Home Daerah Ketika Mei Mencari Maiko di Rumah Kediaman Pramoedya

Ketika Mei Mencari Maiko di Rumah Kediaman Pramoedya

987
0
SHARE

SEKAT.CO, Blora – Dari balik rana muncul seorang wanita Jepang dalam kimono berbunga-bunga besar. Wajahnya kemerahan. Ia melangkah pendek-pendek dan cepat. Mukanya bundar dan bibirnya bergincu dan selalu tersenyum. Rambutnya terkondai. Ia langsung duduk di samping tuan rumah. Waktu tertawa nampak salah sebuah gigi serinya dari mas.

Itulah sepenggal kisah perempuan bernama Maiko dalam salah satu halaman Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia. Seorang perempuan yang berasal dari Nagoya, Jepang, yang karena kemiskinannya, memilih jalan hidup menjadi pemuas nafsu para laki-laki berduit. Dalam kisah tersebut diceritakan, dari Jepang dirinya mencari peruntungan dengan menjual diri ke Hongkong. Dari Hongkong dirinya dijual majikannya ke Singapura. Dari Singapura, dirinya dijual lagi ke Betawi, hingga sampailah dia di Wonokromo, Surabaya. Perjalanan itu ditempuhnya dengan deraan pukulan dan penganiayaan. Luka lebam, sundutan rokok, hingga penyakit menular diterimanya untuk sebuah perjuangan kehidupan yang lebih baik.

Syaiful A Garibaldi dan Mei Homma di salah satu kedai teh dan kopi di Blora kota (TN)

Siang ini, Senin (5/2), beserta rekannya, Syaiful Aulia Garibaldi (32), salah seorang gadis Jepang bernama Mei Homma (32), tiba di Blora untuk menelusuri kisah Maiko dan para perempuan penghibur senasib lainnya.

“Pramoedya merupakan salah satu penulis penting di Indonesia. Saya berharap bisa menemukan data, entah itu berupa tulisan tangan, buku, kliping ataupun informasi lesan terkait dengan perdagangan wanita-wanita Jepang yang dikirim ke Indonesia,” kata Mei dalam bahasa Indonesia sedikit lancar, sambil menikmati kehangatan teh di salah satu sudut café di Blora kota.

Mei Homma (32) di depan rumah bersejarah tempat Pramoedya Ananta Toer dibesarkan (TN)

Menurutnya, berbeda dengan Jugun ianfu yang merupakan wanita yang dipaksa menjadi pemuas kebutuhan seksual tentara Jepang yang ada di Indonesia dan negara-negara jajahan Jepang lainnya pada kurun waktu tahun 1942-1945, human trafficking atau perdagangan manusia, ini terjadi pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Wanita-wanita yang diperdagangkan kebanyakan dari Jepang bagian Selatan, seperti Nagasaki dan Kumamoto. Para wanita tersebut, secara illegal dibawa naik kapal oleh para broker, lalu dikirim ke beberapa wilayah termasuk Asia Tenggara seperti Indonesia, hingga Brazil dan Afrika.

Soesilo Toer (81) di ruang perpustakaan PATABA, Jetis, Blora (TN)

“Terkait dengan data itu, coba nanti saya bantu carikan, siapa tahu ada. Tidak tahu ada penelitian tentang hal itu soalnya. Tapi kalau di Moskow dulu, saya punya banyak teman perempuan Jepang: Fakuko, Imoto, Shintani, Adachi. Banyak teman-teman. Kalau kuliah mereka tidur, kalau ditanya tapi bisa. Pinter-pinter orangnya,” kata Soesilo Toer (81), pendiri sekaligus pengelola Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) yang ditemui di rumah kediamannya.

Di tahun 1859 dulu, terang Mei, walau kepercayaan orang Jepang terhadap pelacuran itu kurang baik, tapi masih ada toleransi. Perempuan pelacur bisa menikah dengan orang umum dan bisa kembali menjadi orang kebanyakan bila sudah meninggalkan dunia pelacurannya. Beda dengan kepercayaan bangsa Eropa, seperti orang Belanda dengan VOC nya, yang berfikir seakan-akan wanita pelacur itu bukan manusia dan cenderung memandang rendah mereka.

Mei saat berdiskusi dengan pendiri dan pengelola perpustakaan PATABA, Soesilo Toer (TN)

“Saat ini orang-orang Jepang punya kepercayaan berbeda dengan para leluhurnya. Sekarang, orang modern, sikap dan kepercayaannya mirip dengan orang kulit putih kolonial Belanda. Kalau dulu, pas musim panas di Jepang, karena suhunya cukup panas, orang gak pakai baju itu biasa, tapi sekarang tidak lagi. Atau seperti di pemandian umum, wanita dan pria mandi bareng juga gak apa-apa, tapi sekarang tidak lagi. Dulu pelacuran di Jepang itu legal, sekarang menjadi illegal,” tandasnya kesal.

Menurut keterangan Mei, jumlah perempuan Jepang yang diperdagangkan dulu ada sekitar 10.000 hingga 20.000 orang, bahkan lebih. Tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Batavia, Surabaya, Ambon, Medan, Makasar, dan di kota-kota besar pelabuhan lainnya.

Perbincangan lintas generasi yang hangat di Perpustakaan PATABA, Blora (TN)

“Yang jelas, sebelum Jepang masuk ke Indonesia secara militer tahun 1942, di Blora itu ada toko Jepang, namanya Mikado. Mikado itu ahli membuat sumur, cari air. Itu kan sering muter. Letak tokonya di daerah Koplakan, pusat kota, dekat pasar, sebelah timur kantor Polsekta sekarang. Di samping buka toko, dia juga sebagai mata-mata. Jadi seumpama dia keliling kan nggak ada orang yang tahu. Bikin sumur bor, pompa buatan Jepang. Itu orang katanya pangkatnya kolonel. Jadi sebelum menduduki Indonesia, orang-orang Jepang sudah masuk terlebih dulu. Setahu saya kalau di kota Blora cuma satu yaitu Mikado. Bapak saya (Toer-Red) adalah orang pertama yang belajar bahasa Jepang dari dia. Makanya sewaktu Jepang masuk, bapak saya langsung diangkat sebagai Kepala Tonarigumi, Ketua RT (Rukun Tetangga),” terang adik Pramoedya lulusan Universitas Patrice Lumumba (S2) dan Institut Plekhanov (S3) ini.

Menurut cerita Soesilo, dulu orang Indonesia disuruh menganggap Jepang sebagai saudara tua. Japan is old brother. Asia Timur Raya. Sehingga kenapa itulah gampang memikat penduduk Indonesia.

Mei Homma dan mesin ketik Optima milik Pramoedya Ananta Toer (TN)

“Cuma sebentar kok, 3,5 tahun. Waktu akhirnya Jepang kalah, kita Indonesia kan disebut sebagai pemenang ya, untuk daerah Asia Pasifik. Makanya tahun 1958, ketika saya kerja di Bogor, kami dapat hadiah yang namanya pampasan perang. Jadi, Jepang membayar ganti rugi kepada Indonesia itu, kalau gak salah sampai 150 juta dolar. Itu semua pegawai negeri di Indonesia, dapat bagian kain buatan Jepang, namanya kain satin. Satu orang dapat 6 meter,” terang salah satu pendiri PATABA yang telah menulis sekurangnya 29 judul buku ini.

“Sekitar 750 orang mahasiswa Indonesia disuruh belajar di Jepang untuk menuntut ilmu. Dari sana cuma kira-kira 2 orang yang berhasil, lainnya kawin dengan orang Jepang. Gagal. Jatuh cinta sama orang Jepang. Orang Jepang memang aduhai,” lanjut lelaki yang mendapat gelar Doktor dari Institut Plekhanov pada umur 33 tahun ini.

Syaiful A Garibaldi dan Mei Homma di depan sekolah tempat Pramoedya AT dulu belajar di Blora (TN)

“Barusan saya tahu, kalau ternyata anak-anak Toer, seperti Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer adalah pengarang, penulis dan penterjemah. Seperti Pak Soes, seorang Doktor lulusan S3, tapi masih mau menjadi pemulung dan pengoleksi sampah,” pungkas Mei yang rencana akan menikah dengan alumni FSRD ITB tahun ini, di depan sekolah Boedi Oetomo tempat belajar Pramoedya dulu, yang sekarang berganti nama menjadi SMP Negeri 5 Blora, yang beberapa waktu lalu heboh dengan berita pungli uang komputernya. (*)