Home Daerah Kembali Anak Ontang Anting Menjadi Korban Embung Bantuan PT Semen Indonesia

Kembali Anak Ontang Anting Menjadi Korban Embung Bantuan PT Semen Indonesia

980
0
SHARE

SEKAT.CO, Rembang – Setelah pada Minggu (15/10/2017) menenggelamkan seorang bocah bernama M Kais Nur Kafid (13), embung bantuan PT Semen Indonesia di Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem, kemarin, Sabtu (27/1/2018) kembali meminta korban. Jenazah dua korban baru ditemukan sore hari sekitar pukul 19.00 WIB kemarin oleh tim SAR dan BPBD Kabupaten Rembang.

Dua korban tenggelam kali ini bernama Febry Prabowo (17) warga RT 01 RW 04 Dukuh Ngelo Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, dan Aminanto (20) warga RT 05 RW 05 Dukuh Ngelo Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem, Rembang. Seperti M Kais korban tenggelam tahun 2017 lalu, kedua korban yang meninggal tenggelam kali ini adalah juga anak ontang anting (anak laki-laki tunggal semata wayang).

Embung Tegaldowo bantuan dari PT Semen Indonesia di Rembang

Kejadian ini langsung mendapat tanggapan dari seorang sedulur Sikep yang tinggal di pegunungan Kendeng Dukuh Kembang Desa Jurangjero Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora.

“Nek koyo panggonan ngono iku biasane panggonane Gundreng lan Bajul Putih,” kata Joko (53), yang akrab dipanggil dengan sebutan Mbah Joko Kembang, Minggu (28/1).

Kejadian berawal ketika siang hari sekitar pukul 09.00 WIB, dua korban bersama dengan tiga temannya memancing ikan di embung. Melihat saat tengah hari pukul 12.00 WIB, Dodik, salah seorang temannya terpeleset dan tenggelam, secara spontan mereka bersama-sama menolong ingin menyelamatkan.

Namun malang tak bisa ditolak. Dodik yang tenggelam bisa berhasil diselamatkan, namun rekannya yang bermaksud menolong, dua di antaranya malah menjadi korban di embung yang mempunyai kedalaman hingga 8 meter tersebut.

Lanjut Mbah Joko, bahwa biasanya pemerintah dan pihak perusahaan dalam membangun sesuatu itu hanya membangun saja, tidak pernah dipikirkan bagaimana dampaknya.

“Koyo embung digawe yo digawe ae, koyo dalan tol dibangun yo dibangun ae, rasane kok ora tau dipikirno kepiye dampak lan korbane mbesuke,” terangnya dalam bahasa Jawa yang fasih.

Sewaktu ditanyakan kenapa yang menjadi korban adalah anak tunggal (ontang anting atau semata wayang), Joko mengatakan bahwa menurutnya, hal itu merupakan sumber energi yang besar bagi para penunggu halus di sana.

Proses pencarian korban tenggelam oleh tim SAR dan BPBD Kab Rembang

“Lha iku iso dadi kekuatane bangsa alus sing njupuk ning kono. Isa dadi sangsaya luwih sekti lan digdaya. Senajan suk uga iso wae njupuk angger bocah lan ora kudu bocah ontang anting,” kata spiritualis sekaligus paranormal ini.

Memang, menurut kepercayaan orang Jawa, ada istilah bocah sukerta, yang berarti seorang anak atau bocah yang bisa selamat setelah melalui proses ruwatan dan selametan dengan pementasan wayang kulit dengan lakon Murwakala. Salah satu bocah sukerta ini adalah anak ontang anting atau anak laki-laki tunggal. Jika sudah diruwat, bocah sukerta tadi dipercaya tidak menjadi mangsa Bathara Kala sehingga bisa selamat hidupnya.

Menurutnya, kejadian kecelakaan yang terus berulang dan mengakibatkan banyak korban jiwa ini, dikarenakan orang Jawa tidak diuri-uri dan perhitungan Jawa tidak digunakan lagi.

“Nek wong Jawa ora diuri-uri lan petung Jawa ora dienggo, yo bakal koyo ngono iku, tetep akeh korban, dadi bujat lan rusak negarane. Sing dienggo malah ora Jawa, padahal wong-wong iku dho manggon ning tanah Jawa,” pungkasnya. (E13)