Home Peristiwa Aliansi Barisan Kesetaraan Ajak Masyarakat Suarakan Hak Perempuan dan Kaum Minoritas

Aliansi Barisan Kesetaraan Ajak Masyarakat Suarakan Hak Perempuan dan Kaum Minoritas

329
0
SHARE

SEKAT.CO, Semarang – Isu kesetaraan jender mulai merebak di Indonesia pada tahun 1990-an. Meski demikian, masih banyak yang belum memahami konsep jender dan kesetaraan jender itu sendiri.

Hingga saat ini, kesetaraan jender dan perlindungan minoritas di Indonesia menjadi isu yang semakin banyak diperbincangkan. Isu tersebut semakin menggeliat dengan adanya momentum International Women’s Day (IWD) yang jatuh pada 8 Maret mendatang.

Menyambut perayaan tersebut, Aliansi Barisan Kesetaraan (ABK) menggelar kampanye yang bertujuan untuk mengajak masyarakat bersama-sama menyuarakan hak-hak perempuan dan kaum minoritas.

Kampanye itu digelar di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah Jalan Pahlawan No 9, Mugassari, Semarang Selatan, saat Car Free Day (CFD), Minggu (3/3).

“Kegiatan ini dalam rangka menyambut IWD sekaligus menjaring masyarakat agar terlibat dalam IWD. Kami juga ingin mengajak masyarakat ikut serta menyuarakan hak-hak perempuan, minoritas, hak-hak masyarakat, dan segala hal yang terjadi saat ini. Seperti pengesahan RUU-PKS dan kebijakan lainnya yang berkaitan dengan perempuan dan pekerja,” papar Koordinator Kegiatan dari LBH Semarang, Irnawati.

Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap masyarakat bisa ikut serta bergerak bersama ABK untuk menyuarakan hak-hak perempuan dan minoritas.

Kegiatan yang digelar mulai pukul 06.00 itu dilaksanakan dengan membagi brosur dan menuliskan petisi. Masyarakat yang ingin bergabung dan bergerak bersama ABK membubuhkan tanda tangan, nama, dan secuil kata-kata pada tempat yang telah disediakan.

“Kami juga menyampaikan tentang kasus-kasus apa saja yang sudah terjadi. Hal itu sebagai pengetahuan untuk masyarakat. Siapapun yang memiliki tujuan sama, silakan bergabung bersama kami. Kami berharap, ABK bisa menjadi wadah untuk para pejuang kesetaraan untuk menggaungkan isu-isu yang sedang terjadi saat ini,” ujarnya.

Adapun, ke depan ABK berencana untuk membuat rangkaian agenda yang bersifat terbuka untuk umum. Lokasinya pun berpindah-pindah, mulai dari kampus hingga beberapa ruang publik yang ada.

Untuk diketahui, dibentuknya ABK berawal dari momentum IWD. Melihat organisasi-organisasi yang terkesan bergerak sendiri-sendiri, LBH Semarang pun berinisiatif melaksanakan konsolidasi.

Setelah menggelar konsidasi pertama pada 25 Februari lalu di Kantor LBH Semarang, terbentuklah Aliansi Barisan Kesetaraan (ABK) yang tetdiri dari beberapa organisasi, LSM, maupun individu yang memiliki gerakan dan tujuan sama.

“Saat itu, terbentuknya ABK bertujuan untuk menyinergikan gerakan perjuangan kelompok rentan untuk mencapai kesetaraan,” kata dia.

Ada beberapa isu bersama yang disepakati, diantaranya buruh dan nelayan perempuan, sextortion, kebijakan jender, RUU-PKS, Perda diskriminasi, Perda buruh migran, perlindungan pekerja seks, toxic masculinity, seksualitas dan kampus, serta hak menentukan nasib sendiri untuk perempuan dalam konflik. Namun, dua isu besar yang diangkat yakni kapitalisme dan budaya patriarki.

“Pandangan women’s gender merupakan usaha untuk memberikan gerakan rakyat yang terdiri dari laki-laki, perempuan, minoritas seksual, dan minoritas agama untuk menghancurkan sistem patriarki dan kapitalisme. Hal itu demi membebaskan diri dari bentuk penindasan, penghisapan, kekerasan, serta pemerasan,” paparnya.

Beberapa organisasi yang tergabung dalam ABK diantaranya LBH Semarang, Muda Melawan Perempuan Mahardhika, RPI, LRC-KJHAM, OPSI, LBH Apik, Batanglion, GHRC, AMP, PMII UIN Walisongo, Perempuan Tagar Tegar, Permahi, Perempuan Unnes, Mahasiswa Bergerak, Women March, FH Undip, eLSa Semarang, Fosia, dan beberapa perseorangan. (S4)