Home Breaking News Kepala Dinrumkimhub Kab Blora Tinjau Rusunawa dan Taman-Taman di Cepu

Kepala Dinrumkimhub Kab Blora Tinjau Rusunawa dan Taman-Taman di Cepu

646
0
SHARE
Ir. Samsul Arif, Kepala Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Kabupaten Blora saat meninjau Rusunawa, Tambakromo, Cepu (5/12)

Cepu, sekatcos Walau masih gersang, siang itu, Selasa (5/12) Rusunawa (Rumah susun sederhana sewa) terlihat megah. Sengatan terik matahari seperti menambah daya tarik bangunan yang terletak di Kelurahan Tambakromo, Kecamatan Cepu itu. Bangunan lima lantai yang merupakan program dari Kementerian Pekerjaan Umum Bagian Cipta Karya, yang telah dimulai pengerjaannya pada akhir 2014 lalu ini terlihat mewah. Sekilas, tidak nampak kesan kesederhanaannya, karena lebih mirip apartemen mewah di perkotaan pada umumnya.

Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Kabupaten Blora saat meninjau Rusunawa, Cepu (5/12) (sekatcos)

Rombongan dari Blora langsung disambut oleh Sunarko, seorang Staf Dinas Perumahan, Permukiman, dan Perhubungan Kabupaten Blora yang merupakan penanggung jawab pengelolaan Rusunawa yang berdiri di lahan pertanian eks bengkok kelurahan seluas kurang lebih empat hektar ini.

“Orang mampu tidak boleh masuk sini. Dari 99 kamar, saat ini masih 15 kamar yang masih kosong. Penggunaan mulai Februari 2017 kemarin. Iya, nek pengin ngoyak penuh sebetulnya sangat cepat, mas, tapi kan harus berdasarkan syarat dan prioritas. Kriterianya sudah berkeluarga, berpenghasilan di bawah Rp2 juta dan warga Cepu. Dulu pertama dari Balun dan Tambakromo, terus meluas ke satu Kecamatan Cepu,” jelas Sunarko.

Sunarko, seorang Staf Dinas Perumahan, Permukiman, dan Perhubungan Kabupaten Blora yang merupakan penanggung jawab pengelolaan Rusunawa (sekatcos)

Rumah susun berlantai 5 yang terletak di belakang SMP Negeri 1 Cepu ini telah dibuka sejak Februari 2017. Anggarannya menelan Rp15,8 milyar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jumlah kamar ada 99 kamar dengan luas per petak 5×5 meter, dengan 2 kamar di lantai bawah yang dikhususkan untuk penyandang difabel.

“Ukuran petak per kamar 5×5 meter.Biaya sewa kamar per bulannya berbeda-beda. Dari mulai lantai 5 yang biaya sewanya Rp50 ribu, lantai 2 biaya sewanya Rp125 ribu, lantai 3 sewanya Rp100 ribu, dan di lantai 4 biaya sewanya Rp75 ribu. Untuk listrik dan air bayar sendiri sesuai penggunaan. Kadang ada yang habis Rp50 ribu hingga Rp200ribu.” lanjutnya.

Karsini dan suaminya, warga yang tinggal di lantai 2 Rusunawa (sekatcos)

Di Rusunawa tersebut juga tinggal sepasang suami-istri. Karsini, seorang warga kelahiran Magetan yang sudah tinggal di Cepu selama 30 tahun bersama dengan suami. Kalau malam Karsini berjualan di Taman Seribu Lampu. Karsini dibantu oleh suami jualan ayam goreng, bebek goreng, lele goreng, dan tempe penyet. Hasil dari jualan di Rusunawa dipakai bayar sewa Rusun, sedang hasil jualan di Taman Seribu Lampu dipakai untuk makan sehari-hari. Menurut keterangannya, di Rusunawa ini Karsini bayar sewa per bulan untuk kamar Rp125 ribu, bayar penggunaan air Rp22 ribu, dan penggunaan listrik Rp35 ribu-38 ribu.

“Dulu sebelum tahu ya bayar nya sampai mahal, terus akhirnya saya padamkan lampu kalau malam agar hemat pembiayaan,” kata Karsini.

Rusunawa Cepu walau masih terlihat gersang tapi sudah terkesan mewah (sekatcos)

Terkait dengan fasilitas yang diberikan sudah layak ataukah ada masukan, Karsini menjawab:

“Menurut saya, fasilitasnya sudah cukup, Pak. Kula manut kalih Pak Samsul, kepalane, manut kalih Pak Narko, pengelolane. Ngeten mawon sampun seneng,” kata Karsini sambil tersenyum dengan didampingi suaminya.

Beda Karsini beda pula yang dikatakan oleh Sumiran, seorang laki-laki warga Balun Cepu, yang tinggal di lantai 3 Rusunawa.

Sumiran (66) tahun dan istrinya yang mengeluhkan ketiadaan lapangan pekerjaan (sekatcos)

“Nggih niku, masalahe kula nggih kerjaan, niki sampun ilang. Padahal niki kula perbulane mbayare 100rb kangge kamar, toya sak listrike 125rb. Riyin kula tahun 1970 sampun mbecak. Anak kula 4, sing manggen mriki 2,” tutur Sumiran (66) yang sering sakit-sakitan.

Setelah menilakukan tinjauan di Rusunawa, di Kelurahan Tambakromo, Kecamatan Cepu  rombongan melanjutkan ke beberapa taman-taman di daerah perkotaan Cepu.

Menurut Ir. Samsul Arif, Kepala Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Kabupaten Blora, revitalisasi Taman Seribu Lampu rencana akan dianggarkan nanti di Tahun Anggaran 2018 senilai 2,1 milyar.

“Iya, nanti konsepnya adalah taman tematik. Kalau dulu yang namanya taman itu kan pasti mindsetnya hijau, semua tanaman. Sekarang gak bisa. Yang paling bagus itu fifty-fifty. Yaitu separo hijau separo untuk komunikasi. Sedangkan untuk instalasinya, rencana kita mau minta pipa angguk yang asli pada Pertamina dan loko yang asli pada Perhutani. Soalnya kalau tidak asli kok kayaknya kurang ngeh,”  katanya.

Seorang bapak yang sedang tidur pulas bersama anaknya di bawah rindangnya pepohonan Taman Seribu Lampu, Cepu (5/12) (sekatcos)

Terkait dengan masih banyak pedagang kaki lima, tuna wisma, gelandangan, sampah, yang ada sekarang Kadinas langsung menanggapi.

“Kalau kondisinya kayak ini, tidak ditata dan ditempatkan pada tempat tertentu, selamanya ya gak akan bisa dinikmati. Publik termasuk anak-anak dan keluarga kan kurang bisa menikmati bila kondisinya seperti ini. Untuk rencana ke depan nanti, semua Pedagang Kaki Lima (PKL) akan dipindahkan di dekat SD Internasional, jadi yang sini khusus untuk taman tematik yang sarat dengan edukasi,” kata Samsul Arief.

Taman Air Mancur Simpang 7 yang saat lintrik padam sehingga tidak terlihat semprotan keindahan air mancurnya (sekatcos)

Tibalah rombongan di Taman Air Mancur Simpang Tujuh, Cepu. Sayang sekali pada hari itu listrik padam, sehingga keindahan gerakan air mancur dan lampu hias warna-warninya tidak kelihatan.

Di Taman Tuk Buntung terlihat beberapa anak perempuan yang sedang berkumpul, sepertinya sedang mengerjakan sesuatu. Di dekatnya ada kertas, balpoint, gunting, sedotan, dan lain-lain.

Patung Arjuna dan Kresna dengan menaiki kereta dalam perang Bharatayudha dengan model ibu-ibu cantik Dinrumkimhub Kabupaten Blora (5/12)(sekatcos)

“Ini tugas organisasi dari Saka Bhayangkara sebagai syarat pelantikan.Kita buat rambu lalu lintas, bahannya terbuat dari kardus. Biar tidak kembar, kita lalu bikin sistem undian. Biasanya setiap Minggu sore latihannya di Polsek Cepu. Dari Polisi Satuan Lalu Lintas biasanya juga datang,” kata Tika seorang pelajar dari SMK 1 Cepu.

Ketika ditanya kenapa memilih Taman Tuk Buntung sebagai tempat berkumpul dan belajar bersama, Tika menjawab:

Tika dan kawan-kawannya sedang mengerjakan tugas Saka Bhayangkara di Taman Tuk Buntung (sekatcos)

“Anggota Saka Bhayangkara kan banyak, ada sekitar 100 lebih, laki-laki dan perempuan. Jadi kita pilih di sini, karena tempatnya luas dan gratis,” jawabnya sambil tangannya sibuk menggunting sedotan bersama kawan-kawannya Mira, Putri, Novi dan Tika.

Selain Taman Seribu Lampu, Taman Tuk Buntung, Patung Arjuna Wiwaha, Taman Air Mancur Simpang Tujuh pada hari itu juga mendapatkan tinjauan langsung dari Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Kabupaten Blora. (TN)