Home Breaking News Markus Tan: Jatuh Bangunnya Karir Profesional Seseorang Karena Karakter

Markus Tan: Jatuh Bangunnya Karir Profesional Seseorang Karena Karakter

670
0
SHARE
Jatuh bangun karir professional karena karakter (Eko Arifianto/ sekatcos)

Blora, sekat.co – Terlepas dari kabar kasus perselingkuhan seorang pejabat publik di Kabupaten Blora yang ditengarai sampai menyebabkan keretakan hubungan rumah tangganya, ada yang menarik dari kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswi SMK Katolik Santo Pius Blora pada hari ini, Jum’at, 10 November 2017.

Acara “Good To Great Character” yang dilangsungkan di wisma yang terletak di lereng pegunungan karst Kendeng Utara bernama Wireskat (Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik), Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Kecamatan Kota Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, selama dua hari ini diikuti sebanyak 123 pelajar putra-putri kelas X dan XI dengan tim trainer Master Brain yang dipimpin lansung Markus Tan dari Surabaya. Dalam sesi awal pagi tadi, disampaikan tentang pentingnya pembangunan karakter seseorang.

Wireskat, Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Kecamatan Kota Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Ada semacam gap kondisi karakter di masyarakat dengan yang ada di pemerintah, seperti ketidakjujuran, korupsi, tidak tanggungjawab, memanfaatkan wewenang, kolusi, dan lain sebagainya. Sehingga, ketika siswa di sekolah melihat kondisinya seperti itu, maka basicnya harus diperkuat di sekolah. Saat pondasi hati nurani dirinya sudah terbentuk, maka dia bisa menjadi pionir. Itu yang bisa mengubah bangsa ini. Hal ini dikarenakan yang terjadi di luar tidak bisa dijadikan contoh. Pendidikan karakter ini untuk membangun karakter dan membantu siswa memproteksi diri supaya mereka punya masa depan yang cemerlang. Kita harus punya action sendiri di lingkungan terkecil seperti di sekolah,” kata Markus Tan sesuai menyampaikan materi 8 Pondasi Pendidikan Karakter selama 80 menit.

Menurutnya hubungan karakter seorang pemimpin dengan nasib masyarakat dan bangsa adalah sangat erat.

Acara “Good To Great Character,” Jum’at, 10 November 2017 (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Memang karakter seorang pemimpin menentukan nasib masyarakatnya. Baiknya kalau ingin mengajukan pemimpin, track recordnya harus diperhatikan betul. Entah itu Walikota atau Gubernur, entah itu Bupati ataupun Wakil Bupati. Salah satu caranya adalah masyarakat musti mengkritisi tentang calon-calon pemimpin yang akan dipilihnya. Kredibilitas dilihat, harus dipilih karakter attitudenya yang bagus, dan akhirnya masyarakat menilai bahwa ini calon pemimpin masa depan. Orang-orang seperti inilah yang bisa diharapkan untuk perubahan Indonesia,” lanjut pakar pendidikan karakter yang sudah berkeliling dari mulai Aceh, Balikpapan, Banjarmasin, Gorontalo, Menado, Maluku hingga Papua ini.

Pendidikan karakter sangatlah penting, karena hal tersebut adalah syarat faktor kesuksesan, seperti di antaranya adalah kejujuran dan kedisiplinan. IQ (Bahasa Inggris: intelligence quotient, kecerdasan intelektual) tidaklah menjamin seseorang itu berhasil. Malahan attitude atau sikap perilaku dan karakter yang baik yang akan menghasilkan pribadi yang unggul.

Landasannya adalah iman kepada Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Kalau melanggar tentu harus mempertanggungjawabkannya.

Paparan materi 8 Pondasi Pendidikan Karakter oleh Markus Tan (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Jatuh bangun karir profesional seseorang karena karakter. Seseorang ahli tapi kalau karakternya “tembre” ya tidak bisa dipercaya. Sudah banyak contohnya. Sebut saja Lance Amstrong, seorang juara Tour De France balap sepeda 7 kali. Hanya gara-gara dia melakukan dopping atau kecurangan dalam kejuaraan, akhirnya 7 gelar juara dicabut, hukuman seumur hidup bagi dia tidak diperbolehkan mengikuti kejuaraan lagi. Selain itu dia diminta mengembalikan semua bonus yang pernah diberikan kepadanya,” jelasnya.

Selain Lance Amstrong, Markus Tan memberikan contoh lainnya, seperti Angelina Sondakh, seorang Putri Indonesia 2001. Seorang perempuan yang banyak memenangkan berbagai kejuaraan. Seorang pengurus DPP KNPI Periode 2008-2011 dan duduk di kursi DPR RI dari Partai Demokrat. Namun gara-gara melakukan ketidakjujuran, terkait kasus Hambalang, dia didakwa menerima uang 33 miliar hingga terancam duapuluh tahun penjara. Contoh lainnya yang masih hangat adalah kasus E-KTP, yang sampai sekarang anggarannya tidak ada, karena uangnya sudah habis dikorupsi.

Acara materi pentingnya pembangunan karakter seseorang diselingi dengan game membangun karakter (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Kalau mereka para pelajar sudah ada di dunia kerja kan mesti harus punya karakter. Saya yang bagian membangun kepercayaan diri, karakter dan keberaniannya. Seperti contohnya dengan praktek langsung berjalan di atas api. Kenapa kita mau jalan di atas api. Karena ada sesuatu yang ingin dicapai atau diraih. Kalau api saja bisa kita lewati, maka semua problem tantangan dan halangannya kita pasti bisa. Api di sini sebagai simbol. Kepercayaan diri ini yang akan angkat nanti, kita tanamkan dalam diri kita,” papar seorang trainer yang pernah melakukan training di sejumlah lembaga perbankan antara lain Bank Indonesia, Bank Mandiri, Bank Permata, Bank Central Asia dan perusahaan-perusahaan seperti di Jakarta, di Freeport, di Kalimantan, di PT Gas Arun, Aceh, dan lainnya.

Kemudian akan dilakukan pula permainan outdoor untuk membangun kerjasama siswa dengan orang lain. Ada orang yang lemah harus dibantu didorong, tidak boleh dihina. Kalau tim sudah terbentuk menjadi suatu ikatan maka tim itu akan solid. Untuk itulah fungsi kerjasama tim itu dibangun.

Pendidikan karakter membangun karakter dan membantu siswa memproteksi diri supaya mereka punya masa depan yang cemerlang (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Pelajar memiliki tanggung jawab dan mempunyai tugas sebagai pelajar. Kalau biasanya mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) disuruh orangtua, disuruh dan didesak oleh guru, sekarang akan kita berikan penyadaran bahwa itu untuk kemajuan masa depan pelajar itu sendiri. Kita akan belajar mengetahui dan membangun karakter sejak di SMK,” jelas seorang trainer yang pernah bekerja di PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

“Orientasinya menjadi orang yang hidup lebih baik. Kebaikan yang dilakukan akan menular, dan nantinya menemukan orang yang berkarakter baik dan kuat. Jadi sekarang masa depan ada pada kalian,” pungkasnya memberikan pesan pada siswa dan siswi yang ada.

Markus Tan bersama Kepala Sekolah dan panitia dari SMK Katolik Santo Pius Blora (Eko Arifianto/ sekatcos)

Di tempat yang sama, Kepala Sekolah SMK Katolik Santo Pius Blora mengatakan bahwa kegiatan pendidikan karakter ini adalah program acara yang ke tujuh kalinya. Kegiatan ini dilakukan hampir setiap tahun sekali oleh pihak sekolahnya.

“Kegiatan ini berawal dari keluhan orangtua terhadap siswa, karena adanya kemerosotan kedisiplinan anak di rumah maupun di sekolah. Ada juga dari alumni yang memberikan testimoni bahwa kegiatan ini berdampak bagus buat siswa. Kegiatan ini masuk dalam Program Kesiswaan. Diadakan satu tahun sekali. Tahun berikutnya nanti kelas XII. Kendalanya pada anggaran biaya yang ada di sekolah. Penginnya sih terus, setahun dua kali untuk kelas X dan XI lalu kelas XII saat Ujian Nasional, sehingga bisa memacu siswa menjadi tanggungjawab untuk penyelesaian materi pelajaran yang ada. Namun karena terbentur pembiayaan masih dilakukan setahun sekali,” kata Y.M. Hendro Cahyono, seorang Kepala Sekolah SMK Katolik Santo Pius Blora sewaktu ditemui sekatcos di Wireskat siang tadi (10/11).

Patung Bunda Maria yang ada di Wireskat lereng pegunungan Kendeng Utara Polaman Blora (Eko Arifianto/ sekatcos)

Setelah siswa mendapatkan kegiatan ini, pihak sekolah selalu mengevaluasi setiap perkembangan. Sampai siswa kelas X naik ke kelas XI dan siswa kelas XI naik ke kelas XII, biasanya ada perkembangan positif yang muncul, tanggungjawab lebih, peningkatan kedisiplinan, dan ketertiban. Untuk masalah pembelajaran dilakukan sambil jalan, tapi untuk karakter dilakukan sedari awal.

“Karena sudah ada tanggungjawab, maka ada tentu saja pembelajaran juga akan mengikuti. Program pemerintah sudah menjelaskan agar peningkatan religi, karakter, sikap, pengetahuan dan keterampilan dilakukan. Untuk pembelajaran nomer sekian. Sikap, karakter dan religinya yang harus kuat terlebih dahulu. Itu disampaikan oleh Pemerintah lewat Permendikbud di kurikulum tahun 2013. Karena sejak tahun 2008 dulu memang kita sudah melakukan, setelah ada legalitas pemerintah dan masuk kurikulum, ini semakin selaras dan kita terus melanjutkannya,” terang Kepala SMK yang mempunyai program unggulan kedisiplinan dan anti nyontek ini.

Sepedamotor para peserta pendidikan karakter di Wireskat, Polaman, Blora (Eko Arifianto/ sekatcos)

“Dalam dua hari ini, kita bangun dan kembangkan karakter dari siswa dan siswi. Silahkan kalau ada waktu orangtua siswa bisa turut menyaksikan,” tuturnya.

Sekitar pukul 11.30 WIB para peserta yang beragama Islam persiapan melakukan ibadah sembahyang Jum’at kemudian dilanjutkan dengan makan siang dan istirahat. (Eko Arifianto/ TN)