Home Peristiwa Kartu Disita, KPM Tak Bisa Menarik Uang Sendiri

Kartu Disita, KPM Tak Bisa Menarik Uang Sendiri

70
0
SHARE

SEKAT.CO, Blora – Tahap pelaksanaan program bantuan sosial (Bansos) saat ini diduga terindikasi kecurangan yang ditimbulkan dari beberapa ulah oknum petugas di lapangan.

Seperti yang mencuat baru-baru ini, keluarga penerima manfaat (KPM) tidak bisa menarik atau mengambil bansos itu sendiri.

Bansos program keluarga harapan (PKH) dan bantuan pangan non tunai (BPNT) yang berbentuk kartu ATM itu, dalam pelaksanaan tahap pencairan diduga dikoordinir oleh salah satu oknum petugas PKH.

Bahkan saat KPM akan ditarik sendiri, mereka tidak diperbolehkan oleh oknum petugas. Seolah jika menarik sendiri itu adalah perbuatan yang lancang karena mendahului petugas PKH.

Seperti halnya yang dialami oleh sebut saja Rini. Rini salah satu warga yang enggan disebutkan identitasnya itu, tinggal di wilayah Kecamatan Jepon.

Rumah berdinding kayu dan berlantaikan tanah dengan ukuran 3 kali 6 meter terlihat sangat memprihatinkan.

Rumah yang ditempati dirinya beserta dua anak dan neneknya itu, semua berdinding kayu dan sempit.

”Monggo silahkan, mas duduk,” ujar wanita berusia sekitar 30 tahunan itu.

Setelah dipersilahkan duduk, Rini pun memulai percakapan pagi itu, ia mengaku hanya mendapatkan BPNT. Itupun kartu BPNT yang dia dapat malah diminta oleh orang yang dia sebut sebagai seorang petugas PKH.

Kartu itu diminta oleh petugas tersebut setelah satu hari dia mendapatkan kartu. ”Jadi kartune tak berikan sekalian PIN, mas,” jelasnya.

Dirinya tau jika ada pengambilan BPNT. Setelah dia mendapatkan kabar dari petugas tersebut.
Kondisi seperti itu bukan dirinya saja, tapi juga dialami oleh saudaranya.

Malahan, saudaranya ini mendapatkan PKH dan BPNT. Semuanya dibawa oleh orang yang dia sebut petugas itu. Jadi saat menarik uang dari bantuan PKH atau BPNT yang melakukan adalah oknum petugas.

Rini dan saudaranya mengaku tidak berani mengambil bansos lantaran takut. ”Aku nek jupuk dewe malah diarani kemlancang mas (kalau saya ambil sendiri saya dibilang lancang, mas),” ujarnya dengan nada pasrah.

Selain itu dirinya juga takut kalau ia memaksa kartu bansos itu diminta, dikhawatirkan nasibnya akan berakhir tragis, salah-salah bisa dicoret dari penerima bantuan.

Ketakutan Rini itu bukan tanpa sebab, karena ia memiliki pengalaman pahit ketika hendak mengambil uang bansos milik neneknya sendiri.

Wanita tua yang berumur sekitar 70 tahun itu dulunya adalah salah satu KPM penerima PKH. Hanya saja pada suatu hari neneknya itu tengah mengambil uang sendiri. Setelah mengambil ternyata malah dimarahi oleh petugas tersebut.

Sementara itu warga lain, sebut saja Sri masih dari Jepon juga. Saat dijumpai dirumahnya, ia mengatakan, dia juga mengalami kartu PKH dan BPNT miliknya itu dibawa oleh seseorang.

Tapi bukan oknum petugas PKH. Dia adalah ketua kelompok KPM. Dan dirinya setiap ada waktu pengambilan selalu mendapatkan kabar dari ketua itu.

”Ya kartu ATM milik saya itu dibawa oleh ketua kelompok kami. Alasannya, kartu itu dibawa agar kartu itu tidak hilang,” bebernya.

Terpisah, Koordinator PKH Blora Nurrohim mengatakan, membenarkan selama ini memang adanya kartu ATM bansos dibawa oleh salah satu orang. Tapi dia memastikan itu bukan pendamping PKH. Kebanyakan yang melakukan adalah ketua kelompok KPM.

”Intinya kami sampaikan pada SDM kami (Pendamping PKH, Red) tidak boleh,” jelasnya.

Kondisi demikian, dia mengaku sering mendapatkan laporan. Bahwa ATM dibawa oleh ketua kelompok. Jika ATM dibawa oleh ketua kelompok menurutnya itu terkadang banyak yang tanpa sepengetahuan pendamping.

”Kami juga memberikan intruksi keras, pendamping agar menyampaikan kepada ketua kelompok, yang mungkin over. jangan membawa ATM milik KPM,” ujarnya.

Tapi Rohim, juga tidak menampik bahwa praktik seperti ini sebenarnya dipengaruhi banyak hal.
Seperti dia menemukan disalah satu ketua kelompok KPM sampai bawa uang Rp 30 juta. Semua itu milik KPM. Karena dirinya mengetahui itu lantas dia memperingatkan. ”Alhamdulillah uangnya dikembali ke KPM masing-masing saya baru tenang,” jelasnya.

Kondisi demikian menurut Rohim, juga terus dia sosialisasikan kepada KPM agar tidak sampai menitipkan ATM kepada ketua kelompok. Apalagi sampai memberikan PIN. Sebab ATM beserta PINnya tidak boleh dibawa pada orang lain. Itu hak KPM. (A7)