Home Breaking News Markus Tan: Bila Contoh Di Luar Tak Bisa Diteladani, Minimal Kitalah Yang...

Markus Tan: Bila Contoh Di Luar Tak Bisa Diteladani, Minimal Kitalah Yang Harus Menjadi Contoh Yang Baik

983
0
SHARE
Acara “Good To Great Character” sesi game Firewalk yang dilangsungkan di Wireskat Blora (Doc. Master Brain)

Blora, sekat.co – Kegiatan bertema “Good To Great Character” selama dua hari yang dilangsungkan di Wireskat (Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik) di Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Kecamatan Kota Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah memang sangat menarik. Selain dilaksanakan di kawasan pegunungan karst Kendeng Utara yang sangat sejuk udaranya, game-game dan penyampaian materinya yang baik, memberikan inspirasi serta membuka kesadaran baru akan pentingnya pendidikan karakter di era moderninasi seperti sekarang ini .

Menurut pimpinan trainernya, Markus Tan Siswantoro, bahwa ada 5 (lima) hal sangat penting yang sangat dibutuhkan untuk menjadi pribadi unggul dalam prestasi, organisasi, professional, pemimpin negara serta pada setiap lini bisnis dan kehidupan. Di antaranya yaitu: confident, character, competence, creative dan connection.

Pelatihan “Good To Great Character” SMK Santo Pius Blora yang dilangsungkan di Wireskat Blora (Eko Arifianto/ sekatcos)

Menurutnya, unsur yang sangat penting lainnya adalah sebuah keteladanan. Hal ini didasarkan pada situasi yang ada sekarang, di mana bahasa yang saat ini lebih dimengerti anak-anak adalah bahasa visual. Tindakan yang ada akan berteriak lebih keras dari kata-kata. Walaupun anak-anak mendengarkan kata-kata perintah, tapi anak-anak juga melihat tindakan orang yang memerintahnya. Bila tindakannya tidak benar, akan menjadikan dia tidak lagi percaya. Sehingga keteladanan ini menjadi sangat penting. Perlu kiranya kehati-hatian orangtua dalam membangun karakter anak-anak. Karena itu, orangtua juga dituntut mempunyai karakter yang baik dan kuat.

“Di sekolah anak-anak dituntut untuk punya karakter yang baik. Ternyata di luar anak-anak melihat karakter yang tidak baik. Mereka buka berita, buka tivi, buka sinetron, isinya perselingkuhan. Isinya macam-macam, termasuk cara-cara mendapatkan keuntungan dari jalan yang tidak halal. Nah, contoh di luar sekolahan seperti itu. Ini adalah hal negatif, tak bisa diteladani. Sementara itu, di sekolah pelajar dituntut untuk berbuat baik. Maka daripada itu, bapak-ibu, minimal kitalah yang harus menjadi contoh yang baik bagi mereka,” kata Markus Tan sewaktu memberikan pelatihan pendidikan karakter pada guru-guru pengajar dan Kepala Sekolah SMK Katolik Santo Pius Blora pada sore kemarin, Sabtu, 11 November 2017 .

Markus Tan memberikan pemaparan tentang Prinsip Keteladanan pada “Good To Great Character”  (11/10/2017) (Eko Arifianto/ sekatcos)

Dengan semangat baru, bersama meningkatkan manusia dengan kecerdasan karakter, pribadi yang berkompeten dalam membangun karakter yang beriman, tangguh dan mandiri dalam mempersiapkan diri dan masa depan yang gemilang.

Kembali ditegaskan Markus Tan, bahwa kenapa pendidikan karakter sangat penting. Alasan pertama karena hal tersebut adalah faktor kesuksesan. Alasan kedua adalah karena sebagai penentu jatuh bangun karir professional seseorang. Dan alasan yang ketiga bahwa karakter ini menentukan nasib masa depan dirinya dan bangsanya.

Di samping itu dia menyebutkan tentang empat kekuatan diri di antaranya adalah kekuatan hati, kekuatan moral, kekuatan ketangguhan dan kekuatan spiritual. Dan lima langkah untuk menjadi The Great Student di antaranya adalah goal atau tujuan yang jelas, bermental pemenang yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, memiliki karakter terbaik, api semangat yang tak pernah padam dan bertanggungjawab.

Dalam 8 pilar pendidikan karakter disebutkan bahwa pengendalian diri adalah hal yang utama. Banyak pelajar sering kesulitan untuk bisa mengendalikan dirinya. Kata Markus Tan, kuncinya adalah kesabaran. Selain itu empati yang merupakan sebuah perasaan yang muncul dari cinta dan kasih sayang. Belas kasih dan permintaan maaf adalah wujud dari rasa empati ini.

Kejujuran disebutkan berikutnya. Karakter ini membentengi seseorang dari pengaruh buruk dan membuat pilihan yang benar meski ada godaan untuk melakukan sebaliknya. Ini bisa menjadi sebuah integritas yang tinggi.  Rasa hormat berarti mengungkapkan penghargaan terhadap seseorang atau sesuatu, seperti pada diri sendiri, orangtua, bapak/ibu guru, orang dewasa, teman dan segala bentuk kehidupan.

Karena sukses kita bukan nasib dan bisa dicapai dengan jerih payah, keringat, air mata dan darah, maka gigih dan kerja keras adalah prasyarat utama.

“Tidak ada orang yang gagal, yang ada adalah orang yang memutuskan berhenti sebelum mencapai sukses,” kata seorang trainer handal yang beralamat di Surabaya ini.

Para guru peserta pelatihan pendidikan karakter sedang memperhatikan dengan cermat materi yang diberikan oleh trainer (Eko Arifianto/ sekatcos)

Syarat berikutnya adalah bertanggungjawab terhadap tugas yang dipercayakan. Bila sebagai pelajar, tanggungjawabnya tak lain dan tak bukan adalah belajar, termasuk mengerjakan PR, mengumpulkan tugas dan lain-lain.

Jangan lupa, bersyukur adalah rasa berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang diterima atau dialami mahluk-Nya. Banyak bersyukur membuat hidup akan lebih berbahagia. Kebaikan hati akan membantu seseorang mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap orang lain seperti memberikan bantuan kepada yang mereka yang memerlukan.

“For things to change, I must change first. Untuk mengubah sesuatu, sayalah yang harus berubah lebih dulu. Succes is in my DNA. I fight to the end! Sukses ada dalam DNA ku. Aku berjuang sampai akhir,” begitu kata-kata bijak Markus Tan yang tertulis pada materi yang dibagikan kepada para peserta.

Inilah sebuah motivasi belajar langkah demi langkah yang diadopsi dari kebiasaan para pelajar terbaik di seluruh dunia yang terbukti berhasil meningkatkan prestasi di sekolah.

Pada hari pertama (10/11) dilakukan game bernama Firewalk. Permainan ini adalah berjalan di atas bara api yang menyala-nyala dengan kaki telanjang.

Raut muka fokus para peserta yang sedang berjalan di atas bara api yang menyala-nyala (Doc. Master Brain)

Firewalk merupakan salah satu cara untuk membangun mental keberanian dan kepercayaan diri. Sebuah kekuatan yang luar biasa dengan berjalan di atas bara api. Kalau api saja sudah berhasil dilewati, tentunya apa lagi yang bisa menahan kita untuk meraih target dan cita-cita.

“Karena permainan tersebut mempunyai tujuan dan makna. Melatih keberanian dan fokus kita pada tujuan,” kata Yohannes Chandra Agung, pengisi Ice Breaking dan permainan-permainan di kegiatan pendidikan karakter.

Ayunkan langkah dengan rasa percaya diri untuk menuju kehidupan yang lebih baik (Doc. Master Brain)

Di permainan outbond para trainer melatih pengertian siswa terhadap sesama. Seperti game untuk melatih kesabaran dilakukan dengan memindahkan karet dari titik A ke titik B dengan menggunakan sedotan, yang diletakkan di mulut, tidak menggunakan tangan. Para siswa harus menjaga agar karetnya tidak jatuh. Lalu ada juga permainan untuk melatih kerjasama, yaitu trainer mengikat kaki siswa satu sama lain dan kemudian meminta mereka untuk berjalan. Hal tersebut untuk melatih pengertian dan kerjasama tim. Kalau siswa ingin berjalan sendiri-sendiri tentu akan sakit, bahkan bisa terjatuh. Lalu ada permainan melatih daya tahan. Trainer meminta siswa untuk berjalan lumayan jauh, dari pintu masuk sampai ke belakang menjadi sebuah lingkaran dengan bola dipegang di tengah dengan menggunakan tali. Hal ini untuk melatih daya tahan mereka dan fokus konsentrasi, karena di tengah jalan juga ada rintangan-rintangan.

Intinya berhasil adalah tetap senyum, berani melangkah dan tetap fokus pada tujuan (Doc. Master Brain)

Awalnya ada beberapa yang takut, namun karena ada yang berani jadi bisa memberikan inspirasi kepada yang lainnya. Hingga akhirnya semua siswa-siswi yang berjumlah 123 orang beserta guru-gurunya semuanya mencoba berjalan di atas bara api.

Terkait dengan resiko luka bakar di game Firewalk ini yang ditanyakan oleh sekatcos, salah seorang trainer Master Brain menanggapinya.

Seorang trainer, Yohannes Chandra Agung turut mencoba sensasi berjalan di atas bara api (Doc. Master Brain)

“Saya sendiri juga mencoba. Di beberapa titik ada yang melepuh. Tapi gak terlalu berpengaruh. Karena kita menginjak bara api itu hanya sepersekian detik. Kemudian melangkah lagi dan lagi. Yang penting keberanian untuk mencapai tujuan dan fokus,”  lanjut Yohannes, yang juga seorang editing video dan photographer di Master Brain.

Setelah selesai permainan, terlihat para siswa lebih gembira dan lebih bertambah percaya dirinya.

Gerbang Wireskat (Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik) di Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Kecamatan Kota Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah (Eko Arifianto/ sekatcos)

Lalu terdengarlah yel-yel slogan. “SMK Berkarakter!” kata trainer.” “Good to great character!!! jawab para siswa dengan kompak.” Dan sorakan-sorakan penuh semangat terdengar : “Ho-ha- ho-ha… Yesss…!!!”  (Eko Arifianto/ TN)