Home Breaking News Ada Kisah Apa Sunan Kalijaga dan Kerbau di Sendang Bangeran Blora?

Ada Kisah Apa Sunan Kalijaga dan Kerbau di Sendang Bangeran Blora?

6812
0
SHARE
Pintu Masuk Kawasan Sendang Bangeran (Eko Arifianto/ sekatcos)

 Blora, sekat.co – Tak banyak dari kita mengetahui sejarah dari sumber mata air terdekat dengan rumah kita. Kadang karena menganggap tak penting atau tak ada waktu menuliskan hal-hal yang terkesan remeh-temeh seperti itu. Namun berbeda dengan apa yang terjadi di Bangeran, Kamolan. Dengan terus melestarikan tradisi dan budaya tutur, ternyata hal ini bisa menambah kecintaan pada situs sejarah dan ekologi yang ada. Kesan ini didapat oleh 3 (tiga) orang dari Tim Jelajah Blora sewaktu melakukan penjelajahan di situs Sendang Bangeran pada Kamis Legi, 7 September 2017.

Sendang Bangeran terletak di Dukuh Bangeran, Desa Kamolan, Kecamatan Kota Blora, Kabupaten Blora, Propinsi Jawa Tengah. Desa Kamolan sendiri terdiri dari 6 (enam) dukuh, di antaranya adalah Dukuh Kamolan, Dukuh Bangeran, Dukuh Ploso, Dukuh Kadengan, Dukuh Dumpul dan Dukuh Gusten Lor yang berbatasan dengan Desa Jepangrejo.

Lokasi Sendang Bangeran berada di antara areal persawahan dan permukiman penduduk. Sumber mata air ini berada di antara pohon Beringin (Ficus benjamina) yang tumbuh di dekat kolam. Menurut seorang Kamituwo Dukuh Bangeran, Sutarji (54), dahulu keberadaan Sendang Bangeran ada hubungannya dengan kisah seorang wali.

Kamituwo Bangeran, Sutarji (54) (Eko Arifianto/ sekatcos)

Alkisah, sewaktu Sunan Kalijaga akan membuat masjid Demak, konon mengambil kayu jati di Desa Jomblang. Kayu tersebut menurut cerita disarat (ditarik-Red) dengan menggunakan kerbau. Sewaktu sampai daerah Bangeran, kerbaunya tidak mau jalan, hanya berputar-putar saja. Mungkin kehausan. Akhirnya, karena mencari di sekeliling tidak ada air, kemudian Sunan Kalijaga mengambil kayu jati dan menancapkannya di tanah. Atas karunia Tuhan memancarlah air yang sangat besar. Karena cukup besar dan dikhawatirkan terjadi banjir, maka diambillah ijuk dari pohon-pohon aren di dekat tempat tersebut untuk sedikit mengurangi debit air yang keluar.

“Bukti kayu jati dologan yang berdiamater sekitar 25 centimeter masih ada. Sekarang tertimbun runtuhan batubata yang ambruk terdesak akar pohon jaran (Lannea coromandelica-Red) yang beberapa waktu lalu saya suruh tebang,” kata Sutarji sambil menunjukkan tempat di mana kayu jati yang konon ditancapkan Sunan Kalijaga tersebut berada.

Bau air dari kolamnya kadangkala banger (busuk-Red). Karena itulah dinamakan Sendang Bangeran. Mata air Sendang Bangeran merupakan sumber air alami, dibentuk menjadi kolam dengan denah persegi panjang berukuran sekitar 4 x 6 meter. Pondasi kolamnya terbuat dari susunan batu bata kuno dengan dua tatanan penyangga batu bata berbentuk segitiga di setiap sisinya. Di sebelah timur laut kolam ada yang namanya koen atau tempat berendam kerbau sehabis dibuat membajak tanah garapan.

“Sebetulnya yang bisa menceritakan dengan detail jaman dulu adalah Mbah Dalang Saman. Dia adalah paman saya. Orangnya tidak kenal uang. Kehidupan sehari-harinya ya ke sawah, terus pulang ke rumah. Orangnya suka menolong orang. Kadang mendalang di perempatan jalan. Kalau dia masih hidup, dia bisa cerita, A sampai Z dia tahu. Orangnya tidak bisa baca aksara latin, tapi kalau aksara Jawa dia ahli. Dulu meninggal sekitar tahun 2002-2003,” terang Kamituwo yang diangkat mulai tahun 1992 ini.

Pintu masuk kawasan Sendang Bangeran menghadap ke barat, terlihat dari jalan dari pintu masuk turun menuju ke timur. Susunan batu bata kuno terlihat di bagian bawah dinding kolam, akan tetapi atasnya adalah susunan tambahan sewaktu ada kegiatan kuliah kerja nyata oleh salah satu universitas dari Yogyakarta. Pada dinding bagian atas ini sudah menggunakan batu bata baru. Untuk melindungi dari jatuhnya kotoran dibuatlah atap bangunan di atas kolam.

“Dulu tempat ini sempat mendapat bantuan atap dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora. Hal ini dimaksudkan agar diberikan di kolam sumber mata air terjaga dari kotoran. Sebelum ada moderninasi orang mengebor dan menggunakan jetpump, semua masyarakat dulu mengambil air di sini. Termasuk saya dulu juga mengambil air juga dari Sendang Bangeran. Saya pikul dari sendang sini menuju ke rumah,” kenang Sutarji dengan mata yang menerawang.

Sendang Bangeran sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari, seperti untuk mandi dan mencuci. Letak lokasi yang masih terdapat pohon-pohon besar membuat Sendang Bangeran masih dianggap sakral oleh masyarakat.

“Dulu di kolam sendang sini ada ikannya sebesar bantal. Jenisnya kutuk (ikan gabus-Red). Kalau dipanggil orang dia tidak takut, tidak pergi menghindar, tapi malah mendekat. Dia mati dan dikubur di sini, dengan dibungkus mori oleh Mbah Wongso. Dulu ada juga cerita seseorang yang menembak ikan di sini, tidak sampai rumah dia meninggal,” tuturnya.

Setiap Jum’at Pon banyak pengunjung di Sendang Bangeran. Tidak hanya warga setempat yang datang, banyak juga warga dari luar desa bahkan dari luar kota. Mereka yang mempunyai hajat atau niat khusus, biasanya datang ke Sendhang Bangeran untuk membersihkan diri, menjernihkan pikiran dan hati. Ada keyakinan bahwa energi yang kuat di wilayah ini bisa membantu melancarkan rejeki. Di sebelah barat kolam terdapat panggung dari beton yang digunakan sebagai tempat melakukan ritual nyadran (selamatan-Red) masyarakat sekitar.

“Dulu pada hari Jum’at Pon, pasti di sini ramai orang. Yang jaga di sini namanya Mbah Tarmo. Suatu contoh begini: “Aku suk nek isa tuku ngene arep adus ning sendhang.” Banyak orang yang berhasil, seperti orang Surabaya, bahkan di sini sampai nanggap wayang kulit, dan orang yang jualan nasi di Yogyakarta juga, kalau setiap airnya mau habis ya dia ambil ke sini,” terangnya .

Selain itu terdapat pula cerita-cerita mistis yang beredar. Seperti waktu tahun 1980-an, kalau dalam acara sedekah bumi tidak ada acara tayuban , wayang kulit atau kesenian Jawa, biasanya anak perangkat desanya akan kerasukan mahkluk halus.

“Namun untuk sekarang, warga juga turut memberikan masukan, seperti orkes dangdut di tahun ini, dan di tahun depan direncanakan dengan hiburan ketoprak,” kata Sutarji menjelaskan.

Namun bila dicermati, ada suatu keanehan terkait keberadaan sumber air di wilayah perbatasan Dukuh Bangeran dan Dukuh Kamolan. Bila warga melakukan pengeboran di wilayah Dukuh Bangeran terdapat sumber air. Tapi kalau melakukan pengeboran di wilayah Dukuh Kamolan tidak ada. Padahal kedua titik pengeboran hanya berjarak beberapa meter saja.

“Desa Kamolan kalau tidak ada sendang ini ya susah. Paralon-paralon ini larinya ya ke pedukuhan Kamolan semua. Kalau orang sini ya sudah punya sumur bor sendiri. Karena itu sawah yang di wilayah Kamolan tidak ada sumurnya. Kalau dibor tidak ada sumber airnya. Ini nyata, silahkan dicheck. Berbeda dengan sawah yang ada di Dukuh Bangeran. Bahkan dulu sekitar tahun 1996 di tengah sawah milik Pak Guru Jiyo pernah dilakukan pengeboran pembuatan sumur yang terletak di sebelah baratnya tower air, keluar udang-udang kecil dalam kondisi hidup. Saya yakin di dalam itu ada sungai bawah tanahnya,” kata Sutarji penuh keyakinan.

Kolam Sendang Bangeran yang kondisinya memprihatinkan (Eko Arifianto/ sekatcos)

Namun sayang, karena ketiadaan perbaikan dengan segera atas kerusakannya, keadaannya menjadi tak terawat dan memprihatinkan. Butuh segera penanganan. Karena manfaat ini sumber ini untuk masyarakat banyak, sudah selayaknya dijaga dan dilestarikan. Menurut kabar, Kamituwo Bangeran sudah minta sama Mbak Tutik (Dwi Astutiningsih, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blora-Red) agar bisa dimasukkan dana aspirasi, namun katanya akan dianggarkan di APBD Perubahan.

Sebagai salah satu ikon Desa Kamolan, Sendang Bangeran ini termasuk mempunyai sisi sejarah dan fungsi ekologi yang sangat menarik. Bila ada perbaikan tentunya bisa lebih bermanfaat bagi warga sekitar serta menarik pengunjung dan wisatawan.

Sebetulnya Bupati Blora pernah berkunjung ke Dukuh Bangeran, sewaktu ada acara sedekah bumi bebarengan dengan pencalonan dirinya menjadi bupati untuk yang kedua kali.

“Namun karena dulu Bupati belum mendengar cerita ini, dan belum ada pelaporan, jadi ya belum ada respon,” terang Sutarji pelan sambil menunjukkan foto sewaktu dulu bupati yang bernama Djoko Nugroho tersebut sedang menyanyi.  (Eko Arifianto/ TN)