Home Sastra Menunggumu

Menunggumu

200
0
SHARE
Aku menunggumu, bulan pun sudah mulai terang dengan cahayanya

Satu jam lagi kita berjanji untuk bertemu, dan sekarang pukul empat sore. Aku berjalan mengarah pada matahari tenggelam, menuju senja. Kita bertemu di taman kota yang dikelilingi hutan pencakar langit. Sore itu aku memutuskan berjalan kaki untuk menemuimu, tak lupa aku menyematkan headset dan memutar lagu kesukaanku. Aku berjalan mengikuti ritme alunan lagu, tidak lambat pun juga tidak cepat, seakan aku menemukan ruang dalam langkah kakiku.

Berjalan melewati beberapa orang yang berlalu lalang, dengan segala emosi yang mengikutinya. sesekali tersenyum tanpa alasan. Aroma khas orang sepulang kerja bercampur dengan asap kendaraan menemaniku di sepanjang perjalanan menuju taman.

Bertemu dengan orang yang mempunyai arti penting, secara otomatis membunuh jarak yang cukup panjang, dan sudah empat puluh lima menit berlalu, langkah kaki, pun sore ini mengabaikan lelah. Pukul lima kurang lima menit aku sampai di taman. Taman selayaknya sebuah pulau kecil di tengah lautan, sebidang taman anyelir merah tumbuh subur, dan beberapa pohon besar memberi batasan pada taman menambah suasana sore ini menjadi indah, untuk menikmati senja.

Aku menunggumu, di kursi panjang dekat dengan anyelir yang sedang bermekaran. Masih juga dengan musik yang menutup lubang telinga, tak menghiraukan suara lalu-lalang kendaraan yang saling terburu menuju tempat tujuan masing masing.

Tiga puluh menit aku menunggumu, lampu kota sudah mulai menyala, kaupun tak kunjung datang. Ponsel yang kupegang juga tak berdering menerima kabar. “Mungkin kamu lupa” atau sedang “terjebak kemacetan di tengah jalan kota yang begitu padat”.

Satu jam aku menunggumu, bulan pun sudah mulai terang dengan cahayanya.

Akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari kursi panjang, menyusuri jalan yang telah kulewati sebelumnya dengan emosi yang berbeda.

Apakah kamu benar-benar lupa?

Apakah kamu benar-benar ada?

Atau mungkin kamu sedang…?

 

(Magani Kinanthi)