Home Breaking News Heboh! Ada Pemburu Harta Karun di Situs Tapaan Pengging Banjarejo Blora

Heboh! Ada Pemburu Harta Karun di Situs Tapaan Pengging Banjarejo Blora

3261
0
SHARE

Blora, sekat.co – Siang hari yang terik di Selasa Kliwon, 12 September 2017, tak membuat surut tim Jelajah Blora menguak misteri situs-situs sejarah di wilayah Kabupaten Blora. Hari ini tim yang terdiri dari lima orang mengunjungi situs Tapaan Pengging yang terletak di Dukuh Wadas, Desa Mojowetan, Kecamatan Banjarejo, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Jarak dari Alun-Alun Blora ke Tapaan Pengging sekitar 15 kilometer. Luas areal situs ini lebih kurang 3 hektar. Lokasinya sebelah Timur situs Sumur Pitu dan terletak di dataran yang lebih tinggi.

Cerita yang berkembang di masyarakat sekitar, tempat ini ada hubungannya dengan  Ki Ageng Pengging. Beliau adalah ayah dari Mas Karebet alias Joko Tingkir yang akhirnya menjadi Sultan Hadiwijaya, seorang pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang yang memerintah tahun 1549-1582. Ki Ageng Pengging alias Kebo Kenanga adalah seorang murid terbaik Syekh Siti Jenar yang terkenal dengan ajaran Manunggaling Kawula-Gusti, yang mengajarkan kesetaraan manusia dan menolak basa-basi duniawi. Karena ajaran tersebut secara sepihak dianggap keluar jalur oleh kelompok Wali Songo dan Kerajaan Demak pada masa pemerintahan Raden Patah, maka Ki Ageng Pengging akhirnya dituduh memberontak. Sunan Kudus kemudian diutus untuk menghukumnya. Namun Ki Ageng Pengging tetap kukuh pada pendiriannya. Merasa ditekan, akhirnya Ki Ageng Pengging beserta pengikutnya melarikan diri ke arah timur. Tepat di wilayah administratif  Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora sekarang ini, lalu mereka bersama-sama mendirikan rumah tinggal dan pertapaan, yang kemudian dikenal dengan Tapaan Pengging.

Ketika mengayunkan kaki di tanah kering dan sela-sela rumput gajah ini, alangkah kagetnya para anggota tim jelajah ketika menemui enam lubang besar dengan ukuran sekitar 3×2 meter dan kedalaman 1,5 meter di depan mata. Untuk mendapatkan keterangan, tim Jelajah Blora kemudian menemui warga yang sedang panen tebu di tegalan.

Warga menunjuk lubang yang telah digali oleh para pemburu harta karun (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Penggalian itu sudah berjalan empat hari. Kami tidak mengetahui siapa nama dua orang yang mengaku berasal dari Demak tersebut. Biasanya mereka menginap di musholla terdekat. Yang dicari kemungkinan barang antik peninggalan kerajaan. Kalau tidak itu ya tidak mungkin. Saat ini orangnya pulang, libur. Alasannya dananya terlambat. Pemilik lahan bernama Suwardi saya kira juga rugi. Bagaimana kalau lahan sudah diongker-ongker tidak dikembalikan lagi. Sedangkan saat ini, apa yang akan digunakan untuk mengembalikan. Perjanjiannya seperti apa saya tidak tahu. Seumpama ditinggal seperti ini, siapa yang akan mengembalikan. Siapa yang rugi, bukankah mereka orang-orang yang dipekerjakan dan orang yang punya tegalan juga,” kata Yasir, warga setempat yang menyiapkan air minum untuk para pekerja yang sedang memanen tebu.

Batubata-batubata berbentuk persegi panjang yang cukup besar berukuran lebih kurang panjang 36 cm, lebar 21 cm dan tebal 9 cm itu terlihat berserakan di dekat lubang galian. Sebagian sudah patah dan hancur karena kesalahan penanganan. Susunan batubata ini terletak pada kedalaman 25 cm dari permukaan tanah. Ada yang membujur dari Timur–Barat , ada juga dari Utara –Selatan. Struktur batubata ini sekilas berbentuk pondasi, diperkiraan dahulu adalah pendopo Kerajaan Pengging.

Batubata-batubata kuno terlihat berserakan di situs Tapaan Pengging (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Sepertinya dinas harus menghentikannya dulu. Saya bisa menyatakan bahwa penggalian itu ngawur. Dengan alasan, pertama: tanpa ijin, kedua: bertujuan untuk pribadi atau golongan dan ketiga: melanggar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang  Cagar Budaya, dan terlebih secara disiplin ilmu,” tandas Indah Asikin Nurani dari Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta melalui sambungan selulernya, mengingatkan.

Dulu kabarnya sempat ada warga yang saat membajak sawah menemukan cawan dan mangkuk dari keramik kuno bergambar sepasang ikan wader dan juga nampan dari logam. Benda-benda tersebut diketahui karena menyangkut di luku (bajak-Red) – alat di pertanian yang digunakan untuk menggemburkan tanah sebelum melakukan penanaman dan penaburan benih yang biasanya ditarik oleh seekor sapi, miliknya.

Selain di lokasi situs Tapaan Pengging ini, ternyata banyak juga penemuan benda-benda kuno di sekitarnya.

“Ada orang yang menemukannya emas di pinggir hutan. Dia adalah penggarap lahan hutan untuk pertanian. Barang temuan itu sudah menjadi bentuk perhiasan. Kemungkinannya sekarang sudah dijual. Banyak, temuannya ada segini,” kata Tarsono, seorang warga sembari menangkupkan kedua telapak tangannya memberikan kode segenggam.

Pohon dan buah Maja di dekat lokasi situs Tapaan Pengging (Eko Arifianto/ sekatcos)

Menurut keterangan warga, berbeda dengan yang di hutan, yang ditemukan di Tapaan Pengging biasanya emas mentah, bukan barang kerajinan seperti perhiasan. Besarnya biasanya sebesar biji jagung. Rata-rata orang yang menemukan emas di situs ini adalah tidak dengan sengaja. Banyak ditemukan pula fragmen keramik dari dinasti Tang abad VII dan dinasti Song sekitar abad X. Diperkirakan situs Tapaan Pengging ini merupakan pemukiman masa Klasik (Hindu-Buddha).

Di dekat areal pemakaman terdapat pohon asam Jawa (Tamarindus indica) yang sangat besar. Kemungkinan sudah berusia ratusan tahun. Terlihat pula beberapa pohon Maja (Aegle marmelos) dengan buahnya yang khas. Selain itu, yang cukup banyak menjadikan pertanyaan, di kawasan situs Tapaan Pengging ini tersebar tahi besi yang cukup mistis khasiat dan kegunaannya, serta tinggi harga jualnya di pasar dunia.

Ketika dikonfirmasi –walaupun posisinya ada di Semarang, namun Kepala Dinporabudpar (Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata), Drs. Kunto Aji, tak lama setelah dikasih kabar oleh tim Jelajah Blora dengan sigap segera menindaklanjuti dengan meneruskan laporan tersebut ke staf Bidang Budaya untuk segera terjun ke lapangan dan berkoordinasi dengan kepolisian setempat. (Eko Arifianto/ TN)