Home Breaking News Peringatan Hari Kartini 2018: Bersama Warga, Kartini Kendeng Menjaga Kelestarian Alam

Peringatan Hari Kartini 2018: Bersama Warga, Kartini Kendeng Menjaga Kelestarian Alam

381
0
SHARE

SEKAT.CO – Dalam memperingati Hari Kartini 21 April, banyak hal yang dilakukan oleh para wanita. Tak terkecuali para perempuan di pegunungan Kendeng yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK). Selama 4 hari (terhitung sejak 10-13 April) mereka bersama-sama mengejawantahkan kembali perjuangan Raden Adjeng Kartini yang merupakan representasi kebangkitan kaum wanita.

“Dalam rangka memperingati perjuangan RA Kartini kali ini, kami melakukan Ekspedisi Kendeng. Memang tidak dengan dandan menor, lomba masak dan lomba rias pada umumnya, tapi dengan merawat sumber-sumber mata air dengan cara memperjuangkan kelestariannya dan membersihkanya dari sampah,” ujar Sukinah (42), seorang Kartini Kendeng dari Tegaldowo Rembang, Kamis (12/4).

Lanjut Sukinah, dalam empat hari ini, ekspedisi yang dilakukan meliputi 4 (empat) kabupaten yaitu Pati, Grobogan, Blora dan Rembang. Kegiatan ini bertujuan untuk menggemakan perjuangan ibu-ibu petani Kendeng, bahwa lestarinya pegunungan Kendeng adalah hal yang penting dan mutlak.

“Perjuangan kami mewakili banyak kaum wanita dari Sabang-Merauke yang juga masih tertindas oleh nuraninya. Kami ingin menggugah rasa saudara-saudara kami sesama kaum wanita yang masih masa bodoh terhadap keadaan lingkungan di sekelilingnya. Yang memaknai kecantikan wanita hanya sebatas lahiriah, yang masih takut memperjuangkan hak-haknya,” katanya.

Menurutnya, bahwa sesuatu yang benar layak dan harus diperjuangkan, walaupun dengan cucuran keringat dan air mata. Sehingga dalam memaknai peringatan Hari Kartini, peran serta wanita dalam melindungi ruang hidupnya demi masa depan anak cucu itu sangat diperlukan. Kecantikan wanita harusnya terpancar dari dalam diri yang nampak dalam perannya berguna bagi sesama dan kehidupan.

“Kami mengajak seluruh wanita untuk bangkit berdiri, berjuang memerdekakan hati nuraninya. Sudah saatnya wanita tidak hanya macak, masak dan manak (merias diri, memasak dan melahirkan anak). Sudah saatnya para wanita turut peduli pada kelestarian alam. Karena bila kita hanya diam saat ruang hidup terancam, kitalah para wanita pertama kali yang akan menjadi korban,” jelas Sukinah, yang juga sebagai koordinator Ekspedisi Kendeng ini.

Memang, dalam catatan perjalanan perjuangannya, para Kartini Kendeng cukup gencar menolak penambangan dan ekspansi pabrik semen di seluruh wilayah Kendeng, mulai upaya hukum yang telah menghasilkan putusan Mahkamah Agung (MA) hingga diputuskan diadakannya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di Pegunungan Kendeng oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 2 Agustus 2016 dan telah selesai dilakukan.

Kedua upaya di atas telah mewajibkan kepada Pemerintah Daerah, baik Kabupaten maupun Provinsi untuk melindungi kawasan Pegunungan Kendeng dari berbagai upaya eksploitasi. Untuk itu perubahan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Provinsi/ Kabupaten yang mendukung pada upaya-upaya kelestarian kawasan karst Pegunungan Kendeng harus segera dilakukan dan segera terwujud guna mencegah kerusakan yang lebih parah, yaitu hilangnya lebih banyak lagi daerah resapan air akibat adanya penambangan.

Dalam kesempatan ini, para Kartini Kendeng mengetuk hati nurani setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan di manapun berada. Termasuk para anggota DPRD, untuk berdiri bersama rakyat memperjuangkan perubahan Rencana Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang berpihak pada penyelamatan alam. Begitu pula hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang ada tentunya tidak hanya menjadi bahan merevisi Perda RTRW, tapi harus dijadikan penentu dalam membuat suatu kebijakan apapun.

Tidak mudah memang dalam 4 hari mengagendakan acara di 4 kabupaten yang berbeda. Namun dengan berbekal semangat yang ada, Kartini-Kartini Kendeng mencoba melampauinya. Selasa, 10 April 2018 pukul 13.00-16.00 WIB para Kartini Kendeng melakukan kegiatan resik-resik sampah di sekitar Omah Sonokeling di Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Keesokan harinya, Rabu 11 April 2018 pukul 10.00 WIB melanjutkannya dengan resik-resik sampah di air terjun Widuri yang berada di Desa Kemadohbatur, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Di hari yang bersamaan pukul 13.00-16.00 WIB melakukan bersih-bersih sampah dan penanaman pohon di dekat mata air Sendang Cokrowati di Desa Cokrowati, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Kamis, 12 April 2018 diskusi bersama warga tentang Tata Ruang Wilayah di Rembang dan Jum’at, 13 April 2018 kegiatan dilanjutkan dengan bersih-bersih sampah di Sumber Sumur Gede di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.

Di Grobogan, selain acara selametan, berlangsung pula rembugan bersama tentang Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Setelah itu dilanjutkan dengan resik-resik di Sendang Cokrowati Todanan, kemudian diteruskan dengan penanaman pohon. Bibit pohon diberikan oleh seorang juru kunci Sendang Cokrowati bernama Mbah Bibit untuk ditanam 7 Kartini Kendeng di area sumber mata air.

Seperti yang disampaikan oleh salah seorang aktifis pelestarian lingkungan dari Komunitas Upat-Upat Bumi.

“Untuk yang di Todanan Blora, jumlah peserta kuranglebih seratusan, Mas, terdiri dari perwakilan dulur-dulur Rembang, Pati, Blora dan Grobogan. Turut hadir pada acara tersebut Kang Gunritno, Koordinator JM-PPK, serta beberapa tokoh masyarakat seperti Dalang Kentrung Mbah Sawin dari Gisik, Mas Wawan dari Candi dan Mbah Sarpan dari Bedingin,” kata Supat (39) dari Desa Dalangan, Kamis (12/4).

Dirinya berharap, semoga kegiatan yang dilaksanakan bisa menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan, sumber mata air dan pohon bagi keberlangsungan kehidupan.

“Termasuk bahayanya limbah plastik, juga kerusakan lingkungan akibat penambangan yang penuh kepentingan sesaat dan jelas akan berdampak merugikan kehidupan bagi anak cucu jangka panjang,” tegasnya.

Menurutnya, begitu banyak akibat yang ditimbulkan akibat hancurnya pegunungan dan keberadaan sampah plastik. Bila sampah tersebut mencemari sumber mata air dan sungai-sungai maka menyebabkan tersumbatnya aliran air yang akan berdampak pada berkembangbiaknya nyamuk malaria dan demam berdarah yang sulit terhindarkan.

Bagi Sukinah, Supat dan masyarakat Kendeng yang faham akan kehidupan lainnya, merawat dan mencegah hilangnya sumber mata air adalah hal mutlak harus dilakukan. Air adalah salah satu kebutuhan pokok bagi semua makhluk hidup. Jika air musnah maka musnahlah kehidupan. Pegunungan Kendeng adalah pegunungan karst yang berfungsi sebagai tempat resapan dan penyimpanan ribuan mata air dan sungai bawah tanah.

“Biarlah air tetap mengalir deras dan jernih untuk menjamin keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk. Lestarinya pegunungan Kendeng demi terjaganya kehidupan harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan,” pungkas Sukinah. (E20)