Home Breaking News Pembunuh Sadis Dua Wanita di Blora, Dikenal Pendiam dan Sopan Oleh Warga

Pembunuh Sadis Dua Wanita di Blora, Dikenal Pendiam dan Sopan Oleh Warga

366
0
SHARE

SEKAT.CO, Blora – Peristiwa pembunuhan sadis yang terjadi di kawasan hutan jati bagian Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngawenombo, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blora, masuk Desa Sendang Wates, Kecamatan Kunduran, pada Rabu (1/8/2018) kemarin, berhasil diungkap oleh Polisi.

Dalam konferensi pers yang digelar oleh Polres Blora, Rabu (8/8/2018) diketahui identitas mayat yang kondisinya hangus terbakar adalah Ferin Diah Anjani (21) warga RT04/RW16 Desa Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Semarang.

Setelah melakukan penyelidikan, tidak lebih dari satu minggu pasca kejadian, polisi berhasil meringkus Kristian Ari Wibowo (31) warga Perum Dolog RT01/RW01 Kelurahan Tlogosari Wetan, Pedurungan, Kota Semarang, seorang Manager Front Office disebuah hotel di Semarang.

Belum usai persoalan tentang Ferin Diah Anjani, Polres Blora, kembali berhasil mengungkap peristiwa  pembunuhan dengan modus serupa, yakni korban ditemukan dalam kondisi hangus terbakar yang terjadi pada (7/8/2011) lalu.

Korban yang hingga kini belum diketahui identitasnya itu, ditemukan oleh warga dalam kondisi hangus terbakar di petak 62-C, Resor Polisi Hutan (RPH) Kalonan, KPH Blora, masuk wilayah Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Blora.

“Saya yang membunuh mereka semua. Untuk korban yang pertama, seingat saya orang Wonosobo, namanya saya lupa. Dulu mobilnya Terios saya ambil, tapi setelah saya gunakan di Bali mobil tersebut ditarik oleh leasing karena mobil kredit. Untuk korban yang kedua ini, saya ambil perhiasannya, yang kemudian saya gadai Rp 4 juta untuk bayar hutang,” ungkap Kristian saat dicecar banyak pertanyaan oleh wartawan dalam press release yang digelar dihalaman Mapolres Blora, Rabu (8/8) kemarin.

Seorang ayah yang sudah memiliki satu orang anak kelahiran Blora, 31 tahun silam, diketahui merupakan anak pertama dari pasangan Sutiyono dan Sri Rejeki. Kedua orang tua Kristian diketahui merupakan warga Desa Kodokan, Kecamatan Kunduran, Blora.

“Saya kaget dengarnya waktu itu, ternyata dua kejadian. Otomatis langsung heboh itu di desa saya. Bahkan saya sempat tidak percaya kalau pelaku pembunuhan itu adalah salah satu anaknya warga saya,” ungkap Bibit selaku Kepala Desa Kodokan.

Bibit kembali mengatakan, Kristian sejauh ini dikenal oleh sebagian warga merupakan sosok anak yang baik dan tidak pernah neko-neko. Semenjak dia lulus kuliah dan menikah pada 2015 lalu, Kristian diketahui telah pindah bersama istrinya ke Semarang.

“Saya dengarnya waktu dulu itu dia selesai kuliah dan langsung dapat pekerjaan di Semarang. Kalau menikahnya, saya sedikit lupa bulannya apa, seingat saya antara tahun 2015. Kalau kedua orangtuanya sampai saat ini masih tinggal di Desa Kodokan,” katanya.

Lanjut kata dia, informasi tentang salah satu warganya menjadi pelaku pembunuhan sadis tersebut sebenarnya sudah ia dengar sejak Selasa (7/8) kemarin. Namun saat itu, ia masih mencoba meraba-raba mengenai siapa sosok gerangan warganya yang menjadi pelaku dalam peristiwa sadis tersebut.

“Saya sempat bertanya-tanya dalam hati dan saya juga sampai datang ke kantor Polisi untuk menanyakan dan memastikan informasi tersebut. Tapi oleh Polisi saya disuruh pulang dahulu, nanti oleh pihak Polres saya akan diberitahu,” jelasnya.

Lebih jauh, Bibit mengungkapkan, dimata tetangga dan lingkungan sekitar, Kristian merupakan sosok anak yang pendiam dan sangat sopan di lingkungan. Bahkan kalau dilihat dari sisi materi, pelaku termasuk dalam kategori keluarga yang mampu dan berada di desanya.

“Anaknya kalau disini itu sopan sekali, bahkan saya tidak pernah mendengar Kristian itu terlibat pertengkaran fisik dengan temannya. Ayahnya itu seorang guru, kalau dari sisi materil Kristian itu termasuk dari keluarga yang sangat mampu. Makanya saya kaget sekali, apalagi motifnya adalah ingin menguasai harta korban,” bebernya.

Kendati demikian, terlepas dari itu semua, Bibit mengakui bahwa dibalik setiap peristiwa yang terjadi pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya sehingga bisa kita ambil hikmahnya untuk dijadikan pelajaran bagi semua pihak.

“Walaupun kita mengetahui kalau anak itu baik dan sopan, tetapi itu semua tidak bisa kita jadikan tolok ukur dan kita jadikan jaminan. Semoga dari kejadian ini ada banyak hikmah didalamnya, sehingga bisa kita petik dan kita jadikan pelajaran. Baik untuk saya pribadi ataupun untuk seluruh warga desa saya,” pungkasnya.

Untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatannya, Kristian terancam akan dijerat dengan pasal 340, 338 dan 366 KUHP dengan hukuman maksimal penjara seumur hidup atau hukuman mati. (A7).