Home Sastra Elegi Pagi di Kedai Reyot

Elegi Pagi di Kedai Reyot

301
0
SHARE

ELEGI PAGI di KEDAI REYOT
Oleh: Aang Kartika

Kedai reyot itu selalu buka pukul 06:30 seiring lembut belai mentari. Berdiri dari sangga anyaman bambu dan kayu lapuk yang telah disantap rayap, kedai reyot itu mampu berdiri bertanding dengan usia penghuninya yang tak kalah renta. Sebentar duduk setiap menyibak tirai. nampak berkilau sesekali rambut putih dalam tampias mentari, seperti gumpalan awan yang menyimpan permata.

Warung reyot itu menarikku, seperti ada juntai iba.. ataukah mahabah si embah yang menyeret instingku, aku tak tahu.
Setiba diantaranya, ku lepas nada sapa pada ritmis datar dan tonalitas rendah. Wajah penuh kerut itu hanya melempar senyum dan manggut-manggut.

Kutatap matanya namun tak lagi jelas batas hitam dan putih, nyatanya nampak berair bagai genangan selepas hujan. Sepagi ini dengan raga kepayahan, apa yang bisa kau sajikan? Embah malah menggulung kain dan menumpuk di atas bantal tanpa selosong.

Bale bambu selebar daun kelor itu ternyata menjadi peraduan lelapnya setiap malam. Sudah barang tentu hembusan angin yang menyelinap dari lubang anyaman bambu serasa bagai jarum menusuk tubuh renta itu.

Akhirnya embah tangguh itu membuka suara, lirih berucap bukan menawarkan jamuan, hanya diminta agar aku sedikit lebih bersabar berbesar hati menunggu langkah ringkihnya.

Di seret langkahnya keluar pintu belakang anyaman bambu, sekejap terdengar beradu piring dan gelas. Mungkin kemarin lelah keburu menyergap, hingga gelas tak sempat di sucikannya.

Nenek renta itu kembali masuk ke dalam kedai yang aku yakini sebagai satu-satunya benteng raga letihnya itu. Hanya membawa dua gelas dan tiga sendok. Barulah dia melempar tanya pada apa yang menjadi kehendakku untuk di sajikan.

Sempat sunyi aku meraba pada pilihan suguhan yang tidak terlalu merepotkan. Namun dia segera menyanggah pesimisku dengan tawaran “kopi?”. Iya, aku sendiri seperti berada pada quiz yang ingin menang tanpa tergopoh, hendak membuktikan benarkah dia sekokoh itu.

Gemericik air dituang dari teko plastik yang telah pudar warnanya mengalir pada panci gosong tanpa pegangan di atas tungku tanpa percik. Belum nampak warna merah kekuningan sumber panas di dalam tungku, sementara pipi peyot itu sudah semakin kendor meniup bara namun tak kunjung hangat panci steinless yang berselimut hitam itu, malah seisi kedai penuh sesak jelaga mencekik jenak.

Dari tungku yang hanya bersusun batu itu seolah menjadi kaleidoskop himpitan keadaan yang menjelma sebuah perjuangan. Sesekali batuk kering terdengar menggores kerongkong orang tua itu. Rasanya ingin kusambar tungku itu agar embah cukup duduk melihat api menyala. Tapi ternyata api telah berdansa pada batang kering dan sorai asap tak lagi mengekang jantung.

Sekali lagi aku dimintai keringanan waktu, kesadaran seorang beringas pada yang lemas. Dua gelas kopi hitam mengepul lembut menggeser aroma kayu bakar. Satu gelas digiring kepadaku dan sisanya membasahi kerongkong kering pengepul tungku. Nenek itu jelas mensurgakan kopi jika melihat dari caranya meminum sembari menghisap.

Sambil menyelam pada kopi hangat yang kurang gula, aku membuka ucap dengan tanya telah berapa lama engkau mengarungi samudra hidup? Dia tak mampu menggapai bilangan atas perjalanan masa lalunya, hanya Soeharto figur kenangan sebagai Presiden tak tergantikan menggores empiris nalarnya.

Datang seorang laki-laki bertelanjang dada bercelana hitam. Kulitnya yang pekat mencuatkan keakraban dengan sinar sang surya. Dia duduk melepas caping lalu meletakkan di atas meja. Tanpa kata menelanjangi diriku dengan tatapan dalam seperti lembah yang belum terjamah. Ku rangkai urat senyum sebagai sapa menyungging pertemuan, dan bapak penuh sahaja membalas itikad baik dengan hal serupa.

Seketika nenek tua beranjak menggapai panci dan menuang air ke dalam. Sepertinya sudah tradisi pada kehadiran bapak ini selalu menghendaki menu yang sama, meski tanpa ucap namun adat mampu menjadi kontak realisasi hasrat, ataukah memang itu satu-satunya menu yang ada?. Kopi hitam di cangkir kecil tanpa pegangan telah tersuguh sempurna tanpa mandat. Dan berucap nenek renta itu hendak melenggang sekejap berjalan di sela parit menuju punden belakang warung dimana sumber air mengalir di antara bilik.

Ku pandang semakin menjauh, membuat hatiku yang beku luluh di antara decak kagum dan caci maki pada manja hidupku. Ku coba menggapai berita pada bapak kis lelaki tua berkulit gilap itu tentang nenek yang telah membuka gerbang nuraniku, dimanakah gerangan keluarganya? Dia hanyalah selembar daun kering yang tak lagi jelas pohonnya. Lalu bagaimana asal usulnya? Dahulu dia pelacur…

Meledak berserak perisai nalar ini mendengar tutur yang nyaring dari mulut bapak kis, aku yakin daun telingaku masih dalam posisinya sehingga aku tak salah dengar. Lalu cerita mengalir bahwa Bapak setengah tua ini adalah satu-satunya saksi hidup yang masih perduli dengan keadaan nenek itu.

Sejak masih remaja dia sudah mengenal mudanya nenek itu. Perempuan yang kini berderai kerut itu dahulu menjadi pelacur di daerah timur Blora. Dia senang menghamburkan usianya pada lompatan ratusan benih yang dilukir nilai rupiah hingga mendarat pada degradasi konsumen seiring usia yang menua.

Seperti itu terus sampai bentuk tak lagi menjadi layak untuk dipadu, terdampar pada sisi jalanan dan gelaran pasar di lepas malam sampai akhirnya dia menua dan berlabuh di kedai reyot ini. Kenyataan itu sempat menohok empatiku seolah hendak mencabut kaedah kisah pilu yang berawal dari silap pribadi.

“Aku sudah mengikutinya semenjak kenal dia, akupun menghabiskan hidupku mengikutinya sampai dia setengah menyerah pada hidupnya dan sedikit nurut pada arahanku..kubuatkan dia kedai semampuku agar dia bisa menetap sebab itulah batasan yang dia berikan padaku dan aku bersyukur dia mau menetap, karena aku sadar aku sendiri sudah tua dan tak sanggup melanglang mengikuti jejaknya lagi.

Semenjak aku mengenalnya, dia layaknya bidadari yang turun dari kayangan, tak jelas keturunan dan tak satupun kerabat yang terekam ada dalam ingatanku, dia hanya berkata telah lari dari rumah dan mencapai kebebasan dengan caranya sendiri.” Tutur bapak kis sedikit nanar membuka kisah masa lalu mereka. Aku masih duduk namun jiwaku tersungkur dalam keranda sunyi dan hampa, terbata logikaku merangkai untaian kata bapak kis sampai lepas heranku bagaimana bisa kedua orang tua ini di pertemukan menyatu namun terpisah oleh sebuah dinding? Bagaimana bisa bertahan dan menyertai kembara lingkar waktu pada tumpu yang suram?.

Secangkir kopi yang tak lagi hangat melepas rancu fikiranku, sementara nenek itu belum kembali dari ritual pagi, terus bapak tua itu mengumbar celoteh tentang masa mudanya namun aku terburu dungu pada lamunku me reka-reka serpihan asumsi atas kejanggalan realita. Nenek itu menggapai bilangan waktu seorang diri, selalu menjadi petarung untuk dirinya sendiri, mengabaikan nikmatnya sebuah timangan regenerasi.

Seperti inikah ujung nasib seorang pelacur? Lalu semakin aku terusik dengan ladang asumsiku, tak sanggup aku menahan tanya dalam batin, kuberanjak dari kepungan batin dan melontar kata pada bapak tua itu. Mengapa bapak sebegitu setia mengambil peran dalam sejarah nenek itu? “Tidak hanya satu, dua kali aku mengajak dia menikah, mungkin sudah ratusan kali. Tapi dia selalu menolak ajakanku..dia berkata aku terlalu baik untuk jadi suaminya dan dia terlalu kotor untuk diperistri.

Dia malah menyuruh aku menikah dengan perempuan lain dan akhirnya akupun menikah dengan perempuan lain. Tapi rasa welas ini tetap tidak dapat hengkang. meski aku sudah beristri, aku masih rutin menemuinya walau hanya untuk sekedar tahu keadaannya.

Terkadang bertemu di sudut pasar, pinggir jalan, tak tentu pijakannya tetap aku mencarinya, bahkan sampai sekarang aku masih selalu ingin melihatnya. Maka aku buatkan kedai ini agar dia mudah kutemui dan aku juga tidak susah mencari, karena aku dan dia sudah tua, sudah tidak kuat melanglang buana. Andai saja dahulu dia mau berpikir panjang dan menghargai dirinya sendiri lalu mau menikah denganku, tentu dia tidak akan sebatang kara di gubug reyot buatanku ini. Kalo sekarang ini ya sudah terlambat, tinggal menunggu waktu saja”.

Ternyata cinta telah menjadi atmosphere di antara kedua insan sepuh ini, menyergap lentera kecil alam sadar insan manusia dan memberontak secara gerilya di antara justifikasi. Label yang telah lekat tidak lagi menjadi timbangan kuat atas nama cinta. Perangai demi perangaipun seolah menjadi sebuah kastil yang sengaja di bangun dalam dinding hati memperkokoh nilai-nilai intensitas welas.

Adapun penyesalan telah terkemas dan lebur dalam uzur usia menjadi rahasia di antara senyum yang terbingkai dalam lautan kerut. Jika bapak tua mampu menampik pedoman hina, namun nenek itu kukuh pada sabda strata enggan mengait bejana agar berpijak di tempat yang lebih mulia. Tapi, benarkah itu nek? Jika akhirnya kau layu mengering seorang diri, apakah prinsip nilaimu menjadi takaran emas yang layak? Semburat tanya ini tidak kucari jawabnya. sengaja kusimpan untuk diriku sendiri, sekedar sepenggal tanya memadu di hadapan Tuhan. (AK/ TN).