Home Gaya Hidup Perempuan Di Luar Kebiasaan

Perempuan Di Luar Kebiasaan

247
0
SHARE
Model Karyn Inder

I

Tak ada salahnya memberi kejutan atau hadiah untuk diri sendiri, sepatu bermerk dengan bandrol yang lumayan membuat kocek sedikit menahan nafas.

Pakaian dengan model yang lebih elegant pun, mau tidak mau aku harus membelinya, selain karena pekerjaan, agar aku bisa terlihat rapi dan tidak berantakan.

Dengan usiaku yang masih cukup dikatakan.. muda, cukup banyak tugas ke luar yang mengharuskan aku untuk bertemu dengan lingkungan baru, orang baru juga tentunya. Agar tidak dinilai serampangan juga ketika berdandan, juga merupakan salah satu caraku untuk menghargai diri sendiri.

Siang itu, sepulang kerja, dengan budget yang sudah aku kumpulkan dan pertimbangkan sebelumnya. Tanpa berpikir untuk ke tiga kalinya, aku melajukan motor matic-ku dengan cepat, lupa jam makan siang. Tujuanku satu, pergi ke pusat perbelanjaan untuk memilih satu atau dua stel pakaian. Tentunya kali ini aku memilih style yang rapi, elegant tak meninggalkan kesan sedikit sentuhan maskulin juga chic dengan harga yang setingkat lebih mahal dari biasanya. Aku merasa bahwa diri ini patut untuk sedikit diberikan perhatian lebih.

Tak terasa, dua jam lebih aku menenggelamkan diri untuk memilih beberapa model pakaian resmi, akhirnya aku dapat dua stel model pakaian resmi yang berbeda, mengeksekusinya lalu pulang. Lelahnya baru terasa, tapi senang karena untuk beberapa momen ke depan, aku tampil dengan style baru.

Bukan tanpa referensi aku memilih kedua model pakaian tersebut, sedikit mengulik dari beberapa majalah mode yang khusus membahas tentang style perempuan dengan kelebihan pada berat badan. Tidak proporsional, itu sudah pasti. Karena dari zaman romantik berabad-abad lalu hingga sekarang, perempuan dengan tubuh langsing semampai tetap menjadi idola juga sebagai trendsetter (jadi merasa tersisih). Ditambah dengan slogan “menjadi cantik, kita harus rela menyakiti diri sendiri”. Menggunakan korset super kencang agar bentuk tubuh semakin terlihat. Ough, damn!! Hal ini tak akan aku lakukan. Menurutku perempuan cantik itu mereka yang sedikit berotot, selain terkesan lebih maskulin juga terlihat lebih sexy karena olah raga.

II

Perempuan sintal ini pun tak ingin kehilangan moment berharganya, ketika mendapat tugas untuk di luar kantor, dia memakai pakaian terbaiknya. Bandrol yang melekat pada pakaian hari itu boleh dibilang berbeda seperti hari biasaanya. Entah apa yang dibawa dalam tas jinjingnya, di luar kebiasaannya yang selalu memakai tas ransel ketika bekerja. Mungkin saja ada beberapa hewan kecil peliharaannya yang ada dalam tas jinjing itu, atau buku agenda kerja dan bisa jadi dia sudah akrab dengan bedak dan lipstik. Entahlah..

III

Beberapa teman di sekelilingnya terlihat aneh melihat pemandangan tersebut. “Sudah kembali ke kodrat ya?” ujar salah satu rekannya. “Kamu, sehat?” tegur rekan lainnya. Pagi itu menjadi heboh dengan perubahan stylenya. Untunglah sebelum berangkat menuju kantor dia sudah menyiapkan mental sekuat baja untuk menangkis segala keisengan yang akan terjadi.

IV

Dengan langkah sedikit tergesa gesa lebih seperti atlet pejalan cepat yang ingin segera menuju finish, segera dia mempersiapkan beberapa kebutuhan yang menunjangnya untuk dapat melakukan pekerjaan di luar. Momen kali ini rapat dengan beberapa orang penting dan sudah pasti dalam situasi formal yang mengharuskan dia untuk duduk berjam jam dalam ruangan ber-AC. Itu pun juga di luar kebiasaannya yang selalu mobile ke sana-ke mari.

V

Hingga larut malam, akhirnya momen yang dianggap penting pun usai dia lalui. Ketika sampai di rumah, dia langsung merebahkan badan di sofa malas merah hati, di sudut ruang kerjanya. Dia merenungi segala hal yang sudah terjadi di hari itu, sejak pagi di mana banyak ranjau yang siap meledak ketika dia melewatinya sampai pada aktifitas duduk seharian yang menguras logikanya.

Ternyata tidak mudah melakukan hal yang di luar kebiasaan, seperti membawa pagar besi ke mana-mana, sebaik-baiknya hadiah untuk diri sendiri jika tidak diimbangi adaptasi yang baik, pun akan runyam.

VI

Tugas tak berhenti di situ saja, keesokan harinya dengan dandanan kembali normal, gaya tomboy dengan rambut yang sedikit terlihat berantakan, terurai sepanjang bahunya. Model rambut yang alami, sedikit bergelombang, dan terkesan “menantang” ketika rambut mulai setengah kering. Setumpuk undangan sudah tertata rapi di bagian tengah meja kantornya, si penaruh undangan tersebut sengaja meletakkan di tengah agar mudah diketahui oleh dia, si penerima undangan. Beberapa undangan bersifat formal yang berhubungan dengan pekerjaan, sebagian undangan makan malam dengan waktu yang hampir bersamaan. Hanya tinggal memilih untuk beberapa undangan yang bersifat pribadi, yang pasti tidak akan memilih undangan dengan pengirim yang berpotensi untuk menularkan energi negatif.

VII

Beginikah rasanya menjadi orang yang dianggap penting, terjadwal dan harus mengikuti beberapa aturan, termasuk dalam berpakaian. “Menyedihkan” paling tidak untuk tipe orang sepertiku yang tak terlalu suka dengan aturan mengenakan pakaian. Hidup yang secara garis besar diatur juga oleh kertas yang menjadi “deadline” untuk beberapa project sangat menguntungkan bagi pihak ke tiga.

VII

“Nah, kalo style begini kan lebih sedap dilihat,” sapa seorang rekan kerja di pagi itu. Style yang lebih casual dengan rambut terkesan berantakan. Tatapan sinis dan cuek tak pernah tertinggal di meja riasnya, hanya sedikit riasan “smokey eyes” dengan lispstik senada yang sering digunakan, nude atau lebih cenderung gelap sedikit memberi kesan gotik.

IX

Selain sibuk menjadwalkan kembali beberapa moment penting ke depan, dia juga harus membuat serangkaian report hasil pekerjaan beberapa waktu lalu. Dengan serius dia mengerjakannya, seolah sedang berhadapan dengan pria pujaan hatinya, tak pernah lepas dari pandangan. Tak mempedulikan orang sekitar yang sudah puluhan kali mondar-mandir melewati meja kerja nya, atau dia juga tak mempedulikan bahwa sedari tadi di kepalanya ada lumba-lumba yang berenang, meloncat ke luar kepala melalui celah rambutnya yang bergelombang.

X

Pekerjaan yang dia lakukan saat ini memang bukan bagian dari cita-citanya, sedari kecil dia selalu memimpikan menjadi seorang penulis, yang selalu produktif dengan beberapa buku dengan label best seller, atau setidaknya nama dia selalu muncul di beberapa surat kabar nasional.

 

(Magani Kinanthi)