima kali saya diteror. Di Cepu dua kali, di Randublatung satu kali, di Doplang satu kali, dan di Blora satu kali. Kita percaya kepada Tuhan. Syukur kita masih diberikan keselamatan,”  terang Mbah Suwono sambil menundukkan kepala bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Saat ini Mbah Suwono menunggu keseriusan penanganan dari para pejabat yang berwenang dan aparat penegak hukum di Kabupaten Blora untuk menyelesaikan permasalahannya. Menurutnya hal ini sejalan dengan program revolusi mental yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk bersama membangun jiwa bangsa menuju Indonesia yang lebih baik dan sejahtera

Ketika dari wartawan sekatcos mencoba konfirmasi kepada Administratur Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Randublatung, Joko Sunarto, mengatakan akan mempelajari kasus ini terlebih dahulu. (Eko Arifianto / sekatcos)