Home Nasional Konsistensi Warga Pati Menolak Indocement

Konsistensi Warga Pati Menolak Indocement

2266
0
SHARE
Kuliah Bersama Rakyat dilakukan dengan turun langsung ke masyarakat menjadikan ilmu yang dipunyai menjadi bermanfaat

SEKAT.CO, Pati – Selasa, 3 Oktober 2017, sejumlah akademisi lintas universitas dan lintas disiplin ilmu berkumpul di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Mereka bertemu dengan warga yang berpolemik terkait rencana penambangan dan pendirian pabrik semen oleh PT. SMS (Sahabat Mulia Sakti/ anak perusahaan Indocement/ Semen Tiga Roda). Pertemuan tersebut dilaksanakan di Omah Kendeng, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, dari mulai pagi hari.

Pertemuan di Omah Kendeng dihadiri setidaknya oleh warga Pati, Rembang, Kudus bahkan Grobogan. Selain itu juga hadir mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas. Di kesempatan tersebut, warga menyampaikan kronologi masuknya perusahaan semen di daerahnya yaitu sejak mulai masuknya PT. Semen Gresik (Persero) Tbk di Kecamatan Sukolilo di tahun 2006. Upaya perusahaan plat merah ke Sukolilo tersebut berhasil digagalkan lewat penolakan konsisten warga baik lewat jalur litigasi di PTUN maupun non litigasi. PT Semen Gresik (Persero) Tbk kemudian hengkang pada tahun 2013.

Kuliah Bersama Rakyat sesi diskusi di Omah Kendeng, Sukolilo, Pati, Selasa, 3 Oktober 2017

Pada tahun 2014, anak perusahaan Indocement  yaitu PT. SMS (Sahabat Mulia Sakti) masuk ke Pati. Kali ini menyasar Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo. Warga masih bahu-membahu untuk menyelamatkan Pegunungan Kendeng agar tetap lestari. Saat ini proses litigasi masih berjalan di mana pada 6 Maret 2017 lalu Mahkamah Agung memutus kasasi yang diajukan oleh warga. Saat ini warga tengah mempersiapkan upaya PK (Peninjauan Kembali). Sedangkan di perjuangan jalur non litigasi warga tak henti melakukan kegiatan mulai di tingkat lokal hingga melakukan aksi protes di Gubernuran Jawa Tengah sampai aksi cor kaki di depan Istana Negara, Jakarta.

Warga menjelaskan bahwa dalam proses kasasi warga dikalahkan, namun warga menyayangkan pertimbangan putusan Mahkamah Agung bernomor 4 K/TUN/2017 yang pada intinya menyatakan: “bahwa lokasi tambang pabrik semen PT. Sahabat Mulia Sakti berada di luar areal Kawasan Bentang Alam Kars (KBAK) Sukolilo, maka objek sengketa juga tidak bertentangan dengan Tata Ruang Wilayah Nasional, Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pati sehingga sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik”.

Para akademisi turun langsung ke lapangan bersama warga melihat kenyataan yang ada di pegunungan Kendeng Utara

Terkait dengan hal itu, Pakar Hukum Lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Andri G. Wibisana langsung menanggapi pertimbangan putusan kasasi tersebut, bahwa izin didasarkan pada asumsi atau bahkan kajian yang sesat dan manipulatif. Sebenarnya, meskipun itu benar di luar KBAK, tetapi ada aturan RTRW Nasional, pemerintah memastikan tidak ada kegiatan yang mengakibatkan kerusakan di wilayah kawasan lindung. Secara substantif, putusan Mahkamah Agung keliru, karena basis kajian yang penuh kebohongan.

“Seharusnya pijakannya berdasarkan kajian KLHS, dan Gubernur wajib patuh dan mengikuti KLHS, sesuai Pasal 15 PP Nomor 46 Tahun 2016 tentang KLHS,” jelasnya.

Seperti diketahui bahwa terdapat fakta di mana KBAK Sukolilo khususnya di Kabupaten Pati pada tahun 2005 ditetapkan seluas 118,02 kilometer persegi, namun kemudian menyusut pada Kepmen ESDM pada tahun 2014 menjadi hanya seluas 71,80 kilometer persegi. Artinya ada penyusutan KBAK yang tidak diketahui alasannya seluas 46,22 kilometer persegi. Lokasi penyusutan itulah yang kemudian menjadi lokasi pabrik dan penambangan PT. SMS (Sahabat Mulia Sakti).

Seorang warga Pati Selatan yang turut serta kuliah lapangan bersama para akademisi

Selain itu, penyusutan tersebut bertentangan dengan klasifikasi KBAK sebagaimana Permen ESDM Nomor 17 Tahun 2012, karena sebenarnya lokasi yang menyusut tersebut sesuai fakta terkategori KBAK yang ditandai oleh banyaknya mata air, ponor, gua bahkan sungai bawah tanah. Hal tersebut sama sekali tidak dipertimbangkan oleh Putusan Kasasi, padahal hal tersebut sangat mempengaruhi.

Selain di Omah Kendeng, acara Kuliah Bersama Rakyat ini dilakukan di lapangan, agar para akademisi langsung bisa mengetahui bagaimana kondisi sebenarnya yang terjadi. Bilamana selama ini kuliah sebagian besar di bangku sekolahan, sudah saatnya melihat langsung situasi kondisi di masyarakat sehingga bisa membuat ilmu yang dimiliki bermanfaat.

Gua-gua karst yang tersebar di pegunungan Kendeng pun dimasuki juga oleh para akademisi untuk membuktikan teori dengan kenyataan di lapangan

“Kalau di bangku sekolahan itu kan teori, ketika turun di lapangan inilah prakteknya. Sama-sama belajar arti kehidupan. Dengan turun langsung ke masyarakat, ilmu yang dipunyai baru bisa bermanfaat. Terjun langsung ke lapangan akan membuat kita semua tahu bahwa kenyataan di lapangan mungkin tidak sama dengan kabar yang diberitakan oleh sebagian media massa. Intinya, sama-sama belajar menjadi orang yang peka, yang peduli dengan lingkungan dan masyarakat yang ada,” tutur Gunretno, koordinator JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng).

Setelah berdiskusi, para akademisi yang tergabung dalam Aliansi Akademisi Untuk Kendeng Lestari yang difasilitasi oleh JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng) kemudian turun langsung ke lapangan. Tempat pertama yang dituju adalah Gua Wareh, yaitu tempat PT. Semen Gresik dahulu pernah merencanakan penambangan. Di sana akademisi melihat langsung gua yang dipenuhi oleh air dan terhubung dengan rumah-rumah warga lewat pipa-pipa ainya. Setelah itu para akademisi mengunjungi mata air Sumber Gede. Dari Sumber Gede selanjutnya  mereka menuju ke Gua Pari dan bahkan untuk membuktikannya mereka turut masuk ke dalam gua basah tersebut. Di sana para akademisi melihat langsung adanya aliran bawah tanah yang diketahui menyambung sampai mata air Sumber Gede. Dari mulai lokasi gua, aliran sungai bawah tanah hingga mata air tersebut senyatanya berada dalam IUP PT. SMS, di mana hanyalah satu dari sekian banyak fakta lapangan yang tidak terakomodir dalam Kepmen ESDM Tahun 2014 yang mengalami penyusutan dan juga tidak terakomodir dalam dokumen AMDAL PT. SMS. Dari situ dapat disimpulkan bahwa telah terjadi cacat hukum, kekeliruan, penyalahgunaan, serta ketidakbenaran dan/atau pemalsuan data, dokumen dan/atau informasi sehingga bertentangan dengan UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Terjun ke lapangan melihat situasi secara langsung belajar mengasah kepekaan terhadap lingkungan dan sosial

“Kita saat ini telah secara langsung menyaksikan apa yang terjadi, ternyata banyak kebohongan-kebohongan yang kasat mata, namun bertolak belakang dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh perusahaan maupun pejabat daerah yang disampaikan warga. Pertama; apa yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah yang bilang: “Kenapa Indocement di Pati tidak ditolak?” ternyata adalah bohong. Karena dengan melihat sendiri, ini nyata-nyata membuktikan bahwa warga konsisten dan justru menolak sangat keras Indocement di Pati. Jika tidak ditolak kenapa ada gugatan, kenapa warga terus melancarkan aksi. Saya kira Gubernur Jawa Tengah telah keliru besar dan menampakkan pembohongan publik yang kasat mata,” tandas pakar Hukum Tata Negara dan Hak Asasi Manusia dari Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Herlambang P. Wiratraman.

“Selain itu, mata air, gua maupun sungai bawah tanah ini telah kami saksikan bahkan rasakan sendiri. Ini jelas kebohongan dan kekeliruan yang sangat nyata. Dan kekeliruan serta kebohongan tersebut akan berdampak luas dan besar. Pemerintah dan perusahaan jelas bermain-main dengan nyawa dan hak asasi warganya sendiri, saya kira ini berbahaya,” lanjut dosen lulusan Universitas Leiden Belanda tersebut.

Ketika redaksi sekatcos mengkonfirmasi lewat sambungan piranti selulernya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo belum memberikan jawaban.

Tampak atas, spanduk besar bertuliskan: Usir Indocement dari Pati

Setelah melakukan kunjungan lapangan, rombongan akademisi dan warga kemudian menuju rencana lokasi pabrik PT. SMS yang berada di perbatasan 4 (empat) desa. Mereka disambut sekitar 400 warga sekitar. Kebetulan, lokasi tersebut tepat di atas lahan pertanian warga yang kebetulan sedang ditanami oleh warga. Warga dan akademisi kemudian melakukan aksi berupa orasi, do’a dan brokohan yang kemudian dilakukan aksi pembentangan spanduk besar bertuliskan USIR INDOCEMENT DARI PATI. Spanduk tersebut dengan tegas menyampaikan pesan bahwa kabar tentang tidak adanya penolakan terhadap Indocement di Pati itu tidak benar, seperti yang disampaikan oleh salah seorang warga.

“Sampai kapanpun, kami akan menolak pabrik semen di Pati, karena tanah dan lingkungan ini untuk kehidupan dan untuk anak cucu kami,” pungkas Sri Wianik warga Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. (E21)