Home Sastra Good Vibe Beetween You and Black Coffee

Good Vibe Beetween You and Black Coffee

285
0
SHARE

Untuk menuju ufuk, lalu mengetuk pagi, tak perlu dengan banyak Matahari. Cukup satu Matahari saja sinarnya sudah mampu menyelinap melalui lubang jendela kamarku, jendela yang sudah cukup berumur, hampir sama dengan umurku ketika rumah ini dibangun.

Sinarnya sudah mampu melewati beberapa inci regang gorden yang ada di ruang tamu, sampai ke lantai, dan seolah seperti anak-anak yang sedang bermain petak umpet sewaktuku kecil dulu, mengintip melalui celah dengan satu mata.

Minggu pagi, adalah hari terbaik dari keenam nama hari yang selalu kulewati menuju akhir pekan. Terbangun dengan pose malas, menggeliat, selimut pun menempel begitu posesif di tubuhku, enggan untuk disilakkan.

Teman terbaik di Minggu pagi adalah secangkir kopi hitam hangat, dengan puluhan buih menyerupai gelembung udara yang saling menempel dan bergerombol di setengah permukaan cangkir. Mungkin ada mimpiku semalam bersemayam di antara buihnya. Mimpiku tentangmu.

Aroma kopi yang naik ke permukaan seturut dengan uap didihan air setelah adukan terakhir, menerobos masuk ke lubang hidungku tanpa permisi, mirip seperti aroma tubuhmu yang selalu kuat, berputar-putar di dinding otakku, enggan memudar.

Telah kuhabiskan malam untuk memikirkanmu, berkhayal tentang rencana pertemuan kita yang akhirnya aku kalah dengan lelah dan seretan kantuk yang menyerang kedua mataku. Akupun pulas.

Merencanakan untuk bermimpi tentangmu? Aku pikir tidak, karena itu di luar kontrolku, hanya saja alam bawah sadarku terlalu penuh dengan ingatan-ingatan tentangmu. Namamu seperti kata “sakti” yang mampu mensugesti dan mempengaruhi moodku untuk menjalani hari.

Kopi pagi adalah alasan bagiku untuk tetap bangun dari ranjang dan bergegas untuk segera menikmatinya. Kamu, adalah alasan kenapa aku harus tetap tersenyum untuk menjalani hari, sampai kita bertemu nanti.

(Magani Kinanthi)