Home Sastra Ketika Cinta Berbicara dengan Bahasanya

Ketika Cinta Berbicara dengan Bahasanya

332
0
SHARE
Love Not War. Artwork by Banksy

Hidupku tidak selalu bercerita tentangku sendiri, tetapi juga tentang orang-orang di sekelilingku. Menyilakkan telinga selebar telinga gajah, meluaskan hati seluas bumi, untuk mendengar, berbagi dan saling memahami. Aku ingin selalu bercerita perihal cinta, pun yang ingin aku dengar dari mereka juga tentang cinta. Bukan melulu karena dorongan seksual namun cinta yang lebih universal, karena hanya bahasa cinta saja yang dapat diterima baik oleh siapa pun dan di mana pun.

Kita sangat paham karena mempunyai pengalaman banyak hal, tidak lupa bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan, dengan pemahaman itulah kita mengerti lebih dalam tentang diri sendiri dan orang lain yang berusaha mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Kita juga tahu bahwa dunia tidak selalu berputar mengelilingi kita dengan cinta, namun tetaplah yakin bahwa kita selalu berputar di dunia ini dengan cinta.

Siapa pun kita, bukanlah orang asing yang telah memahami cinta secara utuh. Salah satu alasanku untuk tetap tersenyum di segala musim adalah karena aku punya cinta, pernah dicintai, mencintai dan pernah jatuh cinta. Dan segala penolakan akan terabaikan karena besarnya cinta.

Yang abadi adalah cinta yang bersifat universal, tak ada tendensi.

Kita akan tersenyum ketika melihat situasi universal yang tidak konsisten, tetapi cinta tetap pada bagian yang utuh.

Segala hal yang baik tentang cinta, sampai kapan pun akan selalu menjadikan seseorang dengan segala kapasitasnya dekat di hati kita.

Terimakasih untuk semua hal, semua orang yang mengelilingiku sampai saat ini. Aku hanya melihat cinta dari kalian yang bekerja, saling mewarnai, saling mengisi dan saling memenuhi satu sama lain.

(Magani Kinanthi)