Home Breaking News Jelajah Blora: Menguak Misteri Tumbal Jaran Kepang Penjaga TPK Klopodhuwur Blora

Jelajah Blora: Menguak Misteri Tumbal Jaran Kepang Penjaga TPK Klopodhuwur Blora

3809
0
SHARE
Jelajah Blora: Menguak Misteri Tumbal Jaran Kepang Penjaga TPK Klopodhuwur Blora

Blora, sekat.co – Pada waktu agresi militer Belanda kedua tahun 1948, ada cerita tentang kisah tiga orang saudara seperguruan di wilayah Blora bagian Selatan. Mereka adalah Noyo Wasidan, Guno Glempo dan Suro Dandang. Karena pemerintah melihat kemampuan mereka bertiga dan butuh tenaga untuk membantu mengamankan aset-asetnya, pemerintah lalu menawari ketiganya agar turut bekerja untuknya.

Noyo Wasidan asli dari Dukuh Kedungnongo, Desa Sidomulyo, sebelah Utara Jurangjero, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Rambutnya panjang dan digelung. Karena mempunyai anak tiri bernama Wongso Sadik, kerap kali ia dipanggil dengan sebutan Noyo Pak Sadik. Walau perawakannya kecil, namun karena dipandang sebagai orang yang banyak ilmudi sebuah perguruan olah kanuragan, ia ditemui paling awal. Pihak pemerintah menyatakan penawarannya, termasuk memberikan besaran nilai gaji perbulan yang akan mereka berikan. Melihat kesempatan emas itu, Noyo Wasidan menyetujuinya. Sesuai dengan keahliannya, Noyo Wasidan kemudian ditugaskan sebagai penjaga kantor termasuk lemari besi atau brankas berisi surat-surat dan keuangan pihak pemerintah.

Suro Dandang lahir di Desa Bogorejo, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora sebelah Barat. Mempunyai istri seorang perempuan dari Wotrangkul, Klopodhuwur. Suro Dandang adalah seorang pekerja yang ulet. Badannya tinggi besar. Suro Dandang terus menekuni ilmu kanuragan dan mendalami ilmu kebatinan setelah lulus dari perguruannya. Berbeda dari kedua temannya, ia memilih hidup bekerja membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Suro Dandang menguasai ilmu Bandung Bondowoso, Singa Barong dan Jaka Pengalasan. Sebagai syarat laku dari ilmu yang disebutkan terakhir, menyebabkan ia memutuskan tinggal di hutan belantara.

Guno Glempo adalah adik seperguruan paling muda. Dia berasal dari Desa Klopodhuwur. Rumahnya sebelah Selatan sekolahan. Kerja di perusahaan minyak. Kesukaannya main perempuan dan menghambur-hamburkan uang. Posturnya kurus tinggi. Kehidupannya lebih banyak digunakan bersenang-senang. Karena gaya hidup yang royal itulah, Guno Glempo jatuh terlilit hutang. Ia berfikir keras bagaimana bisa mendapatkan uang dalam sekejap untuk melunasi hutang-hutangnya yang hampir segunung dan melanjutkan gaya hidup bersenang-senangnya. Guno Glempo kemudian memutuskan merampok. Ia lalu menemui dan merengek minta bantuan Suro Dandang. Dengan muslihatnya Guno Glempo mempengaruhi Suro Dandang. Agar berhasil ia juga mengatakan bahwa ia baru percaya akan kesaktiannya, bila Suro Dandang dapat membuktikan bisa mengambil brangkas tersebut.

Suro Dandang berniat ingin membantu saudara seperguruannya. Tak disadari ia juga terpancing akan apa yang diomongkan oleh Guno Glempo. Pada suatu malam hari yang telah mereka berdua rencanakan, Guno Glempo dan Suro Dandang berjalan menuju ke lokasi bekas perkantoran Belanda tersebut. Mereka lihat Noyo Wasidan, kakak seperguruannya yang menjadi ketua petugas jaga, sedang berjalan mengitari areal perkantoran. Sementara di depan kantor ada dua orang penjaga yang masih terjaga. Dari gerakan mulutnya mereka terlihat berbincang. Guno Glempo nerhenti dan berlindung di balik semak-semak, matanya mengawasi dari luar pagar. Suro Dandang duduk bersila. Sejenak dia terlihat komat-kamit mengeluarkan ajian Sirep Begananda. Tak berselang lama, terlihat dari kejauhan mulut Noyo Wasidan seperti menguap. Beberapa kali dirinya terlihat menguap lebar, hingga terlihat dia sampai menggerutu oleh kantuk yang begitu dahsyat menyerang. Sungguh tak tertahankan. Hingga akhirnya ia memilih duduk di kursi yang terletak di bawah atap teras. Tertidur dengan kepala disandarkan pada tiang. Kedua penjaga yang sebelumnya masih berbincang juga sudah mendengur. Terdengar cukup keras, pertanda tidurnya cukup pulas. .

Karena sebelumnya sudah mengetahui peta lokasi berikut isinya, tak banyak kendala saat pengambilan brangkas. Hanya sedikit tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkat kotak besi itu keluar dari sarangnya. Walaupun dilakukan sendirian, bagi Suro Dandang hal tersebut sangat ringan dibandingkan kerja sehari-hari mencangkul tanah yang kering kerontang untuk diolah menjadi lahan pertanian. Suasana yang sepi dan sama sekali tak ada penjaga yang mengawasi membuat semakin cepat dan mulusnya aksi perampokan di kantor malam itu.

Pagi harinya, Noyo Wasidan langsung ditangkap. Ia terancam hukuman mati karena didakwa bersekongkol dengan Suro Dandang dan Guno Glempo membobol brankas berikut isinya. Namun dia membantah bahwa sama sekali dia tidak mengetahuinya. Dia bilang bersama dua orang rekannya juga melakukan tugas jaga. Pihak pemerintah sama sekali tak menggubrisnya.

Melalui pangreh praja, akhirnya Noyo Wasidan dibawa aparat untuk menjalani proses penyelidikan. Dalam keadaan terikat, tubuh Noyo Wasidan dipukuli dengan menggunakan bambu bongkotan. Bambu dipukulkan ke punggungnya hingga hancur terbelah berkeping-keping menjadi beberapa bagian. Tapi sungguh mengherankan, walau di punggung berbekas kemerahan, namun tak membuat tubuhnya terluka atau meremukkan tulangnya.

Karena kasihan terhadap saudara seperguruannya, akhirnya Suro Dandang menyerah. Dia mengakui bahwa dia yang mengambil brankas tersebut. Namun proses interogasi masih terus berlanjut. Kaki Suro Dandang kemudian diikat dan ditarik ke atas hingga 10 meter dengan kepala di bawah. Pada titik tertinggi tali kemudian dilepaskan. Pertemuan kepala ditambah beban berat badan dengan permukaan tanah yang berdebu menimbulkan suara berdebum. Tubuh Suro Dandang ditarik lagi. Setelah itu dilepaskan lagi. Begitu dilakukan berkali-kali. Banyak orang tak tega dan menutup mata melihat aksi interogasi yang sarat dengan penyiksaan tersebut.

Namun walau hal tersebut dilakukan berkali-kali, tak membuat Suro Dandang mengaku dan tewas. Melihat kejadian seperti itu, semakin beranglah pihak pemerintah. Namun setelah dilakukan dan ternyata mendapatkan hasil nihil, pihak pemerintah dan antek-anteknya menjadi putus harapan. Karena kewalahan, akhirnya pemerintah meminta bantuan guru Suro Dandang untuk mencari tahu kelemahannya. Di bawah ancaman, gurunya akhirnya membuka sisi kelemahannya. Sang guru mengatakan bahwa Suro Dandang akan mengatakan titik lemahnya sewaktu dia mengigau dalam tidurnya. Hal tersebut benar-benar diperhatikan dan dipelajari oleh pemerintah. Pada suatu ketika, telik sandi pemerintah melaporkan bahwa Suro Dandang pada waktu tidur mengingau. Dia mengatakan bahwa tinggal di desa di mana banyak sekali bergaul masyarakat luas itulah titik kelemahannya.

Kemudian dilakukanlah sejuta cara untuk menjadikan Suro Dandang kembali tinggal di desa. Hingga akhirnya didapatlah sebuah cara yang jitu, yaitu menutup garapan Suro Dandang di hutan. Karena lapangan pekerjaan di hutan tidak ada, akhirnya ia kembali ke desa. Dengan orang-orang yang mempunyai pandangan beraneka ragam dan beraneka ragam pula maksiat yang dilakukannya, menjadikan Suro Dandang tidak lagi mematuhi batas-batas laku ilmu yang didalaminya. Ia tewas sebelum setahun paska kepindahannya. Terbuktilah kini pantangan dan kelemahan ilmu Jaka Pengalasan yang dipelajarinya.

Di lain tempat, akhirnya pihak kolonial memberikan pilihan pada Noyo Wasidan. Dia dijanjikan akan dibebaskan dari segala tuduhan namun dengan satu persyaratan, yaitu berjanji tidak akan membiarkan kejahatan perampokan dan pencurian seperti hal itu terulang kembali di kemudian hari. Entah siapapun yang melakukan, Noyo Wasidan adalah penanggungjawabnya. Dan bagaimanapun caranya itu semua diserahkan kepada Noyo Wasidan.

Dalam kekalutan, Noyo Wasidan menyetujuinya. Sedikit menunda kematian, pikirnya. Dengan kebingungan Noyo Wasidan lalu menuju ke rumah gurunya. Setelah Sang Guru melakukan semedi, muncul petunjuk bahwa dia harus membuat tumbal persembahan yaitu berupa seekor kuda putih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, kemalangan Noyo Wasidan seakan-akan terus mendera. Darimana dia harus membeli seekor kuda putih yang harganya lebih mahal dari harga nyawanya.

Dalam keterhimpitannya tersebut, Noyo Wasidan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Dia lalu diam merenung di tengah hutan seorang diri meminta keadilan-Nya. Hingga beberapa lama akhirnya ada sebuah jawaban: Hal yang sudah terjadi harus dijadikan pelajaran dan hendaknya perbuatan tidak baik jangan diulangi. Seekor kuda putih adalah sebuah simbol pengendalian diri dari godaan-godaan nafsu duniawi. Itulah tumbal sesungguhnya bila ingin hidup selamat dunia dan akherat.

Sebagai gantinya dia lalu membuat kuda persembahan. Dengan didahului ucapan niat yang kuat, ditebanglah beberapa pohon bambu terbaik. Dipotong, lalu dibelah berbagai macam ukuran baik panjang,lebar maupun tebalnya sesuai dengan peruntukannya. Dengan melakukan tirakat penuh, dia kemudian membuat tumbal dengan segala daya cipta, rasa dan karsanya. Dikerjakannya siang dan malam. Dianyamnya dengan penuh ketekunan. Dirajahnya dengan penuh keyakinan. Dalam 7 (tujuh) hari selesailah seekor kuda putih persembahan.

Kuda tersebut kemudian ditanamnya di titik tengah alam wilayah yang akan dijaganya. Pepohonan trembesi di sekelilingnya menjadi saksi atas penggalian dan penguburannya. Diikursertakan pula sebuah cemeti tiga warna yang berfungsi untuk melecut dan membangunkan kuda bila ada situasi genting yang membutuhkannya. Awan bergelayut di langit sesekali menghalangi cahaya bulan menaungi proses ritual yang dilakukannya.

Sejak kejadian itu, tidak terdengar kabar lagi adanya pencurian dan perampokan di tempat tersebut. Noyo Wasidan bekerja kembali sebagai penjaga kantor, dan kemudian memutuskan menjdai petani hingga hari tuanya.

Konon, di lokasi tempat penimbunan kayu Klopodhuwur ini sampai sekarang sering terjadi penampakan kuda kepang berwarna puth. Masyarakat Klopodhuwur menganggap bahwa itu adalah sebagai perlambang roh pelindung atau penjaga. Kadangkala kemunculannya bisa terlihat, namun kadangala hanya suara bunyi derap dan ringkikannya.

TPK Klopodhuwur masuk dalam wilayah BKPH Kalisari. Bangunan loji yang ada dibangun waktu masa penjajahan kolonial Belanda. Bangunan bagian selatan adalah sinderan, dan sebelah utaranya adalah tempat penimbunan kayu. Dulu terdapat rel lori yang dibuat untuk mempermudah akses transportasi kayu-kayu jati. Lokasi tersebut menjadi tempat titipan kayu sementara atau sering disebut dengan TPN (Tempat Pengumpulan Kayu).

Banyak kejadian aneh yang dilihat oleh warga. Menurut cerita masyarakat, seorang mandor tebang juga sering melihat penampakan seperti anak-anak kecil yang mungkin perwujudan tuyul. Pernah ada kejadian juga seorang sopir truk pasir yang lewat melihat penampakan bahwa TPK (Tempat Penimbunan Kayu) Klopodhuwur tersebut seperti kebun binatang di mana banyak sekali hewan-hewan buas dan liar berbagai jenis di dalamnya.

Pada sekitar tahun 2008, lokasi ini pernah digunakan untuk kemah Pramuka. Cukup banyak peserta yang kerasukan. Sebagian besar adalah perempuan. Dari mulai pukul 02.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB. Bahkan ada satu orang peserta dari Sukorejo sadar diri setelah 2 (dua) hari kemudian. Paska kejadian itu kemudian dilakukan selamatan di musholla TPK dengan mengundang perangkat desa tokoh masyarakat dan Mbah Modin juga.

Sewaktu dilakukan penelitian energi metafisik di malam hari, cukup terlhat banyak orbs di lokasi. Ada yang putih dan ada yang berwarna merah. Sewaktu dilakukan penerawangan, ada sosok gajah besar dengan gading dan belalainya yang seperti sedang duduk. Tampak pula seorang nenek tua berjarit dan juga penampakan seorang yang sepertinya tergantung dengan lidah terjulur karena lehernya terjerat seutas tali di pohon.

Itulah sejarah dan keanekaragaman mahkluk yang ada di TPK Klopodhuwur BKPH Kalisari Kabupaten Blora.

Semoga bisa memberikan manfaat bagi kita untuk lebih bijak dalam menjalani hidup dan kehidupan.

(Eko Arifianto/ TN)

*Sumber cerita tutur didapat dari Sukadi (58 ), salah seorang buyut Lurah Buseng dan Kang Gik Klopodhuwur. Pewawancara: Eko Arifianto dan dibantu Agus Sadewo di Dukuh Wotrangkul, Desa Klopodhuwur, Blora, Kamis, 28 September 2017 dan Sabtu, 30 September 2017