Home Jejak Nusantara Kaki Kaki Yang Terluka

Kaki Kaki Yang Terluka

562
0
SHARE
Patmi, seorang kartini pejuang Kendeng yang telah gugur mempertahankan alam lingkungannya dari ancaman pabrik semen

Kaki Kaki Yang Terluka

-untuk yu patmi dkk

ia telah terbiasa menjejak apa saja pagi buta itu. menyimpan lembab tanah pada ujung kuku dan guratan duri pada telapak kaki, menjadi rajah bagi kesuburan tanah.

ia telah terbiasa menyangga langit, menjaring matahari, dan menyimpan teriknya pada seluruh tubuh. menjadi saksi juga prasasti bagi anak cucu. lalu orang-orang kota datang dengan kemajuan. melukai waktu dengan target dan harapan. seperti nota tagihan yang membekap jantung dan kepalamu:

dengarlah, nyanyian angin ujung jati dan gemerisik batang bambu di sekujur kendeng itu, tinggal mimpi di sepanjang hari. juga gerimis yang menebal di arus sungainya, siap menjadi genangan di kolong dipan. rumah-rumah memendam kesabaran, mungkin malah kecemasan. ikan dan batu-batu kehilangan kampung halaman. tak ada lagi ingatan, tak ada jalan pulang. kini, siapa yang mampu menafsir akar padi yang menancap di kedalaman rekah tanah?

mungkin tak sepenuhnya. mungkin tak selamanya, harapan-harapan menjelma racun pada setiap pagi. tapi lihatlah hari-hari kita sekarang: masa depan datang selalu bersama penyesalan. lantas melukai udara dengan pestisida. siapa yang mampu bercakap dengan nasib, membaca legam kulit petani di sepanjang kali tanjang?

angin musim panas pun datang. berpindah dari sumur satu ke sumur yang lain. antrian yang kita kenal dari potret kalender kantor pemerintah. cerita tentang kemakmuran yang terus bernavigasi, sebelum akhirnya padam. Meninggalkan angka merah pada laporan statistik. lalu kita diam-diam membuka catatan lama. serupa permintaan maaf, tapi terlambat. dan ibu-ibu itu terus melampah, menjejakkan rajah bagi kesuburan tanah: benih doa yang terus berkelana, mencari siapa yang mampu membaca

: kaki kaki itu telah terluka.

 

Purbo, Lampung-Blora 2016-2017