Home Breaking News Parah! Oknum PNS di Todanan, Diduga Cabuli Lima Anak Perempuan Di Bawah...

Parah! Oknum PNS di Todanan, Diduga Cabuli Lima Anak Perempuan Di Bawah Umur

6454
0
SHARE

Blora, sekat.co – Kasus tindakan asusila atau pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur lagi-lagi kembali mencoreng institusi pemerintahan Kabupaten Blora. Baru-baru ini, oknum PNS (Pegawai Negeri Sipil) di wilayah Kecamatan Todanan diduga telah melakukan pelecehan seksual kepada lima orang anak didiknya yang tergabung dalam Sanggar Seni Reog milik oknum PNS tersebut.

Meski sempat dilaporkan ke aparat kepolisian pada 14 Maret 2017 lalu, sehari kemudian pada 15 Maret 2017 laporan tersebut telah dicabut oleh pelapor. Pencabutan laporan dilakukan dengan alasan persoalan tersebut telah diselesaikan secara musyawarah dan kekeluargaan. Selain itu, oknum PNS yang menjadi pelaku tersebut juga sudah mengakui kesalahan dan semua kekhilafannya.

Dalam surat Laporan Pengaduan kepada Polsek Todanan, pada 14 Maret 2017 lalu, dikatakan bahwa telah terjadi tindak pidana perbuatan pencabulan. Hal tersebut bermula ketika NR, berbincang dengan ES di dalam rumah SK yang terletak di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.

Dalam surat Laporan Pengaduan tersebut juga diceritakan bahwa NR menjadi korban pencabulan WD (40), salah satu oknum PNS yang bekerja di wilayah Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Seorang anak perempuan lainnya berinisial ES, ternyata juga mengaku kepada NR, telah menjadi korban pelaku.

Pada saat terjadi perbincangan tersebut didengarkan oleh ST (kakak NR). ST selanjutnya menanyakan langsung kepada NR atas tindak asusila pencabulan tersebut. NR selanjutnya mengakui bahwa telah terjadi pencabulan oleh WD, pada Rabu, (8/3) sekitar pukul 12.30 WIB di dalam kamar tidur pelaku.

Setelah ada pengakuan NR tersebut, ST memberitahu kepada JS, 50 (ibu korban) tentang perihal pencabulan tersebut. Oleh JS memberitahu MJ, 30 (saudara korban) dan kemudian menyuruh ES untuk menghubungi teman-temannya di Sanggar Seni Reog milik WD untuk berkumpul. Kemudian di dalam rumah ES datang teman-temannya dari Sanggar Reog dan mengakui bahwa semuanya telah menjadi korban pencabulan Widodo.

Dalam surat laporan ke Polsek Todanan tersebut adapun yang menjadi korban adalah TN, ES, NR, DAW dan DAN.

Selanjutnya mendengar pengakuan tersebut SK bersama anaknya NR membuat laporan pengaduan ke Polsek Todanan pada Rabu, (14/3), dengan harapan bisa ditindaklanjuti.

Sementara itu, Kapolsek Todanan, AKP Sutrisno saat dikonfirmasi mengaku, memang ada masyarakat yang mengadu dan persoalan tersebut sudah ditangani oleh pihaknya.

“Benar, dulu ada pihak yang mengadu atas peristiwa tersebut. Mungkin karena para korban masih di bawah umur, oleh pihak keluarga kemudian tidak menghendaki untuk dilanjut dan akhirnya laporan tersebut dicabut,” jelas Kapolsek kepada redaksi sekat.co pada Senin, (31/07) kemarin.

Dia menambahkan, karena dalam kasus tersebut masuk dalam kategori Delik Aduan maka ketika pengaduan tersebut dicabut, pihak kepolisian kemudian tidak menindak lanjuti pengaduan tersebut.

“Ini kan delik aduan bukan delik biasa, jadi kalau orang tua (Pelapor-Red) yang meminta untuk tidak dilanjut ya kita turuti. Saya sebagai pejabat berwenang hanya mengikuti aturan main delik aduan,” tukasnya.

Kapolsek kembali menambahkan, menurut keterangan dari para orang tua korban, disitu tidak ada tindakan pencabulan. Anak-anak tersebut hanya dikecup kening, pipi dan bibir dan mereka belum merasa dirugikan. Pelaku melakukan hal itu agar wajah para korban terlihat bagus, atau mereka menyebut dengan istilah ritual disepuh, biar kelihatan cantik dan aura di dalam tubuh para korban bisa keluar pada saat pentas seni Reog digelar.

“Dalam ritual di sepuh, anak-anak itu cuma dikecup kening, pipi dan bibir saja. Dan orang tua mereka merasa anak-anak mereka tidak dirugikan,” tambahnya.

Sutrisno juga menuturkan, berdasarkan pengakuan dari pelaku WD, alasan dilakukan tindakan tersebut (sepuh-Red), dilakukannya untuk memunculkan aura dan semua itu tidak ada unsur kesengajaan.

“Saya melakukan hal itu hanya untuk memunculkan auranya saja, dalam proses ritual tersebut juga tidak ada unsur kesengajaan ataupun sampai melecehkan anak-anak itu,” kata Kapolsek Todanan menirukan ucapan pelaku. (Ari Prayudhanto/ TN).