Home Breaking News Menuai Banyak Kritik, DPRD Blora Tak Bergeming

Menuai Banyak Kritik, DPRD Blora Tak Bergeming

1872
0
SHARE
Alana Surabaya Hotel, Jl. Ketintang Baru I No.10-12, Ketintang, Gayungan, Surabaya

SEKAT.CO, Blora – Setelah workshop peningkatan sumber daya manusia bertema Implementasi Pelaksanaan Permendagri No. 62 Tahun 2017 tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah serta Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Dana Operasional pada 10-12 Oktober 2017 di Hotel Gets Semarang, pembahasan rancangan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) pada 23-26 Oktober 2017 di Suites Hotel Surabaya dan kegiatan workshop dengan tema Inovasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan PP 38/2017 pada 15-17 November 2017 di Hotel Novotel Solo yang beberapa waktu lalu cukup banyak mendapat sorotan media cetak dan kritikan masyarakat karena adanya modus memperpendek waktu kegiatan yang berindikasi pada tindak pidana korupsi, dugaan serupa ternyata masih dilakukan pula oleh oknum DPRD Kabupaten Blora dalam pembahasan Ranperda (Rancangan Peraturan Daerah) Kabupaten Blora 2017 kemarin di Surabaya.

Menurut undangan yang tertulis tertanggal 16 November 2017, acara pembahasan Ranperda dilaksanakan pada Selasa, 21 November 2017 sampai dengan Jum’at, 24 November 2017 di Alana Surabaya Hotel, Jl. Ketintang Baru I No.10-12, Ketintang, Gayungan, Surabaya. Ranperda yang dibahas ada 6 (enam), yaitu: 1. Pembentukan Peraturan Daerah, 2. Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, 3. Penataan Perumahan dan Kawasan Permukiman, 4. Penyelenggaraan Pendidikan, 5. Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di Desa, dan 6. Irigasi.

Undangan tertanggal 16 November 2017 tentang Acara Pembahasan Ranperda Kab Blora 2017 (sekatcos)

Susunan acara dalam 4 (empat) hari tidak seperti yang direncanakan. Menurut keterangan dari sumber yang bisa dipercaya, ada peserta yang terlambat datang. Ada pula informasi bahwa di hari kedua dan ketiga peserta sudah banyak yang pulang meninggalkan ruang pertemuan yang membahas peraturan perundang-undangan untuk kemajuan dan kesejahteraan Kabupaten Blora berikut masyarakatnya. Sungguh disayangkan bila anggaran ratusan juta rupiah untuk membahas Ranperda yang menyangkut hajat hidup banyak orang tidak dilaksanakan dengan baik serta cenderung dilakukan dengan serampangan dan main-main. Bahkan mirisnya, dari 45 anggota DPRD yang melakukan pembahasan, hanya sekitar 10 persen peserta yang mengikuti awal hingga akhir kegiatan.

Ketika dikonfirmasi oleh sekatcos, karena mengikuti jadwal kegiatan yang ada, beberapa orang dengan tenang menjawabnya. Namun sebagian lainnya lebih memilih diam, seolah tak tahu-menahu apa yang telah terjadi di hotel bintang 4 Surabaya kemarin tersebut.

“Wonten pripun sing mantuk wingi? Walah.. Kula kok malah mboten dugi… Masalahe… Masalahe… Masalahe kamare… dewe-dewe… dadose mboten begitu anu kula…. Mboten begitu…..,” kata Moh. Sahari yang juga sebagai Wakil Ketua Pansus I Pembahasan Ranperda Kab Blora 2017 dengan bahasa Jawa terbata-bata.

Terkait dengan berapa jumlah peserta yang masih tersisa dan turut melaksanakan rapat pembahasan Ranperda di Surabaya, Kamis (23/11), Sahari mengatakan bahwa tidak hapal berapa jumlah pesertanya dan menyarankan untuk menanyakan langsung ke Bagian Legislasi Sekwan Blora.

Salah satu kamar yang ditempati peserta pembahasan Ranperda di Alana Surabaya Hotel (sekatcos)

“Wah, nek ngoten niku kula nggih mboten apal, wong ngoten niku sing tandatangan, nek urusan tandatangan kalih bagian legislasi. Nek bagian niku kula mboten dong… Dadose kita sampai selesai.. Nek soal sing pulang-pulang ngoten niku kula mboten nganu, mboten nganu. Sing penting pada waktu pembahasan, sing mbahas, cuman kula nggih ora ngetung, opo nganu kabeh opo mboten. Wong sing penting kan, hhmmm, nek ngoten niku kan, kita sing penting kan nopo niku, ssshhhhhh, hhhhhhhhh, sing penting hadir saat niku, mpun dho, soal nganu kula mboten ngetung, sing penting, mpun dimulai ya kita ikut, ngoten mawon,” kata seorang tokoh dari Fraksi PKS yang dikenal apa adanya tersebut dengan bahasa campuran Jawa dengan Indonesia.

Namun sewaktu sekatcos mencoba menindaklanjuti dengan melakukan konfirmasi lewat telfon ke Kepala Bagian Legislasi Sekretariat DPRD Blora, Widodo Prasetya Budi, SH, M.Si, kata seorang perempuan yang kemungkinan istrinya, Pak Widodo sedang flu berat dan habis diperiksakan ke dokter.

Tempat parkiran kendaraan di Alana Surabaya Hotel (23/11) sore hari sudah terlihat sepi (sekatcos)

Keterangan lainnya diberikan seorang anggota DPRD dari Fraksi Golkar Dapil III, Sutamsu, yang pada pelantikan dan pengambilan sumpah jabatannya pada 24 Desember 2016 bersumpah akan menjadi wakil rakyat yang amanah. Kebetulan di dalam Keputusan DPRD Kabupaten Blora No.172.3/36/2017 tentang Pembentukan Panitia Khusus Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Blora di Lampiran I, Sutamsu masuk dalam susunan keanggotaan Pansus I, yang pada Jum’at (24/11) baru pulang ke rumah dengan naik kereta api dari Surabaya, kemudian turun di Stasiun Cepu dan dijemput anaknya.

“Ee… nganu.. Nek dantene kan sami mbetho lan ngastha mobil. Nek kula kan nyepur, ngoten.. Dadi nggih ingkang mbetho anu nggih mboten ngertos kula.. Wong kamar niku mawon, wong sak kamar, bener sak hotel, niku, nek sing keri sinten sing mboten sinten, mboten ngertos niku. Nganu, kok, nggih pripun nggih.. Nek kula nggih ngentosi sak bakdhane. Nek (acara pembahasan Ranperdanya-Red) ditutup nggih nembe wangsul. Ngoten mawon. Nek dereng ditutup nggih dereng wangsul kula.. Jadwale kan ngantos niki wau (Jum’at, 24/11) nggih,” jelas Sutamsu sambil pamit lewat telefon untuk menunaikan ibadah sholat Isya’.

Daftar jenis dan harga kamar yang ditawarkan di Alana Surabaya Hotel beserta fasilitasnya (sekatcos)

Berbeda dengan Sutamsu, salah seorang Komisi B (Bidang Perekonomian dan Keuangan) bernama Susanto juga memberikan penjelasan, bahwa dia kemarin (24/11) check out dari hotel sekitar pukul 12.00 WIB. Karena kebetulan handphone miliknya error, sekalian dibetulkan di THR Surabaya.

Terkait dengan sebagian peserta yang sudah mendahului pulang sebelum jadwal selesai, politisi dari Partai Demokrat ini menjawabnya dengan bijak.

“Maaf ya, mas mungkin kurang tepat kalau saya yang memberi penilaian ke teman-teman yang lain. Akan lebih tepat kalau penilaian terhadap kinerja teman-teman yang menilai dari pihak luar, termasuk teman-teman LSM dan media. Semoga dengan kontrol dan koreksi dari teman-teman bisa membuat kinerja teman-teman dewan menjadi lebih baik lagi,” katanya lewat sambungan seluler.

Karena acara sudah selesai, tampak ruang pertemuan di lantai 7 sudah dibersihkan dan ditata ulang penempatan meja-kursinya untuk digunakan pihak pemesan lainnya (23/11) (sekatcos)

Sore hari Kamis (23/11) sekatcos mencoba crosscheck ke lokasi. Nampak ruang pertemuan sudah tertutup dan tak nampak orang di dalamnya. Padahal jadwal susunan acara pada hari itu pukul 13.00 -16.00 WIB adalah pembahasan Ranperda tentang Peraturan Perundang-undangan Desa dengan petugas Tim Perancang Peraturan Perundang-undangan dari Kanwil Kemenkumham Provinsi Jawa Tengah serta peserta dari Pansus I, Bagian Hukum dan Bagian Pemerintah Desa.

Ketika sekatcos konfirmasi ke pihak hotel, baru kemudian dibukakan pintu dan mengambil dokumentasi gambarnya. Dikatakan bahwa ruangan ini adalah ruang pertemuan yang digunakan untuk rapat pembahasan DPRD Blora. Namun karena acara sudah selesai jadi ruangan dibersihkan dan penataan meja-kursinya diganti untuk pemesan lainnya. Acara DPRD Blora hanya tinggal nanti malam pukul 20.00 WIB yaitu makan-makan.

Ruang pertemuan Angsana yang digunakan rapat telah terpampang tulisan Nusantara Traisser (24/11) (sekatcos)

Jum’at (24/11) di dekat pintu masuk ruang pertemuan Angsana pada bagian bawahnya tertulis: Nusantara Traisser. Sepertinya adalah pihak lain yang menyewa ruang pertemuan tersebut untuk kegiatannya. Perlu diketahui bahwa Nusantara Traisser ini adalah salah satu pelaku usaha jasa pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia yang menyediakan dan menyelenggarakan program pelatihan bagi peningkatan kompetensi tenaga kerja industri baik di tingkat nasional maupun global khususnya untuk para tenaga teknis khusus di lapangan seperti bidang perminyakan yang beralamat di Jl. Raya Gayungsari Barat No. 62 Surabaya. Sebuah hal yang agak menggelikan memang, ketika di jadwal susunan acara pembahasan Ranperda Kabupaten Blora 2017 di hari Jum’at, 24 November 2017 pukul 08.00-10.00 WIB adalah kegiatan berupa Kesimpulan Akhir/ Penyampaian hasil pembahasan Ranperda dengan petugas dari Tim Perancang Peraturan Perundang-undangan Kanwil Kemenkumham Provinsi Jawa Tengah serta peserta dari Pansus DPRD dan Tim Pembahas Kabupaten Blora, sedang ruang pertemuannya sudah digunakan oleh lain pihak.

Di Alana Surabaya Hotel ini, informasi untuk harga sewa kamar per malamnya sangat bervariasi, dari mulai kelas Superior Special Rate Rp 500.000,00; (Lima ratus ribu rupiah) hingga kelas Suite Special Rate seharga Rp1.000.000,00; (Satu juta rupiah) dengan berbagai fasilitasnya seperti spa layanan lengkap, kolam renang indoor, Wi-Fi gratis, unit komputer, tempat parkir gratis, restoran dan bar, pusat kebugaran, antar-jemput ke bandara, resepsionis 24 jam, AC dan layanan pembersihan harian.

Kembali ke ruang pertemuan. Pembahasan Ranperda di Alana Surabaya Hotel kemarin dibagi menjadi dua ruangan, yaitu ruang pertemuan Albasia dan ruang pertemuan Angsana. Susunan kursi peserta menghadap ke depan, dengan bagian depan ada layar monitor yang terbuat dari kaca sebanyak 2 (dua) layar dalam satu ruangan.

Ruang pertemuan Albasia sebelah samping ruang Angsana yang digunakan untuk pembahasan Ranperda (sekatcos)

Karena foto yang dikirimkan sekatcos untuk konfirmasi adalah foto paska ruangan pertemuan dibersihkan dengan meja-kursi yang sudah ditata-ulang oleh pihak hotel, Ketua Pansus I Pembahasan Ranperda Kabupaten Blora 2017, Dra. Dwi Astutiningsih, dalam statemennya menyanggah bahwa foto yang sekatcos kirimkan adalah bukan ruangan pembahasan Ranperda.

“Lho, sik, mas, iki ruangan opo e? Salah, mas, itu bukan ruangannya, iku foto seko endi?” sanggah politisi dari Fraksi PDI-P ini sambil memberikan pertanyaan balik.

Namun ketika sekatcos mencoba menanyakan apakah yang bersangkutan mempunyai dokumen foto kemarin sewaktu rapat pembahasan di ruang pertemuan lantai 7 Hotel Alana Surabaya yang telah dilakukannya, sampai saat ini belum ada balasan.

Karena seperti yang telah sekatcos catat dalam check lokasi kemarin (23/11), bahwa di lantai 15-18 adalah Executive Floor. Lantai 8-12 adalah Rooms, tempat kamar-kamar peserta menginap. Lantai 7 adalah Meeting Rooms, ruang pertemuan dan Musholla. Lantai 6 adalah Body Wellness & Spa, Swimming Pool, Pool Bar, Drug Store. Lantai 5 adalah Meeting Rooms, Onfive Rooms dan Musholla. M adalah Oryza Coffee Shop dan Phoenix Lounge. L adalah Lobby dan Cinnamon Cake Shop.

Peta lokasi Alana Surabaya Hotel di Jl. Ketintang Baru I No.10-12 Surabaya (sekatcos)

Hingga berita ini diturunkan, tidak adanya jawaban juga diberikan sebagian besar peserta pembahasan Ranperda Kabupaten Blora 2017 yang dihubungi sekatcos melalui WhatsApp, termasuk Kepala Bagian Hukum Setda Kabupaten Blora, A. Kaidar Ali, SH. MH., serta Ketua DPRD Kabupaten Blora, Ir. H. Bambang Susilo, ketika dikonfirmasi terkait dengan temuan di lapangan berupa dugaan memperpendek waktu kegiatan yang dilakukan kembali oleh sebagian besar oknum anggota dan pimpinan dewan.

Diketahui bahwa uang untuk kegiatan pembahasan Ranperda Tahun Anggaran 2017 adalah sejumlah Rp 486.787.000,00; (Empat ratus delapan puluh enam juta tujuh ratus delapan puluh tujuh ribu rupiah), yang meliputi: 1. Belanja BBM = Rp 3.822.000,00;, 2. Belanja Kebutuhan Peserta = Rp 10.340.000;, 3. Belanja Spanduk = Rp 800.000,00; 4. Belanja Penggandaan = Rp 2.875.000,00; dan 5. Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah = Rp 468.950.000,00;    (E21)