Home Breaking News Hati-Hati ! Tindak Kriminal Penipuan dan Perampasan Perhiasan Bermodus Gendam Penglarisan Beroperasi...

Hati-Hati ! Tindak Kriminal Penipuan dan Perampasan Perhiasan Bermodus Gendam Penglarisan Beroperasi di Blora

726
0
SHARE
Endang Dwi Purwanti (43), warga Karangjati yang menjadi korban tindak pencurian dan perampasan dengan cara gendam atau hipnotis (TN)

Blora, sekatcos Rabu Pon (29/11) Pukul 05.15 WIB. Seperti biasanya pada pagi hari, Endang Dwi Purwanti (43), seorang ibu beranak dua, jalan-jalan di dekat rumahnya yang beralamat di Jl. Blora-Rembang KM.3, sebelah Selatan Kantor Pertanian. Karena teman-teman yang biasanya jogging sama dia sedang membantu acara orang hajatan, pagi itu Endang jogging sendirian.

Tempat kejadian perkara ini berada di depan bengkel Teguh Jaya, yang terletak di Jalan Raya Blora 2,5 KM, Desa Karangjati, sebelah warung kopi dan depan depo pasir. Di depan bengkel per tersebut pagi itu terlihat kendaraan Avanza warna hitam berplat “N” dengan posisi menghadap ke Utara. Setelah melihat Endang yang sedang jogging, seorang laki-laki berpeci hitam berumur sekitar 35 tahun keluar dan bertanya:

TKP (Tempat Kejadian Perkara) Perampasan dengan cara gendam ada di depan bengkel Teguh Jaya, Jl. Raya Blora 2,5 KM Desa Karangjati Kecamatan Kota Blora (TN)

“Assalamu’alaikum, Mbak…”

“Walaikum salam, Mas…”

“Nderek tangklet, Mbak…. Jurusan Ngawen niku pundi nggih? Kula saking Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, niki badhe tuwi putrane Pak Kyai Sholeh sing sakit stroke. Kyaine kula kawit ndik wau dalu niku wiridan, dzikir kok mboten purun ngendikan.”

“Nggih ngeten, Mas, niki njenengan wangsul ngidul. Mangke nek sampun dugi Tugu Pancasila, njenengan nganan lurus mangke dugi Alun-Alun. Trus belok kiri terus nganan lurus arah Purwodadi,” jawab istri dari Slamet Riyadi (50), dengan tak mempunyai prasangka buruk pada orang asing tersebut.

“Sakniki ngeten mawon, Mbak. Njenengan ngendikan mawon kalih Pak Kyaine,” kata lelaki berpeci agak berewokan tersebut seakan benar-benar minta tolong.

Menurut Endang, terlihat di dalam mobil ada dua orang. Satu orang laki-laki paruh baya berkacamata, berkostum baju lengan panjang, bersarung dengan memakai kopiah warna coklat. Orang tersebut dipanggil dengan sebutan Pak “Kyai”. Kisaran usianya 60 tahun. Satunya lagi adalah seorang sopir, laki-laki berusia sekitar 30 tahunan. Sementara itu, laki-laki yang mengantar tadi, berdiri dekat pintu mobil, seperti menjaga dari sesuatu hal yang tak mereka inginkan.

Orang yang dipanggil “Kyai” tersebut lalu mengajak Endang bersalaman. Setelah bersalaman, Endang merasa bahwa ada sesuatu hal yang berbeda. Perasaannya seperti merasa was-was. Hati Endang menjadi tak tenang dan gelisah.

Namun karena memang berniat ingin membantu orang yang salah jalan, Endang tetap menjelaskannya. Setelah menjelaskan arah perjalanan ke Ngawen, Endang dipersilahkan duduk di kursi mobil.

Berikutnya Endang ditanya soal keluarganya, berapa anaknya, pekerjaannya, dan lain-lain. Orang yang dipanggil “Kyai” tersebut lalu mendo’akan semoga anak-anaknya menjadi anak yang sholeh-sholihah, dan keluarga Endang diberikan rejeki yang barokah.

Rumah yang sekaligus Warung Sate Kambing milik Mbak Endang di sebelah Selatan Kantor Pertanian Kab Blora (TN)

“Sekarang perhiasan yang ada di badan Anda copoti, Mbak, mangke kula paringi do’a, mesti gangsar rejekine njenengan. Syarate… Njenengan tumbas sabun pethak (putih-Red) kangge siram, mangke toyane dipun pendet saking musholla, “ kata orang yang dipanggil dengan Pak “Kyai” tersebut.

Si Sopir seketika itu berkata: “Sampun… Njenengan mboten usah tumbas, mbak… Niki kula gadhah kok,” kata sopir sambil mengambilkan sebuah sabun di dekatnya.

Sebungkus sabun lalu diterima oleh Endang. Seingatnya, sabun yang diberikan warna putih bermerk Shinzui. Endang lalu melepas bagian atas bungkus sabun tersebut hingga menjadi terbuka. Setelah bungkusya terbuka, sabun beserta bungkusnya diberikan lagi kepada orang yang dipanggil dengan sebutan “Kyai” tersebut.

Tak lama kemudian Endang lalu mencopoti perhiasan yang dia kenakan. Cincin satu per satu dia lepaskan dari jari-jemarinya. Gelang satu per satu dia buka dari pergelangan tangannya. Semuanya dimasukkan dalam kotak bungkus sabun yang dipegang oleh Pak Kyai”. Beberapa saat kemudian Endang disuruh berdo’a agar tujuannya bisa segera terkabulkan.

Waktu berdo’a dan memejamkan mata itulah kemungkinan besar bagian bawah bungkus sabun tersebut dilepas, dan perhiasan yang dimasukkan dijatuhkan ke bawah. Kemudian dengan cepat dimasukkan uang logam seribu koin putih dan lima ratusan koin kuning untuk penggantinya sebelum Endang selesai membaca do’a dan membuka mata.

Bungkus sabun lalu dibungkus lagi dengan tas plastik dan ditekuk hingga menjadi bungkusan kotak dan diberikan kepada Endang. Dia diwanti-wanti agar jangan membuka bungkus tersebut dan memberitahu orang sebelum sampai di rumahnya. Agar apa yang diinginkan berhasil, ini merupakan pantangan yang harus ditepati. Setelah mendapat pesan itu, Endang lalu turun dari mobil, dan seperti tak tersadar segera lari ke rumah tanpa alas kaki. Mobil Avanza hitam langsung tancap gas balik kanan menuju arah Selatan meninggalkan Endang dalam ketidaksadaran.

Bahkan waktu itu ada seorang yang kerja di depo pasir mengetahuinya. Dikiranya Endang berbincang dengan saudaranya yang baru datang dari jauh. Sambil bercanda saksi mata tersebut sempat berseloroh bercanda dan bertanya:

“Kowe mau dikek i opo, Mbak?”

Karena ingat peringatan dari Pak “Kyai”, Endang tak menjawab dengan lesan. Sambil lari tangannya yang memegang bungkusan tersebut digerak-gerakkan, seakan-akan menjelaskan bahwa ia diberikan benda tersebut. Ketika ada suara “ecek-ecek” di dalam bungkus sabun, Endang merasa bahwa perhiasan masih ada di dalam wadah.

Namun ketika sampai di rumah dan bungkusan dibuka, betapa kagetnya Endang karena melihat perhiasannya sudah tidak ada. Raib dan berganti dengan uang koin seribu dan limaratusan logam. Seketika itu Endang langsung histeris dan mengambil sepeda motor berniat mengejar mobil Avanza warna hitam yang telah menipu dan membawa lari hasil keringatnya selama ini.

Proses Endang terhipnotis sangat singkat. Tak sampai 10 menit, seluruh perhiasan berupa 3 buah cincin dan dua buah gelang senilai Rp10 juta raib digondol oleh begal berkedok “Kyai”.

Sejak itu Endang seperti orang linglung. Mau bicara susah dan mau memberitahukan ke orang lain tidak bisa. Hingga siang hari pukul 14.00 WIB perasaan dan amarah Endang masih meluap-luap. Namuni dia tak mampu bicara dan memberitahukan kepada orang lain. Tenggorokan seperti tersekat dan tercekik. Mulutnya seperti tersumpal. Endang hanya bisa berteriak-teriak, menjerit dan meraung-raung. Hingga akhirnya dipanggillah beberapa orang pintar di Blora dari berbagai pelosok daerah untuk dimintai pertolongan. Setidaknya ada 4 orang paranormal yang turut membantu menyadarkannya, dari mulai Ketangar, Karangjati, Badong hingga Bogorejo.

Sewaktu dilihat dengan mata batin, untuk menghilangkan penyebab yang membuat Endang seperti tak waras, akhirnya sabun yang sudah berisi dengan energi gendam tersebut dilarung (dihanyutkan-Red) ke sungai. Alhamduliilah, kesadaran Endang berangsur-angsur kembali pulih.

“Jangan sampai modus kejahatan yang dilakukan pada saya ini terjadi lagi pada masyaakat Blora lainnya. Seandainya ada orang yang melakukan modus seperti ini lagi, langsung segera diwaspadai,” kata Endang mengingatkan.

Walaupun sudah terjadi seminggu yang lalu, kejadian tersebut membuat Endang sampai saat ini merasa trauma, seperti kemarin sewaktu ada acara pagelaran Barongan di Alun-Alun Blora (5/12).

“Saya sempat didekati orang, menanyakan alamat dokter mata Abdul Madjid. Saya terus terang masih ketakutan, lalu pergi ke arah warung nasi goreng dan meminta tolong pada penjualnya untuk menjawab pertanyaan orang asing tersebut,” kata Endang dengan seperti masih terbayang-bayang kejahatan gendam yang belum lama ini menimpanya.

Terkait dengan tindak kejahatan tersebut, ketika dikonfirmasi, Kepala Kepolisian Resort Blora mengatakan kalau saat ini pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan terhadap tindak kejahatan pencurian dan perampasan perhiasan dengan cara gendam atau hipnotis di wilayah Blora tersebut.

Kepala Kepolisian Resort Blora, AKBP Saptono, S.I.K, M.H. (Dok. Polres Blora)

“Saya sampaikan kepada masyarakat, terkait dengan penipuan modus seperti itu supaya tidak terulang kembali. Apalagi saat ini menjelang Hari Jadi Kabupaten Blora, Hari Raya Natal dan Tahun Baru,” himbau AKBP Saptono, S.I.K, M.H.

Terkait dengan isu “penarikan uang” bila masyarakat melaporkan tindak kejahatan ke kepolisian, langsung dijelaskan oleh Kapolres:  “Laporan itu gratis tidak pernah dimintai uang. Kalau ada anggota saya berbuat seperti itu, akan langsung saya tindak,” tegasnya. (TN)