Home Breaking News Satu Suro, Duta Jelajah Blora Siapkan Diri Untuk Uji Nyali di Kerajaan...

Satu Suro, Duta Jelajah Blora Siapkan Diri Untuk Uji Nyali di Kerajaan Wewe Gombel

10571
0
SHARE

Blora, sekat.co – Sebanyak 9 (sembilan) orang dari duta Jelajah Blora rencana akan mengikuti Jelajah Malam Jum’at Kliwon di Kerajaan Wewe Gombel yang terletak di Eks Hotel Sky Garden wilayah Bukit Gombel Semarang, Jawa Tengah, hari Kamis, 21 September 2017 pukul 22.30 WIB sampai dengan 01.00 WIB. Penjelajahan yang sarat dengan fenomena dua dunia ini berlokasi di seberang Hotel Alam Indah, atas Taman Tabanas Gombel.

Acara ini dibuat oleh Komunitas Semarangker yang bertujuan untuk menguak mitos dan misteri 1 Suro. Kebetulan tim Jelajah Blora mendapat kesempatan untuk turut mengikuti jelajah di Bukit Gombel, yaitu sebuah tempat yang cukup dikenal di dunia mistis. Sebuah nama yang cukup menggetarkan paranormal dan praktisi supranatural. Suatu area di daerah Semarang atas yang termasuk salah satu dari tujuh tempat terangker di Indonesia.

Salah satu sudut ruangan di eks Sky Garden yang terkenal angker (Dok. Gendutdua)

Di dalamnya terdapat eks Hotel Sky Garden yang mangkrak. Dengan puluhan kamar kosong, villa yang berantakan dan kolam renang yang juga tak kalah seramnya, konon di daerah Bukit Gombel ini banyak orang mati akibat pembantaian kejam di jaman penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Selain itu, menurut kabar sering terjadi pembunuhan dan orang bunuh diri. Kawasan ini diduga digunakan sebagai tempat pembuangan mayat korban pembunuhan. Menurut cerita, terdapat banyak korban kecelakaan yang mati secara mengenaskan di daerah tanjakan dan turunan curam Bukit Gombel.

“Karena yang akan dituju nanti adalah Kerajaan Wewe yang sangat terkenal, maka perlu kiranya kita membersihkan diri, membentengi dengan keyakinan kepada Yang Maha Pencipta,” kata Agus Sadewo, seorang duta jelajah dari padepokan Sendang Klampok, Tempurejo, Blora.

Memang tak dipungkiri, mitos tempat pembuangan berbagai jin yang dipindah dari Lawangsewu semakin menguatkan mitos angker dan seram di daerah Bukit Gombel tersebut. Keangkeran Bukit Gombel ini terus melegenda sampai sekarang dengan berbagai macam mitos penampakan. Dari serdadu Belanda tanpa kepala, tentara Jepang yang berlumuran darah, siluman macan putih, siluman macan loreng, siluman ular naga buntung, laskar prajurit Nyi Roro Kidul, siluman ular besar berkepala perempuan atau sering disebut Nyi Blorong, siluman manusia berkepala ular yang bernama Ki Sengot, Banaspati, Kuntilanak, Sundelbolong, Pocong, Wewe Gombel dan lain-lainnya.

Bekas kolam renang yang sekarang diduga tempat bersemayam mahkluk-makhluk gaib (Dok. Semarangker)

Bahkan beberapa stasiun TV Swasta yang pernah mengadakan liputan di wilayah ini juga mengalami gangguan, baik dari kamera dan lampu syuting pecah, tenda operator roboh, sampai crew dan bintang tamu yang kesurupan.

Komunitas Semarangker mengajak tim Jelajah Blora dan kelompok jelajah lainnya berwisata jalan-jalan malam dengan memasuki kerajaan gaib di Bukit Gombel. Berjalan membelah dingin dan gelapnya malam, menyibak rerimbunan semak belukar dan pepohonan. Tim Jelajah Blora direncanakan akan turut memasuki lorong-lorong , kamar-kamar hotel yang mangkrak dan kosong namun “berpenghuni” tersebut. Duta jelajah dari Blora yang terdiri dari putra-putra daerah Kabupaten Blora akan menjelajahi areal sekitar kolam renang mangkrak nan angker itu. Termasuk di dalamnya akan mendatangi titik-titik angker yang ada di Kerajaan Wewe Gombel itu. Tentunya bersama akan mereka rasakan fenomena di luar nalar logika yang ada di sana.

“Tentunya kita perlu mempersiapkan uang saku,” kata Kenthut Prasetya, seorang duta jelajah dari padepokannya di Gerdu Gendruwo.

“Iya, selain itu persiapan air putih dan makan kenyang agar tidak gemetar,” tambah seorang duta jelajah berambut gimbal bernama Bruriya Nurjiwana.

Eks Hotel Sky Garden, Bukit Gombel, Semarang (Cornelius Bintang/ Kumparan)

Allah hanya memberikan pertolongan kepada orang yang bertakwa dan yakin akan pertolongan-Nya. Kadang sebagai manusia kita lupa dan kurang bertakwa sehingga kurang yakin akan pertolongan-Nya.

“Intinya, yakin bahwa tiada kekuatan yang mampu dan menandingi daripada kekuatan Rabb sang pemilik langit dan bumi,” tegas Ari Prayudhanto, seorang duta dari Pondok Gedongsari, Blora.

Namun, apakah mitos-mitos yang beredar di masyarakat tersebut benar? Fenomena apa yang akan terjadi bila kita memasuki wilayah tersebut? Misteri apa yang ada di area yang angker itu? Akankah para penghuni  Kerajaan Wewe Gombel ini akan menampakkan wujudnya?

Penjelajahan malam hari tim Semarangker di situs angker (Dok. Semarangker)

“Tak dipungkiri, memang semua orang mempunyai rasa takut, tapi tidak semua orang bisa mengelola rasa takutnya. Untuk itu kami minta do’a restu masyarakat Blora semuanya agar sama diberikan kebaikan dan keselamatan. Memang dalam kesempatan yang baik di bulan Suro ini merupakan saat yang tepat untuk mengenali rasa takut serta menyikapi sesuatu yang gaib dengan cerdas dan bijak. Ini adalah ajang memperkuat tali silaturahmi. Silahkan kalau ada kawan-kawan di Blora lainnya yang ingin ikut. Ya, kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita,” tutur Eko Arifianto menirukan ucapan sang penulis dari Blora, Pramoedya Ananta Toer.

Di balik kisah-kisah yang ada, apakah cerita-cerita angker dan seram tersebut mitos atau fakta? Duta Jelajah Blora yang akan menjadi saksi dan narasumber tentang fenomena apa yang akan terjadi di lokasi tersebut nanti.

Selain itu para peserta jelajah malam di Bukit Gombel sebaiknya mengikuti tata tertib yang diberikan. Hal ini seperti yang dikatakan Pamerado, salah satu panitia acara dari Komunitas Semarangker:

“Untuk kebaikan kita bersama, memang ada banyak tata tertib yang diberikan. Beberapa di antaranya adalah para peserta minimal berusia 15 tahun. Bila usia kurang dari 15 tahun wajib didampingi saudaranya yang lebih tua. Untuk peserta wanita yang sedang datang bulan atau hamil atau menyusui dimohon memberitahu panitia agar diback up secara khusus. Peserta harus dalam kondisi jasmani prima dan fit atau tidak dalam keadaan sakit atau kecapekan atau mabuk atau stress. Peserta musti dalam kondisi psikis mantap dan yakin. Untuk pakaian, peserta diwajibkan bercelana panjang longgar tidak ketat dan bersepatu kets. Karena beberapa hari belakangan ini Semarang diguyur hujan, peserta diwajibkan membawa senter dan jas hujan untuk antisipasi bila turun hujan saat tour. Peserta jelajah malam diwajibkan sudah makan malam atau tidak dalam keadaan perut kosong saat mengikuti tour. Untuk kebutuhan pribadi seperti minuman, permen, minyak angin, tisu, balsem, dll, peserta harus bawa sendiri. Peserta jangan panik atau teriak-teriak saat melihat penampakan atau fenomena di luar nalar logika,” katanya mengingatkan.

Komunitas Semarangker kelompok penjelajah tempat-tempat angker (Dok. Semarangker)

“Peserta juga dilarang membawa senjata tajam atau senjata api. Peserta dilarang meminta apapun di lokasi tour, seperti jimat, keris, pesugihan, nomer togel, dll. Peserta jelajah malam dilarang mengambil benda apapun di lokasi tour. Peserta dilarang mengambil gambar seperti foto atau video di lokasi-lokasi tertentu. Peserta dilarang keras bercanda dan tertawa terbahak-bahak di lokasi tour. Peserta dilarang mengumbar omongan yang tidak pantas dan berkesan menantang makhluk halus. Peserta dilarang juga melakukan ritual apapun di lokasi tour seperti tabur bunga, bakar menyan, dll. Peserta jelajah dilarang mencoba ilmu kanuragan atau adu sakti atau aji digdaya di lokasi tour. Peserta dilarang buang sampah, air kecil atau besar dan meludah di sembarang tempat. Peserta jangan memisahkan diri dari barisan rombongan yang sudah diatur. Peserta dilarang berbuat asusila atau bicara kotor seperti mengeluh dan mengumpat di lokasi tour. Peserta diwajibkan menjaga daya khayal dan imajinasinya. Hal ini dikhawatirkan akan divisualisasikan oleh jin. Peserta diwajibkan membaca do’a selama perjalanan menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Peserta diwajibkan cuci tangan dan membasuh muka dengan air do’a penetralisir di akhir tour. Setelah mencuci dan membasuh diri dengan air do’a penetralisir, peserta diwajibkan duduk istirahat sejenak. Peserta diwajibkan untuk segera meninggalkan lokasi tour setelah istirahat sejenak dirasa cukup. Peserta tidak diperkenankan jalan-jalan sendiri di lokasi tour setelah tour usai,” jelas Pamerado dari Komunitas Semarangker yang menjadi panitia acara jelajah malam di Kerajaan Wewe Gombel.

Pamplet acara Jelajah Malam Jum’at Kliwon di Kerajaan Wewe Gombel (Dok. Semarangker)

Saat ini persiapan sedang dilakukan oleh para duta jelajah dari Blora yang besok Kamis siang (21/9) akan berangkat ke Semarang.

“Ya, benar, perlu kecerdasan dan kebijakan dalam menghadapi sesuatu yang gaib. Karena mereka kadang bisa memvisualisasikan apa yang Anda takutkan, jadi para duta jelajah dari Blora yang akan mengikuti jelajah malam Jum’at Kliwon di Kerajaan Wewe Gombel perlu kiranya menjaga fisik dan mentalnya. Tidak ada rekayasa, jebakan, tipuan, kejutan dan property apapun di lokasi tour. Bila ada fenomena di luar logika dan nalar sehat seperti penampakan sesuatu, termasuk suara, bau dan aroma yang ada di lokasi tersebut, itu adalah kebesaran Tuhan Yang Maha Esa,” pungkasnya dari lokasi penjelajahannya (18/9) di Segara Kidul, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul. (TN)